Louis Pasteur diakui sebagai bapak ilmu-ilmu mikrobiologi. Salah satu temuannya paling kesohor adalah obat rabies atau anjing gila. Namanya abadi di Kota Bandung.
Artikel ini tayang pertama di Majalah Intisari edisi Oktober 1985 dengan judul "Louis Pasteur, Anak Tentara Pemburu Kuman"
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com -6 Juli 1885, Louis Pasteur berhasil menanggulangi penyakit rabies atau gila anjing, suatu tonggak keberhasilan dalam dunia medis. Tanpa dorongan ayahnya, Pasteur mungkin tidak pernah bisa melakukannya.
Anak laki-laki berumur sembilan tahun itu terbaring dalam keadaan hampir meninggal di ranjang sebuah rumah sakit di Paris. Joseph Meister menderita empat belas gigitan anjing dan anjing itu gila. Dia dibawa dari Alsace yang jauh, karena di Paris ada ilmuwan yang sedang mengembangkan suatu pengobatan baru, namun masih dalam taraf percobaan. Akhirnya pukul 20.00 Louis Pasteur menyingkirkan keragu-raguannya. Dia menyuntik anak laki-laki itu dengan vaksin anti-rabies. Vaksin itu sebelumnya hanya digunakan pada anjing.
Ketika itu tanggal 6 Juli 1885.
Sesudah disuntik dua belas kali, anak sekolah itu pun sembuh. Pasteur menjadi pahlawan kedokteran dunia, padahal dia bukan dokter. Prancis pun merayakan penemuan hebat itu.
Kata mutiara dalam dompet
Louis Pasteur berasal dari kalangan rakyat jelata. Ayahnya semula tentara. Pada umur belum 23 tahun Jean-Joseph Pasteur mendapat bintang La Legion d'honneur dari Napoleon I karena keberaniannya di medan perang. Padahal pangkatnya cuma sersan mayor.
Setelah Napoleon I jatuh, dia terpaksa keluar dari ketentaraan untuk menjadi penyamak dan pedagang kulit di kampungnya, di Jura, Salins. Di sana dia menikah dengan anak tukang kebun, tetangganya. Mereka kemudian pindah ke Dole dan tinggal di rue des Tanneurs (Jl. Para Penyamak Kulit). Rumah mereka yang sederhana di sana kemudian menjadi tempat bersejarah, karena di situlah Louis Pasteur dilahirkan pada 27 Desember 1822.
Kemudian mereka pindah lagi ke Arbois. Di sinilah Louis dibesarkan. Selama di sekolah dasar dan di sekolah menengah (kini College Pasteur), dia belum menunjukkan keinginan menjadi ilmuwan. Ketika umurnya 13 tahun dia malah terlihat agak lamban dibanding beberapa temannya. Soalnya, kalau diajarkan sesuatu dia selalu bertanya-tanya di dalam hal: Apa betul demikian? Apa bisa dibuktikan? Guru-gurunya jadi sering jengkel. Tetapi kepala sekolahnya menganggap Louis hebat dan memberinya semangat.
Louis merasa dirinya seniman dan senang melukis. Sejak berumur empat belas sampai dua puluh tahun, dia banyak melukis wajah, terutama dengan pastel. Hasilnya mengagumkan dan sebagian masih bisa kita lihat sekarang di bekas kediamannya di Paris. Kentara pengamatannya tajam dan tangannya sangat terampil. Kemampuan itu mungkin bisa menjadikannya pelukis besar.
Louis juga senang buku-buku petualangan seperti kisah penemuan Amerika oleh Columbus, kisah penjelajahan Vasco da Gama, dan sebagainya. Kelak dia pun akan menjadi penemu, meskipun bukan penemu tanah baru dan alatnya bukan kapal, melainkan mikroskop.
Louis senang belajar dan ayahnya selalu menyempatkan diri untuk bercakap-cakap dengannya dan meladeni pertanyaan-pertanyaannya. Bekas sersan mayor yang kini mengusahakan kulit itu mengumpulkan uang sedapat-dapatnya agar putranya bisa memperoleh pendidikan yang terbaik.
