Tribunlampung.co.id, Sintang - Nasib pilu dialami seorang ibu di Sintang, Kalimantan Barat.
Bagaimana tidak, ia harus rela kehilangan anak bungsunya yang tewas tenggelam di Sungai Melawi.
Sementara tiga anak lainnya telah terlebih dahulu dipanggil oleh Yang Maha Kuasa.
Kurang dari 24 jam sejak kabar tenggelamnya lima anak yang mandi di sungai, tim SAR gabungan bersama warga akhirnya menemukan tiga pelajar semuanya tak lagi bernyawa.
Korban terakhir ditemukan adalah FN, siswi SDN 18 Kelurahan Ladang.
Baca Juga Orangtua Histeris Saksikan 4 Bocah Tewas Tenggelam, Sungai Lebihi Tinggi Badan Korban
Ia menyusul dua temannya, ANG siswi kelas II SMP Negeri 1 Sintang, dan DR, siswi SD Negeri 05 Sintang.
Di tepi sungai yang kembali sunyi, tangis keluarga pecah.
Harapan yang semula dipeluk erat, perlahan luruh.
Plt Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Sintang, Siti Musrikah, mengaku tak sanggup menahan perasaan saat bertemu keluarga korban.
Ia terbiasa menghadapi berbagai peristiwa darurat, tetapi kejadian ini berbeda.
Yang paling mengguncangnya adalah kisah FN.
Dia anak bungsu. Orangtuanya punya empat anak, dan semuanya sudah meninggal.
"Ada yang karena sakit, keguguran, dan FN ini anak terakhir yang dititipkan Tuhan. Sekarang ikut diambil,” papar Siti dengan suara pelan dikutip dari TribunSintang.com
Di depan rumah duka, sang ibu hanya bisa terduduk dengan air mata yang tak lagi bisa dihentikan.
Kehilangan anak terakhirnya membuatnya syok.
Pertanyaan sederhana namun berat berulang keluar dari bibirnya mengapa semua yang ia miliki harus pergi?
Ia mencoba menguatkan dengan kalimat sederhana.
Berkata bahwa kasih Tuhan lebih besar dari kasih manusia, dan mungkin itulah alasan anaknya dipanggil lebih dahulu.
Namun kata-kata penghiburan terasa kecil di hadapan luka seorang ibu.
Kesedihan serupa juga menyelimuti keluarga DR.
Ibunya mengaku memiliki firasat.
Beberapa hari terakhir, anaknya menjadi lebih manja sering memeluk dan mencium dirinya.
Sebuah perhatian yang kala itu terasa biasa, kini justru menjadi kenangan terakhir.
Kamis sore itu, DR pergi mandi ke sungai tanpa pamit.
Tak ada yang menyangka, pertemuan sebelumnya merupakan pelukan terakhir.
Menurut keluarga, mandi dan menyeberang sungai sudah menjadi kebiasaan warga, terutama saat air surut.
Namun saat kejadian, Sungai Melawi masih cukup dalam.
Dari lima anak yang mandi, hanya satu yang bisa berenang.
“Namanya ajal, kita tidak pernah tahu,”
“Tidak ada satu pun manusia yang bisa melawan takdir.” ujar Siti lirih.