Ramai Parpol Serukan Prabowo 2 Periode Tapi Tak Sepaket dengan Gibran, Ini Alasan Wapres 'Ditendang'
Galuh Palupi February 14, 2026 01:38 PM

 

TRIBUNTRENDS.COM - Seruan agar Presiden Prabowo Subianto menjabat kepala negara selama dua periode sudah ramai digaungkan sejumlah partai politik meski belum ada dua tahun ia menjabat.

Namun dari partai-partai yang telah memberikan dukungan, belum ada yang secara terbuka Kembali mengusung Gibran Rakabuming Raka sebagai Wakil Presiden berduet lagi dengan Prabowo.

Lantas mengapa partai politik serasa enggan membawa Gibran menjadi wapres Kembali di masa pemerintahan 2029-2034 mendatang?

Mengutip dari Kompas.com, peneliti senior Bidang Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional Lili Romli menyebut wajar jika Parpol ingin Prabowo menjabat dua periode.

Ia berpandangan, partai-partai tersebut merasa tidak enak jika tidak kembali memberikan dukungan, terlebih mereka adalah bagian dari koalisi pemerintahan Prabowo. 

PIDATO PRESIDEN PRABOWO - Presiden Prabowo Subianto berpidato di Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026. Ia sempat bahas tanaman sawit.
PIDATO PRESIDEN PRABOWO - Presiden Prabowo Subianto berpidato di Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026. Ia sempat bahas tanaman sawit. (YouTube Sekretariat Presiden)

“Sebagai bagian koalisi tentu ketika Prabowo maju kembali, tentu akan memberikan dukungan kembali karena merasa ewuh pakewuh atau tidak enak,” ucap Lili saat dihubungi Kompas.com, Jumat (13/2/2026).

Baca juga: Pujian Pandji Pragiwaksono Pada Wapres Gibran Usai Nggak Baper Meski Fisik Diroasting di Mens Rea

Tak hanya itu, status Prabowo sebagai petahana dengan tingkat popularitas tinggi menjadi daya Tarik tersendiri.

Prabowo dinilai punya peluang besar pada kontestasi mendatang.

“Sementara jika mendukung calon lain belum tentu menang. Sebagai petahana, kecenderungan untuk menang tinggi dibandingkan bukan petahana,” kata dia. 

Kemudian, partai-partai pendukung juga tidak memiliki figur calon presiden yang popularitasnya sebanding dengan Prabowo, sehingga khawatir blunder apabila memaksakan memajukan calon sendiri. 

Alasan Gibran tak otomatis didukung Sementara itu, Lili menilai ada beberapa faktor yang membuat partai-partai enggan mendukung duet Prabowo dan Gibran pada Pilpres 2029. 

Salah satu alasannya karena kontroversi pencalonan Gibran sebagai calon wakil presiden pada Pilpres 2024 yang masih melekat menjadi pertimbangan utama partai. 

"Tampaknya para parpol tersebut tidak mau lagi ada cawapres yang kontroversial karena bisa merugikan elektabilitas partainya,” ujar Lili.

Alasan lainnya terkait kinerja Gibran juga kerap mendapat citra negatif di mata publik. 

“Kedua, kinerja Gibran selalu mendapat citra negatif dari publik. Tentu ini menjadi catatan bagi para parpol tersebut,” kata Lili. 

Lili juga menambahkan, kemungkinan lain terkait keinginan setiap partai ingin mengusung kadernya sendiri atau tokoh lain sebagai calon wakil presiden pendamping Prabowo pada 2029. 

Baca juga: Deretan Bantuan yang Diterima Pedagang Es Gabus yang Difitnah Aparat, Termasuk Uang dari Gibran!

“Ketiga, bisa jadi masing-masing parpol tersebut ingin mengusung sendiri sebagai kandidat yang mendampingi Prabowo baik dari kader sendiri atau dari luar,” kata Lili.