Dalam dompet kulit milik Louis yang dibuat ayahnya tertulis kata-kata mutiara: "Jangan hanya memikirkan apa yang dikatakan dan dilakukan orang pada saat ini saja." Mungkin sekali kata-kata mutiara itu mendorongnya untuk menjadi ilmuwan terkemuka.
Louis tidak pernah melupakan dorongan ayahnya untuk belajar. Ketika umurnya sudah 54 tahun dia mempersembahkan bukunya mengenai penelitian bir kepada ayahnya. Katanya, semakin tua semakin terasa olehnya betapa contoh dan nasihat ayahnya berpengaruh baik baginya.
Pada bulan Oktober 1838, jadi ketika Louis baru berumur enam belas tahun, dia dikirim ayahnya ke Paris yang jaraknya lebih dari 300 km untuk bersekolah di sana supaya kelak bisa masuk l'Ecole Normale Superieure, yaitu sekolah tinggi yang didirikan oleh Napoleon untuk orang-orang muda yang paling cemerlang di seluruh negara. Louis rindu untuk pulang, sehingga jatuh sakit. Dia dijemput pulang oleh ayahnya dan kemudian dia belajar di Besancon sampai lulus sekolah menengah jurusan IPA tahun 1842. Ternyata calon ahli kimia yang paling mengagumkan di dunia itu cuma mendapat angka pas-pasan saja untuk kimia.
Dalam kenyataan, memang banyak juga orang yang mendapat angka buruk di sekolah akhirnya malah menjadi ilmuwan hebat.
Louis Pasteur diterima di l'Ecole Superieure tahun itu. Namun, karena dia cuma menduduki peringkat kelima belas dari 22 anak yang diterima, dia mengundurkan diri untuk mempersiapkan diri lebih baik. Dia belajar setahun lagi di Lycee Saint-Louis di Paris sambil memberi les untuk meringankan beban ayahnya. Tahun 1843 barulah dia masuk ke l'Ecole Normale. Sekali ini dia menduduki peringkat keempat.
Dia belajar sangat giat. Semangatnya besar, kemampuannya untuk berkonsentrasi tinggi, daya pikirnya kuat dan l'Ecole Normale memberinya kesempatan untuk melakukan penelitian, artinya untuk menemukan hal-hal yang sebelumnya diketahui orang. Dia merasa bahagia di sana.
Menumpang di atas kereta
Baiklah kita tengok zaman Louis Pasteur hidup. Pada masa itu di Eropa Barat orang kaya memang bisa hidup dengan anggun, namun penyakit dan infeksi tidak mengenal kaya atau miskin. Hanya dua dari empat bayi bisa hidup sampai umur lima tahun dan rata-rata orang hidup tidak melebihi umur empat puluh tahun. Kalau orang harus menjalani pembedahan, celakalah dia, karena pembiusan belum dikenal dan banyak pasien meninggal akibat infeksi.
Air leding dan sistem pembuangan air kotor juga belum dikenal, sehingga sering terjadi wabah cacar, campak, penyakit jengkering (scarlet fever), diphtheria dan pes. Baru pada tahun 1831 dikenal vaksinasi cacar, tetapi melindungi diri dari penyakit-penyakit lain belum diketahui. Pengobatan pun masih sederhana.
Sabun masih merupakan benda mewah. Tidak heran kalau orang jarang mandi.
Penemuan mesin uap di satu pihak mendatangkan keuntungan, tetapi di pihak lain juga buruk akibatnya. Orang berbondong-bondong pindah ke kota untuk bekerja di pabrik-pabrik. Mereka hidup berdesak-desakan di daerah miskin yang kotor dengan akibat banyak wabah berjangkit dan banyak pula orang mati.
Bukan cuma manusia yang sakit, tetapi juga ternak ayam, domba dan sapi. Di seluruh Eropa banyak petani dan peternak bangkrut.
Pada masa itu pun belum ada pendidikan gratis di Eropa. Louis Pasteur termasuk orang yang beruntung, karena orang tuanya sanggup menabung untuk membiayai anaknya bersekolah.
