Sunan Kalijaga Tanggapi Kasus Taqy Malik Diduga Mark Up Program Waqaf Alquran, Aib Dikuliti Sahabat
pairat February 14, 2026 11:25 AM

SRIPOKU.COM - Sunan Kalijaga mengaku prihatin atas mencuatnya kasus dugaan mark up harga dalam program wakaf Alquran yang menyeret nama Taqy Malik.

Mark up harga dalam program wakaf Alquran, terutama jika dilakukan tanpa transparansi, sering kali diartikan sebagai tindakan penggelembungan harga (markup anggaran) yang menaikkan margin keuntungan di atas harga pokok produksi atau harga jual yang wajar.

Dalam konteks filantropi Islam, praktek ini sering kali menimbulkan kontroversi karena dianggap tidak sejalan dengan prinsip kejujuran dan amanah. 

Menanggapi isu tersebut, Sunan Kalijaga menilai persoalan tersebut perlu segera diselesaikan secara jelas dan terbuka agar tidak menimbulkan polemik berkepanjangan di tengah masyarakat.

Ia juga menegaskan pentingnya kejelasan penyelesaian agar publik mendapatkan kepastian terkait benar atau tidaknya dugaan tersebut.

"Ya, yang pasti saya prihatin, ya. Saya prihatin dan semoga bisa segera diselesaikan, dituntaskan. Yang benar itu benar, yang salah itu salah. Begitu," ujar Sunan Kalijaga, dikutip Tribunnews dalam YouTube Reyben Entertainment, Sabtu (14/2/2026).

Ia juga menjelaskan pemahamannya mengenai praktik wakaf Alquran yang selama ini dikenal di kalangan umat Islam, khususnya saat berada di Tanah Suci.

Menurutnya, wakaf merupakan bentuk donasi untuk kepentingan ibadah dan bukan kegiatan yang berorientasi pada keuntungan.

"Dan seharusnya, saya bukan ustaz, ya, saya bukan ustaz, tapi saya berusaha untuk taat. Setahu saya, orang banyak di sana, termasuk kami kemarin baru pulang umrah di Madinah, itu yang kami tahu bukan jual beli kitab suci Alquran."

"Tapi bahasa yang atau yang kami lakukan di sana setahu saya adalah wakaf, di mana orang membeli Al-Qur'an untuk disumbangkan ke masjid-masjid, ke Masjid Nabawi, lalu ke masjid-masjid lainnya," terang Sunan Kalijaga.

Lebih lanjut, ia menyoroti informasi yang diterimanya terkait sosok anak muda yang dikenal religius namun dikaitkan dengan dugaan praktik mark up tersebut.

Ia mengaku menyayangkan apabila dugaan itu benar terjadi karena dinilai bertentangan dengan citra yang selama ini melekat.

"Namun, saya mendapatkan info dari teman-teman bahwa ada seorang anak muda, ya, yang bukan mengaku, tapi dikenal adalah seorang anak yang katanya saleh, atau mungkin ada yang menyebut dia dengan panggilan ustaz, kok malah saya mendapatkan info anak ini diduga melakukan mark up kitab suci."

"Nah, ini saya dengan tegas mengatakan saya sangat menyayangkan. Saya sangat menyayangkan," tandasnya.

Sunan Kalijaga juga berharap pihak berwenang, khususnya Kementerian Agama, dapat segera mengambil langkah dengan membentuk tim untuk menelusuri kebenaran informasi tersebut agar persoalan dapat diselesaikan secara objektif dan adil.

"Saya minta khususnya Kementerian agama ya segera menurunkan atau membentuk tim mengusut masalah ini," pungkasnya.

DITUDING PENGGELAPAN DANA - Potret Taqy Malik. Kini pendakwah muda sekaligus influencer itu dikabarkan tengah menghadapi isu miring diduga gelapkan dana donasi.
DITUDING PENGGELAPAN DANA - Potret Taqy Malik. Kini pendakwah muda sekaligus influencer itu dikabarkan tengah menghadapi isu miring diduga gelapkan dana donasi. (Instagram)

Baca juga: AKHIRNYA Ngalah, Taqy Malik Kembalikan Tanah Sengketa, Rumah Pribadi Pakai Uang Umat Bakal Dijual

Sahabat Kuak Aib

Dugaan tersebut mencuat setelah selebgram yang tinggal di Arab Saudi, Randy Permana, yang juga dikenal sebagai sahabat Taqy Malik, mengungkap kronologi sekaligus alasannya membongkar persoalan tersebut ke publik.

Randy mengaku sebelumnya telah berupaya mengingatkan Taqy secara pribadi, namun tidak mendapat respons.

"Saya sudah ingatkan lewat DM (Direct Message), tapi saya enggak digubris, dan saya lihat dia menyindir saya di Story, dan saya di-unfollow," ujar Randy.

Menurut Randy, sikap tersebut menjadi titik balik yang membuatnya memutuskan untuk tidak lagi mendiamkan persoalan yang menurutnya berdampak pada banyak pihak, khususnya mereka yang tinggal dan bekerja di Tanah Suci.

"Nah, itulah yang membuat, ah ini memang enggak bisa (didiamkan)."

"Saya di Tanah Suci menjaga teman-teman agar kerja semua nyaman. Dia yang enggak tinggal di sini, tapi memanfaatkan peluang yang akhirnya merugikan saya dan teman-teman. Itulah alasannya kenapa saya mengangkat isu ini. Seperti itu," terangnya. 

Randy menegaskan bahwa keputusannya untuk berbicara terbuka bukan tanpa alasan.

Ia mengaku ingin mengungkap kondisi yang menurutnya selama ini menjadi pembahasan di kalangan masyarakat Indonesia yang menetap di Makkah dan Madinah.

"Jadi, sekalian saja sudah saya buka, bongkar semua."

"Itulah yang bikin menjadi obrolan atau pembahasan teman-teman yang kita bahasnya mukim, ya, bahasanya teman-teman yang tinggal di Makkah dan Madinah itu seperti itu," jelasnya. 

Ia juga menyebut, setelah isu tersebut diungkap ke publik, banyak pihak yang mengaku mengalami keresahan serupa dan akhirnya berani menyampaikan pengalaman mereka.

"Makanya ketika kemarin saya angkat, ternyata dampaknya luar biasa. Banyak juga yang selama ini memendam keresahan itu muncul semua ke DM saya."

Randy menilai, respons publik yang muncul di kolom komentar menjadi salah satu indikator bahwa persoalan tersebut bukan hanya dialami oleh dirinya sendiri.

Ia menegaskan bahwa apa yang disampaikannya merupakan bagian dari realita yang ia lihat secara langsung.

"Terus, ya bisa dilihat sendirilah di komen-komen yang saya posting seperti itu, apakah ada pembelaan atau apa, karena memang yang saya sampaikan sesuai fakta dan realita yang ada di Tanah Suci seperti itu," pungkasnya. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.