TRIBUNKALTARA.COM, NUNUKAN-Sitti Rahmadania tak bisa dilepaskan dari kiprahnya sebagai penari di Sanggar Tari Inindang Yaki Betawol.
Bersama rekan-rekannya, ia terus berupaya menjaga dan memperkenalkan budaya daerah, meski dengan segala keterbatasan.
Sanggar Tari Inindang Yaki Betawol berada di Desa Pembeliangan, Kecamatan Sebuku, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara).
Sanggar Tari Inindang Yaki Betawol berdiri sejak 2019 atau telah memasuki usia enam tahun.
Baca juga: Lestarikan Budaya, Sanggar Busak Malay Bertahan di Tengah Minimnya Dukungan Pemkab Nunukan Kaltara
Sanggar ini didirikan oleh Ketua Adat Arsyad, bersama sang istri yang menjadi penggagas awal terbentuknya sanggar tari tersebut.
Sitti Rahmadania mengungkapkan, anggota sanggar saat ini berjumlah 11 orang yang terbagi dalam dua kelompok, yakni junior dan senior.
“Junior ada lima orang, senior enam orang,” ujarnya kepada TribunKaltara.com, Kamis (12/2/2026).
Anggota sanggar tari terdiri dari pelajar SMP, SMA, hingga beberapa yang sudah lulus sekolah. Meski berasal dari latar belakang berbeda, mereka memiliki semangat yang sama dalam melestarikan budaya.
Menariknya, sanggar tari ini belum memiliki pelatih tetap. Latihan dilakukan secara mandiri oleh para anggota.
Baca juga: Lestarikan Warisan Budaya, Pemkab Tana Tidung Resmikan Sanggar Seni Upun Taka
“Kami latihan sendiri, tidak ada pelatih,” kata Sitti Rahmadania.
Untuk menyiapkan satu tarian, mereka membutuhkan waktu sekitar tiga minggu latihan. Tempat latihan pun masih sederhana karena belum memiliki gedung khusus.
“Kami biasa latihan di rumah, kadang juga latihan di posyandu,” ungkapnya.
Meski demikian, keterbatasan tidak menyurutkan semangat mereka untuk tampil maksimal di setiap kesempatan.
Sanggar Tari Inindang Yaki Betawol kerap tampil di berbagai acara, mulai dari pernikahan, acara peresmian hingga perlombaan.
Penampilan mereka menyesuaikan permintaan dari penyelenggara acara.
“Kami tergantung request dari yang punya acara,” jelas Sitti.
Awalnya, Sitti dan beberapa anggota lainnya bukanlah penari. Mereka hanya ikut latihan. Namun seiring waktu, kemampuan mereka berkembang hingga akhirnya resmi bergabung dalam sanggar.
“Awalnya kami bukan penari, tapi ikut latihan. Lama-kelamaan bisa dan ikut sanggar,” tuturnya.
Pengalaman pertama mengikuti lomba menjadi momen berkesan bagi mereka. Saat itu, mereka memberanikan diri tampil di ajang lomba di Kabupaten Tana Tidung (KTT).
“Kami mau dan berusaha keluar dari zona nyaman,” katanya.
Keikutsertaan dalam lomba menjadi langkah awal untuk memperkenalkan sanggar lebih luas. Saat ini, nama mereka mulai dikenal, meski di luar daerah Sebuku masih belum banyak yang mengetahui keberadaan sanggar tersebut.
Dalam perjalanannya, Sanggar Tari Inindang Yaki Betawol mendapat dukungan dari kepala adat dan pemerintah desa melalui sumbangan yang diberikan.
Bagi Sitti dan rekan-rekannya, yang terpenting adalah tetap menomorsatukan budaya.
“Yang penting kami tetap menomorsatukan budaya,” tegasnya.
Di tengah keterbatasan fasilitas dan minimnya pelatih, Sanggar Tari Inindang Yaki Betawol terus bergerak.
Dari rumah dan posyandu, mereka menari membawa semangat pelestarian budaya, berharap suatu hari nanti semakin dikenal hingga ke luar daerah.
(*)
Penulis: Fatimah Majid