TRIBUNPEKANBARU.COM, KAMPAR - Jumlah kasus malaria minim di Kampar. Adapun kasus positif yang ditemukan merupakan impor.
Kepala Dinas Kesehatan Kampar, Asmara Fitrah Abadi melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Elfian menyebutkan, enam kasus positif ditemukan selama 2025.
"Pada tahun 2025 ada ditemukan kasus positif import sebanyak enam kasus yang ditemukan di beberapa wilayah kerja puskesmas," katanya kepada Tribunpekanbaru.com, Jumat (13/2/2026).
Temuan itu tersebar di Puskesmas Salo, Kuok, Lipatkain Kecamatan Kampar Kiri, Pangkalan Baru Kecamatan Siak Hulu, dan Pantai Cermin Kecamatan Tapung.
Ada juga di Klinik Pratama Batalyon Infanteri 132 Bima Sakti (Yonif 132/BS).
Menurut dia, Dinkes telah melalukan penyelidikan epidemiologi (PE) pada setiap kasus. PE dilaksanakan dengan wawancara langsung, survei kontak serumah atau tetangga menggunakan Rapid Diagnostic Test (RDT) dan survei kondisi lingkungan rumah.
"Untuk total keseluruhan pemeriksaan skrining malaria di Kabupaten Kampar tahun 2025 sebanyak 616 orang," ungkapnya.
Baca juga: Pemalsuan SKGR Terungkap Saat Ganti Rugi Tol Pekreng, Kades dan Staf Camat di Kampar Ditahan
Baca juga: Karhutla Meluas di Batas Kampar dengan Pekanbaru, Kasus Baru Muncul Saat Satu Lokasi Belum Padam
Ia mengatakan, penambahan kasus positif pada 2026 masih nihil. Ia menyatakan Kampar masih aman.
Menurut dia, Kampar telah mendapat predikat eliminasi pada 2018.
Predikat itu dari Kementerian Kesehatan kepada Kampar sebagai daerah yang berhasil menghentikan penularan setempat (indegeneous) malaria selama tiga tahun berturut-turut.
Kendati begitu, ia tak menampik ancaman terjadinya kasus atau kejadian luar biasa (KLB) malaria tetap ada.
"Kasus malaria import dan kepadatan vektor malaria yang tinggi merupakan ancaman terjadinya KLB malaria," ungkapnya.
Ia mengatakan, daerah dengan predikat itu perlu melakukan pemeliharaan.
Tujuannya untuk mendapatkan gambaran tentang wilayah yang memiliki faktor risiko lingkungan, prediksi tentang kemungkinan terjadinya dampak kesehatan masyarakat, dan memastikan tidak ada lagi penularan setempat.
Ia mengatakan, pengendalian malaria perlu dilakukan untuk mencegah munculnya penularan kembali.
Upaya pengendalian dilakukan dengan surveilans migrasi, PE, penguatan jejaring tatalaksana kasus, serta pengamatan daerah reseptif dan pengendalian vektor sesuai bukti lokal.
( Tribunpekanbaru.com / Fernando Sihombing)