Jalan-jalan buruk dan berlumpur. Jalan kereta api belum banyak dan kendaraan umum kebanyakan truk terbuka. Kereta-kereta kuda masih berkeliaran, bahkan sepeda pun belum ditemukan. Tahun 1838, ketika pada umur enam belas tahun, Louis untuk pertama kalinya dikirim ke Paris untuk belajar, dia pun naik kereta kuda. Perjalanan memakan waktu berhari-hari. Ketika itu sedang musim dingin, tetapi Louis dan temannya duduk di atas atap kereta, karena tempat di dalam kereta terlalu mahal.
Ketemu istri bijaksana
Di l'Ecole Normale, Louis paling senang ilmu kimia. Dia terutama tertarik pada kristal dan penemuan pertamanya memang dalam kristalografi. Di sini Louis menjadi asisten Prof. Ballard, yang mengepalai departemen kimia. Dia lulus tahun 1847, lalu mengajar fisika di Lycee (sekolah menengah) di kota Dijon. Kemudian dia ditawari menjadi asisten profesor kimia di Faculte des Sciences di Strasbourg, yang masa itu menjadi bagian dari Prancis.
Dekan universitasnya, Monsieur Laurent, mempunyai tiga orang putri. Ketika Louis melakukan kunjungan resmi yang pertama ke rumah dekan, dia diperkenalkan kepada Marie Laurent, putri kedua pak dekan. Begitu melihat Marie, Louis Pasteur jatuh cinta. Gadis itu bukan cuma cantik, tetapi juga pandai.
Louis ingin menikah dengan Marie. Karena dia tidak pernah melakukan sesuatu dengan tanggung-tanggung, maka sekali ini pun dia lantas menulis surat lamaran terhadap Marie kepada pak dekan, memberi tahu secara terperinci semua yang sudah dicapainya, seperti surat lamaran kerja saja. Padahal saat itu dia baru tiba dua minggu di Strasbourg.
Rupanya pak dekan dan putrinya berkenan juga, sebab tidak lama kemudian keluarga Louis datang dan pernikahan mereka dilangsungkan di kota itu tanggal, 29 Mei 1849, lima bulan setelah Louis dan Marie bertemu.
Marie tahu bahwa menikah dengan Louis Pasteur berarti menikah juga dengan sains. Seumur hidupnya dia menjadi pendamping yang berharga bagi suaminya. (Marie baru meninggal tahun 1910, pada umur 84 tahun menurut murid Pasteur yang terkenal, Rout, Ny. Pasteur adalah istri teladan seorang ilmuwan).
Mereka tinggal lima tahun di Strasbourg, dan sempat mempunyai dua orang anak, yaitu Jeanne dan Jean-Baptiste.
Pernah Louis mendapat hadiah 5.000 franc untuk penemuannya dalam bidang kristalografi. Uang itu bukan dipakai untuk keperluan mendandani rumahnya, melainkan dipergunakan untuk melengkapi laboratorium. Pemerintah Prancis menyadari bahwa pria ini akan memberi sumbangan besar bagi Prancis, jadi dia dihadiahi bintang kehormatan la Legion d'honneur ketika umurnya 31 tahun.
Tidak lama kemudian lahir putrinya yang kedua, Cecile. Pemerintah Prancis menawarkan kedudukan bagus baginya, yaitu dekan Faculte des Sciences di kota industri Lille yang besar. Louis sebenarnya enggan meninggalkan Strasbourg yang telah memberinya begitu banyak kebahagiaan, tetapi Marie mendorongnya agar menerima tawaran baik itu. Tahun 1854 mereka pindah ke Lille.

Mikroba dari maut
Kalau selama ini Louis Pasteur menekuni kristalografi, maka di Lille dia mulai meneliti makhluk-makhluk hidup yang hanya bisa dilihat oleh mikroskop, yaitu mikroba.
