TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Di balik riuh tawa penonton yang kerap pecah oleh banyolannya di panggung, Sumisih Yuningsih atau yang lebih dikenal sebagai Yu Beruk, menyimpan ketangguhan sunyi seorang ibu.
Sabtu (14/2/2026) pagi, perempuan tangguh itu berpulang pada usia 76 tahun, meninggalkan kisah tentang bagaimana seni bukan sekadar estetika, melainkan napas untuk menghidupi keluarga.
Maestro seni tradisi Yogyakarta ini mengembuskan napas terakhir pada pukul 08.00 WIB di RSUP Dr Sardjito. Kepergiannya meninggalkan lubang besar di panggung ketoprak dan karawitan, namun bagi ketujuh anaknya, dunia kehilangan sosok yang selama puluhan tahun berdiri tegak melawan badai ekonomi demi masa depan mereka.
Kesehatan Yu Beruk mulai menurun drastis tepat sepuluh hari sebelum kepergiannya. Kondisi itu bermula dari keteguhannya merawat tradisi.
Menjelang bulan suci Ramadan, Yu Beruk masih menyempatkan diri menjalani ritual ngapem—sebuah laku budaya membuat kue apem sebagai simbol permohonan ampunan.
Lisa Pawestriningsih, putri kelima almarhumah, menuturkan bahwa ibunya seolah mengabaikan alarm tubuhnya demi menunaikan kewajiban kultural tersebut.
"Ibu kebetulan kira-kira 10 hari yang lalu itu sempat gerah (sakit). Dulu Ibu kan pernah kena sesak ya, paru-parunya bermasalah, kena infeksi seperti itu. Nah, kemarin itu mungkin kecapekan banyak kegiatan habis ngapem itu. Habis ngapem, terus dua hari langsung ambruk. Biasanya ambruk sakit biasa ya, tapi ini kemudian disertai sesak. Beliau enggak tahan, terus kita bawa ke rumah sakit," tutur Lisa saat ditemui di rumah duka, Sanggar Busana Nawangsih, Mantrijeron.
Baca juga: Suarakan Tragedi Gaza, Massa Gelar Aksi Damai Bela Palestina di Titik Nol Yogyakarta
Sempat dirawat tiga hari di RS PKU Muhammadiyah, ia menunjukkan tanda-tanda pulih pada hari kedua; sempat makan sendiri dan berbincang hangat.
Namun, pada hari ketiga, kesadarannya menurun drastis hingga harus dilarikan ke ICU.
Harapan keluarga sempat membuncah saat Yu Beruk dirujuk ke RSUP Dr Sardjito. Namun, komplikasi infeksi yang meluas di usia senja menjadi tembok yang sulit ditembus.
"Di Sardjito kira-kira baru tiga hari ya. Sebetulnya dapat penanganan yang luar biasa, cuma karena memang ini serangan infeksinya sudah menyebar, kemudian usia mungkin juga pengaruh juga ya, itu jadi komplikasi. Diobati ini kena ini, diobati ini kena ini, terus akhirnya pagi tadi jam sekitar setengah sembilan Ibu dipanggil oleh Allah SWT," ungkap Lisa.
Lisa mengenang ibunya sebagai sosok yang tidak pernah menyerah pada keadaan, bahkan di saat tubuhnya tak lagi kompromi.
"Yang jelas Ibu itu sosok perempuan yang luar biasa. Beliau sangat kuat. Bahkan di saat beliau sakit aja, mungkin kalau tidak sekuat Ibu, nuwun sewu ya, mungkin sudah kemarin-kemarin. Tapi ini Ibu, walaupun dengan alat-alat seperti itu, kondisi Ibu masih mau berjuang bertahan luar biasa sampai pagi tadi. Beliau itu perempuan yang kuat menghidupi kami semuanya, anak-anaknya tekan ada tujuh ya. Kita tujuh bersaudara, Ibu menghidupi dengan berkesenian. Dan itu membuat kita juga belajar kuat dari Ibu," kata Lisa.
Sebuah momen emosional terekam pada Januari lalu, saat Yu Beruk merayakan ulang tahunnya yang ke-76 pada 5 Januari 2026 lalu namun baru dirayakan tiga hari berselang. Perayaan itu dihadiri oleh sahabat karibnya, seniman kawakan Yati Pesek, dan puluhan seniman muda.
Siapa sangka, kemeriahan tari Gambyong dan gelak tawa di hari itu adalah kado pamit darinya.
"Itu ndelalah (kebetulan) Mas, meriah sekali. Semua gambyong, ada Bu Yati Pesek, ada semua seniman kumpul di situ. Gambyong bareng, senang, Ibu ikut joget. Di situ Ibu senang sekali dan mengatakan itu ulang tahun terakhir. Itu yang tidak pernah kita pikirkan, itu mungkin firasat dari Ibu selama ini. Itu mungkin secara tersirat beliau ngomong ke mbak saya, 'Aku besok meneh wes ora iki, ulang tahun terakhir' (Besok-besok aku sudah tidak ada, ini ulang tahun terakhir)," kenang Lisa.
Keteguhan Yu Beruk pada seni memang tidak berbatas. Lisa menceritakan bahwa malam sebelum perayaan ulang tahun tersebut, sang ibu masih melakoni tanggapan wayangan hingga pukul satu dini hari.
Baginya, panggung bukan lagi soal mencari rupiah, melainkan obat penawar rindu akan dunia seni yang telah membesarkannya.
"Ibu itu tetap akan berkesenian sampai titik Ibu tidak ada. Itu jiwa-jiwa seniman Ibu yang luar biasa. Meskipun beliau sebetulnya secara fisik sudah enggak mampu, kadang-kadang dipaksakan karena saking cintanya pada kesenian mungkin ya. Jadi kadang-kadang dipaksakan secara fisik enggak mampu. karena beliau cinta, jadi mungkin perhitungannya enggak cuma masalah rupiah dan honor, tapi lebih ke kerinduan beliau yang sudah lama tidak mentas karena sakit-sakit terus itu."
Warisan di Sanggar Nawangsih
Kini, Sanggar Busana Nawangsih tak lagi mendengar suara tawa khas Yu Beruk.
Jenazahnya disemayamkan di tempat yang selama ini menjadi pusat pembinaan perajin busana tradisi itu, sebelum akhirnya dibawa menuju peristirahatan terakhir di Makam Dongkelan selepas ashar.
Lisa Pawestri, sebagai satu-satunya anak yang meneruskan jejak di dunia kesenian, kini memikul estafet perjuangan ibunya.
Yu Beruk telah pergi, namun ia telah mewariskan satu nilai penting bagi generasi penerus bahwa tradisi harus dirawat dengan cinta, bukan sekadar untuk bertahan hidup, tapi untuk memberi hidup bagi orang lain. (*)