NATUNA, TRIBUNBATAM.id - Bangunan gedung aula serbaguna di kompleks Masjid Agung Baitul Izza Natuna, kini menyisakan potret sunyi dan memprihatinkan.
Ruang aula luas yang dulu kerap dipenuhi ribuan orang itu kini tampak seperti bangunan yang ditinggalkan waktu.
Gedung serbaguna itu diketahui dibangun satu paket dengan Masjid Agung, yang diresmikan sejak tahun 2009 silam.
Pantauan Tribunbatam.id di lokasi Jumat (13/2/2026), saat pertama kali masuk ke dalam ruangan itu langsung disambut dengan lantai yang penuh dengan sampah dan lumut, serta langit-langit yang menganga.
Genangan air telihat mengendap di beberapa titik, menandakan atap aula tersebut mengalami kebocoran parah.
Sisa-sisa material bangunan, pecahan kaca, dan kotoran menumpuk, menunjukkan gedung ini sudah begitu lama tak tersentuh perawatan.
Dinding bagian dalam terlihat kusam dengan noda lembap. Bercak hitam menempel hampir di seluruh permukaan keramik.
Pintu kaca yang pecah menyisakan lubang besar, sementara bagian lain tampak retak dan berlumut.
Di sisi atas, kabel-kabel, selang saluran pendingin ruangan tampak semrawut dan sebagain bahkan menjuntai ke bawah.
Sementara panel plafon yang runtuh berserakan di lantai, hanya menyisakan rangka baja.
Padahal, gedung berkapasitas sekitar seribu orang ini dulunya menjadi pusat kegiatan penting masyarakat Natuna.
Sejumlah agenda besar daerah pernah digelar di sana.
"Sayang sekali, apalagi ruangannya luas begitu. Harapannya di masa kepemimpinan saat ini, gedung ini bisa segera direnovasi lagi," ujar warga yang sedang beraktivitas di sekitar lokasi.
Kini, bangunan yang dirancang sebagai penunjang aktivitas keagamaan dan sosial itu berdiri tanpa fungsi.
Di bagian luar, pintu-pintu yang terkunci tampak lapuk, dan rumput mulai tumbuh di sela-sela lantai.
Menanggapi kondisi itu, Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sekretariat Daerah Kabupaten Natuna, Sudirman, menyebut kondisi gedung tersebut sudah lama menjadi perhatian pemerintah daerah.
Wacana renovasi telah beberapa kali dibahas, namun selalu terbentur dengan keterbatasan anggaran.
"Sudah kita wacanakan, namun beberapa kali diajukan belum terwujud karena ketersediaan anggaran terbatas,” ujarnya saat dikonfirmasi.
Menurutnya, pemerintah tidak menutup mata terhadap kerusakan dan kondisi yang terjadi.
Hanya saja, kemampuan fiskal daerah belum memungkinkan untuk merealisasikan perbaikan dalam waktu dekat.
Ia juga mengakui pihaknya tidak mengetahui secara pasti kebutuhan anggaran renovasi.
"Jika pun ada pengalokasian anggarannya, kemungkinan berada pada dinas teknis terkait," katanya.
(Tribunbatam.id/birrifikrudin)