Pada masa itu industri utama di sekeliling kota Lille adalah industri alkohol yang dibuat dari bit gula. Ternyata mulai suatu saat alkohol yang dihasilkan jelek. Semua menjadi asam, entah mengapa. Pasteur diminta menyelidiki penyebabnya. Kalau Pasteur sudah tertarik pada sesuatu, dia akan tekun melakukan penelitian dan keluarganya mesti sabar menunggu. Dia menemukan bahwa larutan gula yang ditaruh di udara terbuka itu dicemari mikroba. Mikroba inilah biang keladi yang mengasamkan alkohol. Jadi pabrik-pabrik alkohol mesti mempunyai mikroskop. Cairan yang ketahuan dimasuki mikroba mesti dibuang. Pasteur juga lantas berkata bahwa susu asam pun disebabkan oleh mikroba dan memang terbukti demikian.
Pasteur bertanya-tanya, dari mana datangnya mikroba itu?
Banyak orang, termasuk ilmuwan seperti Leibig, percaya bahwa daging busuklah yang 'membuat' mikroba (dan air tergenanglah yang 'membuat' kecebong), walaupun ada juga yang berpendapat bahwa daging menjadi busuk karena mikroba.
Setelah tiga tahun di Lille tiba-tiba Pasteur mendapat kesempatan untuk kembali ke l'Ecole Normale di Paris, sekali ini sebagai direktur sains. Walaupun laboratorium di sini penuh sesak, namun dia akan mendapat kesempatan lebih banyak untuk melakukan penelitian. Dia pun memutuskan menerima tawaran itu dan sejak saat itu hampir seluruh sisa hidupnya dilewatkan di Paris.
Salah satu penelitian pertama yang dilakukannya adalah untuk mencari tahu dari mana datangnya mikroba. Sesudah mengadakan penelitian dengan Prof. Ballard, dia membuktikan mikroba terdapat pada partikel-partikel debu yang terdapat di udara. Partikel-partikel itu bisa ditahan dengan saringan yang halus, dan kalau itu dilakukan ternyata mikroba juga tidak ikut masuk bersama udara. Tabung-tabung berisi juice daging yang disiapkannya lebih dari seratus tahun yang lalu kini masih bisa dilihat di Museum Pasteur di Paris. Juice daging itu tidak busuk sampai sekarang, karena mikroba tidak dibiarkan masuk ke dalamnya.
Ketemu kuman lewat anggur
Makhluk kecil bernama mikroba sebetulnya sangat berguna bagi kita. Mereka merupakan bagian dari alam dan kita tidak bisa hidup tanpa mereka. Sedikit saja di antaranya yang berbahaya, yang menyebabkan infeksi dan penyakit. Mikroba yang jahat itu biasa kita sebut kuman. Pasteur menemukan kuman lewat anggur!
Minuman anggur merupakan hasil industri Perancis yang paling besar. Untuk mencegah keasaman, Pasteur menyarankan agar air perasan anggur dipanasi dulu 55°C. Pengusaha-pengusaha menolak keras. "Gila apa! Rasanya 'kan lain!"
Pasteur membuat percobaan. Sebagian air anggur dia panasi, sebagian tidak. Kemudian hasilnya disuruh coba kepada para ahli. Ternyata mereka tidak bisa membedakan mana yang tadinya dipanasi mana yang tidak. Industri anggur Prancis pun bebas dari keruntuhan. Pemanasan itu kemudian dikenal sebagai 'pasteurisasi'. Kini susu hampir semuanya dipasteurisasi.
Pasteur pun dimintai tolong oleh pabrik bir dan bahkan oleh industri sutera. Prancis mengalami kerugian akibat penyakit 'pebrine' yang merusakkan benang ulat sutera.
"Tahu apa saya tentang ulat sutera?" jawab Pasteur. Tetapi akhirnya mau juga dia bersama rekannya, Dumas, pergi ke Ales untuk melakukan penelitian yang memakan waktu selama tiga tahun. Istri dan anaknya yang (lahir 1858), Marie-Louise ikut pindah dari Paris dan membantunya. Dua penyakit dan penanggulangannya berhasil ditemukan (1865).
Setahun setelah kelahiran Marie-Louise, putri sulung Pasteur, Jeanne, menderita penyakit yang ditakuti, tifus. Dokter-dokter yang terpandai pun tidak bisa menyembuhkannya. Jeanne meninggal. Umurnya baru sembilan tahun. Louis merasa sangat terpukul.
