Suarakan Tragedi Gaza, Massa Gelar Aksi Damai Bela Palestina di Titik Nol Yogyakarta
Hari Susmayanti February 14, 2026 03:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Tragedi kemanusiaan yang terus berlangsung di Gaza, Palestina, kembali memicu gelombang solidaritas di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Ratusan orang menggelar aksi damai penolakan terhadap agresi militer Israel dengan berjalan kaki menyusuri kawasan Malioboro hingga berakhir di kawasan Titik Nol Kilometer, Yogyakarta.l, Sabtu (14/2/2026).

Dalam aksi tersebut, para peserta membawa boneka sebagai simbol dan pesan kuat mengenai tragedi kemanusiaan yang tengah terjadi di Gaza.

Simbol tersebut digunakan untuk mengingatkan publik bahwa ribuan nyawa anak-anak telah hilang akibat serangan Israel.

Aisyah, salah satu peserta aksi dari SMP IT Abu Bakar Ali Yogyakarta, menuturkan bahwa aksi ini murni merupakan bentuk perjuangan damai.

"Kami ingin menyampaikan bahwa kita harus menghentikan serangan Israel. Bentuk dukungan kami adalah dengan melakukan perjuangan damai. Melalui aksi ini, kami menyuarakan perdamaian, salah satunya adalah melalui doa-doa yang kami panjatkan," ujar Aisyah. 

Ia juga menyebutkan bahwa aksi ini diikuti oleh sekitar 170-an orang yang bergerak dari area Malioboro menuju garis akhir di Titik Nol.

Selain menyuarakan perdamaian, massa aksi juga membawa tuntutan konkret kepada masyarakat. 

Mereka menyerukan pemboikotan terhadap produk-produk yang terafiliasi dengan Israel sebagai bukti nyata bahwa masyarakat tidak membiayai operasional militer Israel.

Massa juga diajak untuk terus membuat unggahan berupa story "Free Palestine" di media sosial guna menyuarakan dukungan tanpa henti kepada warga Gaza.

Baca juga: Rakerda KONI DIY 2026, HB X Tekankan Olahraga DIY Harus Berbasis Karakter

Pesan Kemanusiaan Jelang Ramadan

Satu di antara orasi dalam aksi tersebut disampaikan 

Atiatul Muqtadir atau Fathur, yang pernah menjabat sebagai Ketua BEM UGM. Di hadapan peserta aksi, ia menegaskan bahwa perkumpulan tersebut didasari murni oleh rasa kemanusiaan.

"Kami harus sampaikan bahwa kami yang berkumpul di sini, di Titik Nol, dengan baju hitam putih, dengan kaos-kaos hitam, dengan poster-poster yang diangkat, dengan bendera yang dikibarkan, bukanlah pelaku kriminal, betul? Bukan antek-antek asing, betul? Bukan membenci pemerintah, betul? Tapi kami hari ini hadir karena rasa kemanusiaan, setuju?," tegas Fathur.

Lebih lanjut, Fathur menyoroti eskalasi kekerasan yang kerap dilakukan Israel terhadap warga Gaza, terutama ketika mendekati momentum bulan suci Ramadan.

"Hari ini ada banyak isu yang hadir di media sosial kita yang memecah barisan kita, yang membuat kita kehilangan fokus. Padahal sebentar lagi menyambut Ramadan, dan saudara-saudara semua, kita sudah tahu, Israel laknatullah selalu—setiap tahunnya—menggunakan momentum Ramadan untuk menghajar Gaza secara masif, betul? Tahun lalu, Al-Aqsa-nya dihancurkan. Tahun ini, disiapkan senjata peluru dan pisau yang melukai saudara-saudara kita di Gaza. Apakah kita terima dengan itu semua? Apakah kita marah? Mendidih rasanya jiwa kita melihat saudara-saudara seiman, saudara-saudara kemanusiaan. Mereka manusia, mereka bukan binatang! Mereka adalah orang-orang yang memiliki anak, orang-orang yang memiliki istri, yang memiliki suami, yang memiliki keluarga. Namun rasanya nyawa itu tidak berharga di tangan Israel laknatullah, betul?" serunya di hadapan massa.

Sebagai penutup, ia menyerukan agar masyarakat lintas golongan, tanpa memandang preferensi politik maupun latar belakang, bersatu mendukung kemerdekaan Palestina secara maksimal.

"Pesan saya pagi ini cuma satu, saudara-saudara semua. Bahwa tugas kita hari ini adalah bersatu, bukan terpecah belah. Isu Palestina ini bukan hanya milik aktivis dengan jilbab yang lebar. Bukan hanya milik pejuang-pejuang dengan jubah-jubah yang panjang. Isu Palestina ini adalah isu bersama milik kita semua! Baik yang mendukung Presiden A maupun Presiden B, isu Palestina adalah isu bersama, betul? Baik yang dia nonton drama China ataupun nonton drama Korea, boleh enggak bersuara bela Palestina? Bukan boleh, tapi wajib! Apapun hobinya, kita dipersatukan dengan satu perasaan yang sama, yaitu kemerdekaan Palestina. Maka ini adalah momentum untuk buka kembali, untuk mengajak saudara-saudara kita. Mari kita lakukan semampu kita, bukan seadanya, tapi semampunya yang kita bisa untuk membela Palestina. Dengan harga yang mahal yang harus kita bayar, dengan harta yang kita cintai, dengan suara yang bisa kita suarakan, dengan energi yang bisa kita keluarkan, dan dengan aktivitas ekonomi," pungkas Fathur. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.