PRABOWO-GIBRAN -
PRABOWO-GIBRAN - (Dok. Universitas Muhammadiyah Surabaya)

Tak ada kendaraan politik Secara terpisah, pengamat politik sekaligus Dewan Nasional Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Engelbert Johannes Rohi atau Jojo Rohi menilai, Gibran belum masuk perhitungan pasangan Pilpres 2029. 

Oleh karenanya, sejumlah partai yang mendukung Prabowo dua periode tidak otomatis memberikan dukungan kepada putra Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) itu. 

“Pernyataan banyak parpol dukung Prabowo lanjut periode dua minus Gibran merupakan sinyal politik bahwa Gibran tidak atau belum tentu masuk hitungan dalam opsi pasangan Prabowo di 2029,” ujar Jojo. 

Selain itu, Jojo berpandangan posisi politik Gibran saat ini juga berpengaruh karena ia belum memiliki kendaraan politik yang kuat.

Menurut dia, keberadaan partai politik menjadi faktor krusial dalam penentuan calon wakil presiden. “Gibran secara politik tidak punya kendaraan. 

Kendaraan politik adalah partai. Paling mungkin Gibran akan ‘nebeng’ PSI,” ujar Jojo. 

Di sisi lain, ia menilai langkah agresif Partai Solidaritas Indonesia (PSI) justru berpotensi menjadi bumerang bagi posisi Gibran di tengah koalisi pendukung Prabowo. 

“PSI bisa menjadi musuh bersama bagi partai-partai lain, bukan cuma PDIP, tetapi juga partai-partai dalam koalisi Prabowo. Padahal pemilu masih tiga tahun lagi,” kata Jojo.

Dukung Prabowo, soal cawapres nanti dulu 

Beberapa partai yang menyatakan dukungan ke Prabowo tapi tak otomatis ke Gibran adalah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Amanat Nasional (PAN), hingga Partai Golkar. 

Baca juga: Deretan Bantuan yang Diterima Pedagang Es Gabus yang Difitnah Aparat, Termasuk Uang dari Gibran!

Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar menegaskan partainya siap kembali mendukung Prabowo Subianto untuk dua periode kepemimpinan. 

Menurut Muhaimin, dukungan tersebut didasarkan pada kepuasan PKB terhadap kinerja pemerintahan Prabowo.

“Kita pokoknya intinya puas dengan pemerintahan Pak Prabowo dan kompak minimal dua periodelah,” ujar Muhaimin di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (4/2/2026).

PRABOWO-GIBRAN - (Dok. UGM)

Namun, pria yang akrab disapa Cak Imin belum memberikan jawaban tegas terkait kemungkinan dukungan tersebut diberikan bersama Gibran sebagai calon wakil presiden. 

“Oh belum dibahas. Belum,” tegas Cak Imin saat ditanya mengenai sosok cawapres pendamping Prabowo pada 2029. 

Sikap hampir serupa disampaikan PAN yang menilai Prabowo perlu menjabat selama dua periode agar seluruh program pemerintahan Prabowo dapat direalisasikan secara optimal. 

Meski mendukung Prabowo, PAN belum menetapkan sikap resmi mengenai calon wakil presiden.

“Kita tentu kita lihat nanti opsi-opsi terbaik. Karena kembali lagi, yang namanya paket itu tentu kan harus ada simbiosisnya, bisa bekerja sama dengan baik, ada juga dukungan elektoralnya tinggi dan sebagainya,” ujar Wakil Ketua Umum PAN Eddy saat ditemui di Gedung DPR RI, Kamis (5/2/2026). 

Eddy menegaskan, penentuan pasangan capres-cawapres membutuhkan banyak pertimbangan. 

Secara pribadi, Eddy mengaku lebih mendukung Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan untuk mendampingi Prabowo. 

“Kalau ditanyakan hari ini, saya dukung Pak Zulhas mendampingi Pak Prabowo di tahun 2029 tentu,” kata Eddy, sembari menegaskan bahwa sikap tersebut belum menjadi keputusan resmi partai. (Tribun Trends/Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.