Sesaat setelah berada di Ales, ayah Louis Pasteur pun meninggal. Kesedihan susul-menyusul. Tahun 1865, putri Louis yang masih berumur dua tahun, Camille meninggal dan tahun berikutnya Cecile yang sudah berumur 12,5 tahun meninggal pula akibat tifus.
Anak Louis dan Marie Pasteur tinggal dua orang, Jean-Baptiste dan Marie-Louise yang kemudian dikenal sebagai Madame Rene Vallery-Radot. Cucu Pasteur dari putrinya ini, Prof. Pasteur Vallery-Radot, seorang dokter terkenal, menulis buku tentang hidup kakeknya dan hasil karya sang kakek.
Pasteur mendapat dana dari pemerintah untuk memperbesar laboratorium l'Ecole Normale. Dia kini bisa memusatkan perhatiannya untuk penelitian mikroba. Dia sudah menjadi ilmuwan yang terkemuka di dunia dan menerima sumbangan besar untuk laboratoriumnya.
Pada tanggal 19 Oktober 1868, ketika Louis Pasteur hampir berumur 46 tahun, dia terserang stroke dan tubuhnya bagian kiri lumpuh. Tadinya diperkirakan dia tidak akan tertolong, sehingga Kaisar Napoleon III setiap hari mengirim utusan untuk menanyakan kesehatannya. Dia sangat dibutuhkan oleh negara.
Pasteur dalam keadaan sakit itu merasa sewot, karena rekan-rekannya lantas berhenti bekerja di laboratorium. Baru setelah kaisar memerintahkan agar penelitian dilanjutkan mereka bekerja kembali. Pasteur merasa lega dan dia sembuh walaupun lengannya tetap lumpuh sebelah dan dia harus berjalan dengan pertolongan tongkat. Berpakaian pun harus ditolong oleh si istri, seorang wanita saleh yang mencari kebahagiaan bukan dari kebendaan.
Hasil penelitiannya mengenai ulat sutera dia diktekan kepada istrinya setelah dia sembuh. Padahal hasil penelitian itu sampai dua jilid tebal.
Tertarik pada gila anjing
Setelah perang Jerman-Perancis dia semakin yakin bahwa banyak penyakit disebabkan oleh mikroba, dan korban-korban yang terluka dalam perang tewas akibat lukanya dicemari mikroba. Dia juga tahu, satu dua orang berhasil sembuh dari penyakit menular campak ternyata tidak dihinggapi lagi penyakit serupa seumur hidupnya dan bahwa saat itu orang sudah dapat mencegah dirinya dihinggapi penyakit cacar dengan vaksinasi. Yang dipakai dalam vaksinasi itu bukan kuman cacar yang ganas (smallpox) tetapi dari jenis yang lebih jinak (cowpox).
Bagaimana caranya memerangi penyakit yang menimbulkan bencana begitu banyak kepada umat manusia dan juga binatang? Alangan yang ditemui Pasteur adalah: dia bukan dokter, bahkan bukan dokter hewan. Para dokter tidak percaya pada apa yang dikatakannya.
Dia mulai 'menjinakkan' kuman anthrax yang ditemukan oleh Robert Koch (walaupun Prancis berperang dengan Jerman, namun Pasteur menghargai ilmuwan Jerman itu), lalu melakukan vaksinasi untuk mencegah binatang-binatang sehat kena penyakit yang ditakuti itu. Mula-mula para peternak tidak mau percaya, tetapi kemudian mereka melihat sendiri buktinya. Ketika itu tahun 1877.
Kemudian Pasteur tertarik untuk meneliti penyebab penyakit gila anjing yang kerap menyerang. Korban gigitan binatang yang mengidap gila anjing akhirnya pasti mati setelah beberapa minggu kemudian mengalami penderitaan. Pasteur mengira penyebab penyakit ini mestinya mikroba. Cuma saking kecilnya, mikroba itu tidak bisa dilihat di bawah mikroskopnya, yang bisa membesarkan benda seribu kali. Dia menyebut mikroba yang kecil itu sebagai virus.
