Tujuan SEAblings Bersatu, Perang Knetz vs Netizen Indo Kian Memanas, Negara ASEAN Ikut Mendukung
Candra Isriadhi February 14, 2026 02:44 PM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Misi SEAblings bersatu, perang Knetz vs Netizen Indo kian memanas.

Istrilah SEAblings muncul di tengah perang di media sosial X antara Knetz vs Netizen Indo.

Lantas siapa sebenarnya SEAblings dan apa tujuannya?

RENDING DI TWITTER: Ternyata ini awal mulanya kenapa netizen Korea Selatan 'perang' lawan netizen Indonesia trending di Twitter. Malaysia sampai bela netizen Indo.
RENDING DI TWITTER: Ternyata ini awal mulanya kenapa netizen Korea Selatan 'perang' lawan netizen Indonesia trending di Twitter. Malaysia sampai bela netizen Indo. (X.COM)

Perang komentar bernada rasis pecah di media sosial antara warganet Korea Selatan dan penggemar K-Pop dari sejumlah negara Asia Tenggara, usai peristiwa dalam konser band DAY6 di Kuala Lumpur, Malaysia.

Perseteruan ini memicu saling hujat yang menyasar fisik, kondisi ekonomi, hingga stereotip budaya, dan melibatkan ribuan pengguna media sosial dari dua kawasan.

Media Malaysia Rakyat Post melaporkan, ketegangan bermula dari konser DAY6 yang digelar pada 31 Januari 2026 di Axiata Arena, Kuala Lumpur.

Baca juga: Penyebab Wendy Walters Cerai, Diduga Pergoki Reza Arap Tiduri Asisten Pribadi hingga Wanita Lain

Dalam konser tersebut, seorang fansite master asal Korea Selatan—penggemar yang dikenal kerap mengambil foto dan video berkualitas tinggi tentang idola mereka—diduga membawa peralatan kamera profesional berukuran besar, termasuk lensa panjang, yang disebut-sebut melanggar peraturan acara.

Aksi tersebut direkam oleh penonton asal Malaysia dan videonya dengan cepat menyebar luas di media sosial.

Meski penggemar bersangkutan telah meminta maaf, isu ini tak kunjung mereda.

Situasi justru memanas ketika sejumlah warganet Korsel membela fansite master itu sambil menyerang komunitas penggemar dari Asia Tenggara, dengan komentar bermuatan rasis dan merendahkan.

Twitter bukan cuma buat ngetweet random. Dari retweet berbayar sampai revenue sharing, ada banyak cara bikin akunmu jadi sumber cuan
Twitter bukan cuma buat ngetweet random. Dari retweet berbayar sampai revenue sharing, ada banyak cara bikin akunmu jadi sumber cuan (Tribunnewsmaker.com | image by Ai)

Sejumlah unggahan dari warganet Korea Selatan pun memicu kemarahan.

Salah satu unggahan di platform X (dulu Twitter) memperlihatkan tangkapan layar video klip grup asal Indonesia, disertai tulisan, “Kami tidak punya uang untuk menyewa lokasi syuting, jadi kami merekam di sawah.”

Unggahan lain menunjukkan gambar seekor kera dengan keterangan, “Perempuan Asia Tenggara yang marah.”

Baca juga: Dini Kurnia Bongkar Kebohongan Ressa Rizky Anak Denada, Sebut Pernah Menikah: Ga Rutin Nafkahi Anak

Namun, unggahan itu dibalas oleh pengguna Asia Tenggara dengan gambar serupa dan tulisan berbeda, “Wajah asli orang Korea sebelum operasi plastik.”

Tak berhenti di situ, sebagian warganet "Negeri Ginseng" juga mengejek penampilan sejumlah selebriti Asia Tenggara yang dianggap tidak cukup menarik untuk menjadi bintang hiburan.

SEAblings bersatu

PERANG NETIZEN VIRAL - Perang netizen Korea vs Indonesia viral di X, warganet ASEAN ikut nimbrung di medsos! (Twitter/TribunBogor)

Merespons gelombang ujaran kebencian itu, warganet dari Asia Tenggara—termasuk dari Malaysia, Indonesia, Vietnam, Thailand, dan Filipina—melontarkan komentar balasan yang menyindir balik masyarakat Korea Selatan.

Tagar dan istilah “SEAblings” kembali mencuat, menunjukkan solidaritas dan kekompakan antarwarganet Asia Tenggara.

Sebagian membalas ejekan dengan menyindir fenomena operasi plastik yang jamak dilakukan di Korea Selatan.

Ada pula yang menyoroti kemampuan bahasa Inggris masyarakat Korsel.

Speakeu englisheu, pleaseu. I donteu undertsandeu abouteu whateu you saideu,” tulis seorang pengguna Asia Tenggara, yang kemudian dibalas oleh warganet Korea, “Kami memang tidak pandai berbahasa Inggris, tapi kami tidak miskin seperti kalian.”

Hingga saat ini, perang komentar tersebut masih menjadi topik panas di berbagai platform media sosial.

Insiden ini juga memicu diskusi lebih luas soal etika digital, rasialisme, dan dinamika hubungan antarnegara di kawasan Asia.

(Tribunnewsmaker.com/Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.