Menelusuri Muasal Penyebutan Negeri Habaib di Palembang, Berawal Jadi Pembimbing Spiritual Sultan
Welly Hadinata February 13, 2026 07:27 PM

Penulis Naskah : Novianti, Mahasiswa Semester VI Fakultas Dakwah dan Komunikasi Prodi Jurnalistik UIN Raden Fatah Palembang

SRIPOKU.COM, PALEMBANG – Kota Palembang dikenal sebagai salah satu daerah di Indonesia yang memiliki jejak sejarah panjang komunitas keturunan Arab, khususnya dari kalangan Syarif dan Alawiyin.

Kedatangan mereka bahkan telah tercatat sejak masa Kesultanan Palembang Darussalam.

Sejak era Kesultanan Palembang Darussalam, sejumlah Syarif dari kalangan Alawiyin datang ke Nusantara, termasuk Palembang, untuk menetap sekaligus menjadi pembimbing spiritual para sultan.

Kehadiran mereka memperkuat syiar Islam serta membangun hubungan erat dengan struktur pemerintahan kesultanan.

Peran Spiritual bagi Sultan

Dalam perjalanan dakwahnya, para Syarif tidak hanya menyebarkan ajaran Islam, tetapi juga membangun jaringan genealogis sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW.

Kedatangan mereka disambut baik oleh penguasa saat itu dan dipercaya sebagai guru serta penasihat spiritual.

Peneliti ulama Palembang, M. Daud Bengkulah, menyebut setiap pemimpin memiliki guru spiritual yang membimbing arah moral dan kepemimpinannya.

“Seorang pemimpin pasti memiliki guru spiritualnya, termasuk para sultan Palembang. Diketahui keturunan dari Rotibul Haddad berdakwah dan mengajarkan Sultan Mahmud Badaruddin sesuai syariat Islam.

Hal inilah yang menjadikan Palembang sangat erat hubungannya dengan para Syarif dan para habaib,” ujarnya melalui kanal YouTube Mang Dayat, dikutip Jumat (12/2/2026).

Salah satu tokoh yang sering dikaitkan dalam relasi spiritual tersebut adalah Sultan Mahmud Badaruddin II, yang dikenal memiliki kedekatan dengan ulama dan tokoh agama dalam menjalankan pemerintahan.

Lahirnya Sebutan “Negeri Habaib”

Kedekatan historis antara kesultanan dan komunitas Syarif inilah yang kemudian melahirkan sebutan Palembang sebagai “Negeri Habaib”.

Secara sosiologis, banyak marga Syarif dan Alawiyin berkembang di Palembang dan berperan aktif dalam kehidupan keagamaan maupun sosial masyarakat.

Permukiman keturunan Arab di tepian Sungai Musi menjadi salah satu bukti nyata keberadaan komunitas ini sejak ratusan tahun lalu.

Bahkan, menurut sejumlah sumber lokal, komunitas Syarif di Indonesia dalam jumlah besar memiliki akar genealogis dari Palembang.

Disebutkan pula bahwa sebagian habaib yang kini bermukim di Jakarta merupakan keturunan Palembang yang kemudian merantau.

Jejak sejarah, peran dakwah, serta jejaring genealogis tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Palembang dan mempertegas identitas kota ini sebagai salah satu pusat perkembangan komunitas habaib di Nusantara.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.