Untuk melakukan penelitian, (mulai 1882) Pasteur harus memakai anjing gila, jadi sebetulnya sangat berbahaya. Percobaan pada anjing membuktikan bahwa binatang-binatang itu yang dengan sengaja diberi suntikan kuman rabies yang kuat, bisa dicegah menderita rabies bila sehari dua hari kemudian diberi suntikan kuman rabies yang dilemahkan. Suntikan dilakukan dua belas kali berturut-turut, setiap hari sekali. Kekuatan kuman rabies pada duabelas suntikan itu tidak sama. Suntikan pertama mengandung kuman rabies yang paling lemah dan yang terakhir mengandung kuman rabies yang paling kuat.
Namun, manusia mana yang mau mencobanya? Pasteur berniat menjadikan dirinya kelinci percobaan. Sebelum ini terlaksana, Joseph Meister, yang berumur sembilan tahun digigit anjing gila. Dokter yang merawatnya pernah mendengar percobaan Pasteur dan menyatakan satu-satunya harapan hanya membawa anak itu ke Paris. Ketika mereka tiba, anak itu sudah lemah sekali dan lukanya sudah berumur dua hari.
Pasteur bukan dokter dan vaksinnya bisa saja tidak mempan. Dia jadi serba salah. Dua orang dokter yang dimintainya nasihat berkata, "Kalau Anda obati mungkin saja dia meninggal. Tetapi kalau tidak Anda obati, dia pasti meninggal."
Louis Pasteur berpikir, "Peduli setan apa yang akan dikatakan orang kalau anak ini meninggal. Yang penting adalah memanfaatkan kemungkinan untuk sembuh baginya."
Anak itu disuntik dengan vaksinnya dan Pasteur mendampinginya terus-menerus dengan cemas. Ternyata Joseph Meister sembuh. Bertahun-tahun dia dan Pasteur bersurat-suratan. Kemudian dia menjadi penjaga pintu gerbang Institut Pasteur di Paris. Ketika Jerman menduduki Paris tahun 1940, dia memilih bunuh diri daripada membukakan pintu bagi tentara pendudukan.
Pasien kedua yang diobati oleh Pasteur adalah Jean Jupille, yang sudah enam hari kena gigitan. Anak petani berumur empat belas tahun itu juga sembuh dan menjadi penjaga pintu gerbang l'Institut Pasteur. Sampai sekarang kita masih bisa melihat patungnya, sedang digigit anjing.
Sumbangan dari Tsar Rusia
Pasteur berhasil menyembuhkan banyak korban, tetapi seorang gadis kecil bernama Louise Pelletier baru dibawa kepadanya setelah 33 hari kena gigitan. Dia tidak berhasil disembuhkan dan Pasteur menangis. Ketika itu umur Pasteur sudah lebih dari enam puluh. Putrinya, Marie-Louise, sudah menikah dengan Rene Vallery-Radot, menantunya itu tahun 1913 menulis buku tentang istri Louis Pasteur, Madame Pasteur.
L'Institut Pasteur didirikan di Paris, yang menjadi pusat riset yang penting sekali di dunia. Uangnya datang dari pelbagai penjuru dunia. Tsar Rusia juga mengirim sumbangan karena Pasteur menyembuhkan 16 dari 19 orang Rusia yang digigit serigala gila empat belas hari sebelum berhasil tiba ke tempat Pasteur.
Institut itu dibuka tahun 1888 oleh presiden Prancis. Peristiwa itu dihadiri ilmuwan terkemuka dari seluruh dunia. Louis Pasteur begitu terharu, direkturnya yang pertama sampai tidak bisa berbicara. Pidatonya diucapkan oleh putranya, Jean Baptiste.
Pasteur mendapat flat bagus dekat institut. Di sanalah kita bisa melihat hasil lukisannya semasa remaja, sebab rumah itu seperti rumah-rumah di Dole dan Arbois dijadikan museum dan dibiarkan seperti semula.
