TRIBUNNEWS.COM - Wacana perubahan sistem skor bulu tangkis kembali mengemuka. Kepastian penggunaan poin 3x15 akan ditentukan pada 25 April mendatang.
Pada Rapat Umum Tahunan Badminton World Federation (BWF) yang akan digelar 25 April di Horsens, Denmark, delegasi akan melakukan voting untuk mengganti format 21 poin best-of-three menjadi 15 poin best-of-three (3x15) mulai musim depan.
Usulan ini bukan sekadar revisi teknis, melainkan berpotensi mengubah ritme permainan, strategi, hingga peta persaingan dunia.
BWF beralasan format lebih pendek akan membuat durasi pertandingan lebih ringkas, ramah siaran televisi, serta mengurangi kelelahan pemain.
Kritik utama terhadap 15 poin dengan format best of three adalah minimnya ruang comeback.
Dalam sistem baru, ketertinggalan 5-6 poin bisa menjadi krusial karena waktu pemulihan jauh lebih singkat.
Artinya, satu kesalahan beruntun bisa langsung berujung kekalahan gim.
Di sisi lain, pendukung sistem 3x15 menilai laga akan lebih intens, cepat, dan penuh tekanan sejak awal.
Pemain senior disebut bisa lebih diuntungkan karena beban fisik lebih ringan.
Format 21 poin yang diperkenalkan pada 2006 pun awalnya menuai kritik, namun kemudian melahirkan duel klasik seperti rivalitas Lin Dan dan Lee Chong Wei.
Baca juga: Respon Indonesia dan Malaysia soal Format Baru Turnamen BWF: BAM Minta Lebih Adil, PBSI Optimis
Perubahan sistem skor juga berpotensi menggeser gaya bermain, baik di sektor tunggal maupun ganda.
Dalam 21 poin, pemain punya waktu membangun strategi—mengatur tempo, memancing reli panjang, hingga membaca pola lawan.
Dengan 15 poin, pendekatan bisa menjadi lebih langsung: serang sejak awal, amankan keunggulan, lalu pertahankan.
Risiko eksperimen taktik mungkin berkurang karena setiap poin memiliki bobot lebih besar.
Sejumlah pemain Malaysia, khususnya sektor ganda campuran yang kini berada di bawah asuhan pelatih Indonesia Nova Widianto merespon sistem poin baru dengan positif.
Pasangan Toh Ee Wei/Chen Tang Jie misalnya. Mereka menyebut tidak terlalu khawatir dengan rencana perubahan tersebut.
Dalam latihan, pola 15 poin sudah sering diterapkan untuk meningkatkan fokus sejak awal laga. Format lebih pendek menuntut pemain langsung “panas” dan menghindari start lambat.
Bagi anak asuh Nova, skema itu justru selaras dengan karakter permainan agresif dan tempo cepat yang mereka bangun.
"Saya merasa skor 15 poin lebih cepat sedangkan 21 poin lebih berarti."
"Poin apa pun yang mereka putuskan, kami akan menerimanya. Entah itu 15 atau 21, kami masih harus siap untuk bermain," kata Ee Wei, dikutip dari laman NewStraitsTimes.
Baca juga: Menuju Keputusan Sistem Skor 3x15 Badminton, Pemungutan Suara saat Thomas-Uber Cup 2026
Sementara itu, Nova Widianto sang pelatih kepala ganda campuran menyebut, anak didiknya sedikit diuntungkan karena gaya permainan menyerang.
"Untuk pemain kami sendiri saya merasa 15 poin akan bagus karena keunggulan mereka ada di lini serang," kata Nova," kata Nova.
Ia menambahkan, sistem ini mungkin juga menguntungkan China dan Eropa karena gaya bermain cepat serta metode latihan yang lebih pendek.
"Mungkin untuk China juga, saya pikir itu juga akan lebih mudah bagi mereka. Kami hampir serupa, China juga cepat dan cepat, dan mereka juga memiliki banyak pemain muda."
"Mungkin rencana permainan dan metode latihan mereka lebih cocok untuk itu. Bagi kami, kami sudah terbiasa beradaptasi dengan sistem penilaian apa pun - apa pun itu, kami dapat menyesuaikan," jelas Nova.
(Tribunnews.com/Tio)