TRIBUNJAKARTA.COM, DUREN SAWIT - Kepergian Baskoro Adi Anggoro (29), Kopilot Smart Air Korban penembakan KKB di Bandar Udara Koroway Batu, Boven, Papua Selatan membawa dukacita mendalam.
Saat proses pemakaman jenazah Baskoro di TPU Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur, pihak keluarga dan sahabat yang hadir tak kuasa menahan tangis, Jumat (13/2/2026).
Adik Baskoro, Hapsari (24) bahkan berulang kali menyeka air matanya ketika menyampaikan salam perpisahan dan memanjatkan doa untuk mendiang mendiang sang kakak.
"Tuhan, makasih sudah selamatin kakak, sudah menemani kakak di masa-masa kritisnya. Makasih ya bang sudah jadi sumber kebahagiaan buat keluarga," kata Hapsari, Jumat (14/2/2026).
Semasa hidup Baskoro yang sejak kecil memang bercita-cita menjadi seorang pilot tersebut memang dikenal sebagai sosok yang baik di keluarga, maupun pada lingkungan pertemanan.
Baskoro juga dikenal sebagai sosok humoris yang selalu dapat membawa gelak tawa kepada orang-orang terdekat, sehingga kepergiannya membawa dukacita mendalam.
"Makasih bang, bahagia di sana. Semoga ketawa terus ya bang," ujar Hapsari seraya melemparkan tanah makam untuk menutup pusara Baskoro di TPU Pondok Kelapa.
Pihak keluarga berharap pasca kasus penembakan yang merenggut nyawa Baskoro dan pilot Smart Air, Egon Erawan keamanan di area Bandar Udara Koroway dapat dievaluasi.
Kementerian Perhubungan dan seluruh pihak terkait yang menangani aspek keamanan di Bandara Koroway Batu diharapkan dapat mencegah kasus serupa, agar tidak ada lagi korban.
"Kakak tuh orangnya sangat baik, sangat care sama kita, plus selalu mikirin tentang orang lain sih ya. Sampai dia juga lupa bahwa kondisi dia juga, dia enggak baik-baik saja begitu," tutur Hapsari.
Keluarga Baskoro Adi Anggoro (29), Kopilot Smart Air korban penembakan KKB mendorong evaluasi keamanan di Bandar Udara Koroway Batu, Boven, Papua Selatan.
Evaluasi ini menyusul kasus penembakan dilakukan KKB di Bandar Udara Koroway Batu hingga menewaskan Baskoro, dan Pilot Smart Air, Egon Erawan pada Rabu (11/2/2026) lalu.
Pasalnya penembakan dilakukan KKB dari Batalyon Kanibal dan Semut Merah itu sepatutnya tidak terjadi bila Bandar Udara Koroway Batu memiliki keamanan mumpuni.
"Mungkin pihak-pihak yang bersangkutan bisa mengevaluasi mengenai protokol, prosedur, mengenai aturan apakah sudah sesuai," kata adik korban, Hapsari (24) di Jakarta Timur, Jumat (13/2/2026).
Pihak keluarga berharap tidak ada kasus serupa, terlebih di bandar udara melayani penerbangan sipil di bawah Kementerian Perhubungan sebagaimana kasus Bandar Udara Koroway Batu.
Mereka berharap nantinya seluruh pihak terkait yang menangani aspek keamanan di Bandara Koroway Batu dapat mengambil langkah antisipasi dan pencegahan.
"Kiranya tidak ada lagi lah korban seperti ini, begitu kan. Saya enggak bisa bayangin kalau misalkan ada keluarga-keluarga lain yang merasakan (dukacita kehilangan keluarga) seperti ini," ujarnya.
Bagi pihak keluarga kepergian Baskoro membawa dukacita mendalam, karena semasa hidup korban yang sejak kecil memang bercita-cita menjadi pilot itu dikenal sosok yang baik.
Di mata Hapsari sang kakak merupakan pribadi yang peduli dan kerap membantu orang-orang di lingkungan terdekat, sehingga kepergian Baskoro membuatnya sangat kehilangan.
"Kakak tuh orangnya sangat baik, sangat care sama kita, plus selalu mikirin tentang orang lain sih ya. Sampai dia juga lupa bahwa kondisi dia juga, dia enggak baik-baik saja begitu," tuturnya.
Sebelumnya pesawat Smart Air mengalami penembakan sesaat setelah mendarat di Bandar Udara Koroway Batu, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan, Rabu, 11 Februari 2026.
Pesawat berangkat dari Bandar Udara Tanah Merah pada 10.38 WIT dengan dua kru dan membawa 12 penumpang dewasa serta satu bayi, pesawat mendarat pada pukul 11.05 WIT.