Laporan Wartawan TribunJabar.id, Nazmi Abdurrahman
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Ratusan ikan dewa (Tor Soro) di kolam Balong Girang, Kelurahan Cigugur, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, mati. Total ada 961 ekor ikan yang mati secara bertahap dari 29 Januari hingga 12 Februari 2026.
Kematian ikan dewa dimulai sejak 29 Januari 2026 sebanyak 24 ekor, kemudian pada Jumat 30 Januari 2026 sebanyak 25 ekor, 31 Januari 37 ekor, 1 Februari 55 ekor dan 2 Februari 62 ekor.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Provinsi Jawa Barat, lendra Sofyan, mengatakan berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan Dinas Perikanan Kabupaten Kuningan terhadap ikan yang mati dan masih hidup, ditemukan luka merah pada permukaan tubuh, insang berwarna pucat hingga memutih, dan sisik mudah terkelupas.
Baca juga: Tragedi Balong Cigugur: Kematian Ikan Dewa Tembus 923 Ekor, 80 Persen Populasi Musnah
"Gejala ini menunjukkan ada gangguan di pernapasan, integumen serta penurunan kondisi fisiologis ikan," ujar lendra, Sabtu (14/2/2026).
Dikatakan lendra, tim dari Dinas Perikanan Kuningan juga menemukan infestasi cacing jangkar atau lernaea sp, yang menempel pada kulit, insang dan rongga mulut ikan. Keberadaannya menyebabkan luka mekanis pada jaringan ikan yang berpotensi membuka infeksi sekunder.
"Hasil wawancara dengan pengelola, ikan tidak diberi pakan secara rutin baik dari segi kualitas dan kuantitas. Hal itu dapat terlihat dari kondisi ikan yang tidak proporsional," katanya.
Tim juga melakukan pengukuran kondisi kualitas air, pada 30 Januari 2026 dan hasilnya, suhu relatif rendah, PH agak asam, fosfat sangat rendah.
“Suhu yang rendah dapat menurunkan laju metabolisme dan respon imun ikan. Kondisi PH asam dapat menyebabkan iritasi pada insang dan kulit, menekan kekebalan ikan, mengganggu proses osmoregulasi," katanya.
Baca juga: Tragedi Ikan Dewa Cigugur: 30 Tahun Tak Dikuras hingga Perut Ikan Kering Tanda Kurang Nutrisi
Kondisi PH yang asam, kata dia, diduga akibat hujan terus menerus, menyebabkan kadar oksigen larut dalam air menurun dan mengakibatkan stres serta daya tahan tubuh menurun. Selain itu, kadar fosfor yang rendah mengakibatkan penurunan kondisi ikan dalam jangka panjang dan daya tubuh ikan.
Iendra mengatakan, dalam kondisi stres dan lemah, cacing jangkar akan menyerang. Ditambah lingkungan kurang optimal, sehingga mempercepat peredaran parasit serta meningkatkan serangan kepada inang.
"Adanya serangan bakteri Aeromonas hydrophila yang bisa mengakibatkan kematian 80 sampai 100 persen selama kurun waktu satu dua pekan ditambah infestasi parasit Lernaea sp dan Dactylogyrus sp," katanya.