Pasteur mendapat tanda kehormatan dari mana-mana, antara lain dia menjadi anggota l'Academie Franchise (1882) dan ulang tahunnya yang ke-70 dirayakan di Sorbonne, sebab sejak 1867 dia mengajar kimia di sana. Sekali ini pun presiden Prancis dan para ilmuwan terkemuka hadir. Seperti empat tahun sebelumnya dia tidak sanggup mengucapkan pidato, sehingga harus diwakili oleh putranya. Kata Pasteur, dia yakin sains akan mengalahkan kebodohan dan peperangan.
Saat itu Louis Pasteur sudah mundur kesehatannya, namun dia masih sering bertemu ilmuwan dan masih sempat mendengar penemuan vaksin difteri, sehingga anak-anak bisa dilindungi dari penyakit itu dengan vaksin yang dibuat di institutnya.
Bapak ilmu-ilmu mikrobiologi itu meninggal dengan tenang di tempat peristirahatannya di Villeneuve-l'Etang dekat Paris pada tanggal 28 September 1895. (Tempat itu kini dijadikan tempat membuat serum). Umurnya 72 tahun. Pemakamannya dilakukan dengan upacara nasional dan dia dimakamkan di sebuah kapel yang indah di lingkungan l'Institut Pasteur.
Namanya diabadikan di Bandung
Nama Pasteur tak hanya di Paris, tapi juga di Bandung. Bagaimana sejarahnya?
Menurut beberapa sumber, semua bermula pada 1890, ketika itu pemerintah kolonial Hindia Belanda mendirikan sebuah pusat kesehatan yang belakangan dikenal sebagai cikal bakal Bio Farma. Hal itu tercantum pada Surat Keputusan Gubernur Hindia Belanda Nomor 14 tahun 1890 tentang berdirinya Parc Vaccinogene.
Pada awalnya, pusat penelitian kesehatan ini berlokasi di RS Militer Weltevreden di Batavia (sekarang dikenal sebagai RSPAD Gatot Soebroto Jakarta Pusat). Tugas utama Parc Vaccinogene adalah melakukan sejumlah penelitian untuk memberantas penyakit menular.
Untuk meningkatkan kapasitasnya, Parc Vaccinogene bekerja sama dengan Institut Pasteur untuk melakukan penelitian mikrobiologi, dari 1895 hingga 1901. Kerja sama itu membuat lembaga ini berubah menjadi Parc Vaccinogene en Instituut Pasteur.
Sekitar 1902-1941 Parc Vaccinogene en Instituut Pasteur berubah nama lagi menjadi Landskoepoek Inrichting en Instituut Pasteur. Pada 1923, kantornya pun pindah dari Batavia ke Bandung di jalan yang kelak dikenal sebagai Jl. Pasteur. Ketika itu, lembaga ini dipimpin oleh L. Otten.
Ketika Belanda kalah dan Jepang datang, Lands-koepoek Inrichting en Instituut Pasteur diganti menjadi Bandung Boeki Kenkyusho. Kegiatannya dipusatkan di Gedung Cacar dan Lembaga Pasteur Bandung yang dipimpin oleh Kikuo Kurauchi.
Ketika Indonesia telah merdeka, Boeki Kenkyusho pun berganti menjadi Gedung Cacar dan Lembaga Pasteur. Itu sekitar tahun 1945-1946. Orang Indonesia pertama yang memimpin lembaga ini adalah R. M. Sardjito.
Ketika zaman Agresi Militer Belanda, Sardjito sempat memindahkan Gedung Cacar dan Lembaga Pasteur ke Klaten. Belanda yang menguasai Bandung kembali menghidupkan Lands-koepoek Inrichting en Instituut Pasteur.
Konferensi Meja Bundar membuat Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia. Landskoepoek Inrichting en Instituut Pasteur pun berganti nama lagi menjadi Gedung Cacar dan Lembaga Pasteur.
Di era nasionalisasi, lembaga itu berubah menjadi Perusahaan Negara Pasteur atau PN Pasteur. Tahun 1961, PN Pasteur berubah menjadi Perusahaan Negara Bio Farma (PN Bio Farma).
Meski namanya sudah berganti, tap masyarakat Bandung masih menyebut wilayah itu sebagai wilayah “Pasteur”. (Pasteur, par Andre George; Louis Pasteur by Richard Serjeant)