TRIBUNBANTEN.COM, SERANG-Langit sore menggantung hangat di atas kawasan Banten Lama, Kota Serang, Provinsi Banten, Sabtu (14/2/2026).
Angin dari pesisir utara berembus pelan, menyapu halaman masjid dan reruntuhan batu bata merah yang telah berabad-abad menyimpan kisah kejayaan.
Menjelang Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi, ribuan orang tumpah ruah datang.
Mereka menyebutnya munggahan, tradisi menyambut bulan suci dengan berkumpul, makan-makan, berziarah, dan menata hati.
Sejak pukul 16.00 WIB, arus pengunjung tak putus-putus memasuki kawasan yang menjadi jantung sejarah Kesultanan Banten itu.
Ada yang datang berombongan bersama keluarga, ada pula rombongan pekerja yang menyempatkan diri selepas jam kerja.
Di pelataran Masjid Agung Banten, sebagian pengunjung menunaikan salat, sebagian lainnya duduk melingkar menikmati bekal sederhana, berbagi cerita, dan mengabadikan momen.
Tak jauh dari sana, anak-anak berlarian di sekitar taman yang menghadap puing-puing Keraton Surosowan.
Bata-bata tua yang tersisa menjadi saksi bisu perjalanan panjang Banten sebagai bandar niaga penting di Nusantara.
Sementara di sisi lain, Menara masjid berdiri tegak, ikon yang tak pernah absen dari bingkai foto para peziarah.
Erna, wanita paruh baya, pekerja pabrik asal Lampung yang kini bekerja di kawasan industri Serang, mengaku sengaja datang bersama rekan-rekannya untuk munggahan.
“Kita lagi jalan-jalan saja bareng teman-teman kerja ke Banten Lama, sekalian munggahan jelang puasa Ramadan,” ujar Erna singkat saat ditanyai TribunBanten.com.
Bagi Erna, kunjungan itu bukan sekadar wisata, melainkan cara sederhana menyambut Ramadan dengan suasana religius.
Tradisi munggahan di Banten memang tak lepas dari kebiasaan ziarah dan silaturahmi.
Banyak warga memulai dengan berdoa di dalam masjid, lalu beranjak ke kompleks pemakaman sultan dan ulama di sekitar kawasan.
Ada pula yang memilih duduk santai di plaza menara, menikmati suasana senja sembari menanti azan Magrib.
Banten Lama bukan sekadar destinasi wisata religi. Di sinilah jejak Kesultanan Banten bermula pada abad ke-16.
Sejarah mencatat, wilayah ini berkembang pesat setelah dakwah Islam yang dipelopori oleh Sunan Gunung Jati dan putranya, Sultan Maulana Hasanuddin.
Pada 1552, Maulana Hasanuddin dinobatkan sebagai sultan pertama, menandai berdirinya Kesultanan Banten yang kemudian tumbuh menjadi kekuatan politik dan ekonomi di pesisir barat Jawa.
Letaknya yang strategis di jalur perdagangan Selat Sunda menjadikan Banten pelabuhan penting bagi saudagar dari berbagai penjuru dunia Arab, Gujarat, hingga Eropa. Pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1651–1683), Banten mencapai puncak kejayaan.
Perdagangan lada berkembang pesat, hubungan diplomatik terjalin luas, dan pembangunan infrastruktur diperkuat.
Namun, konflik internal dan campur tangan VOC Belanda perlahan melemahkan kesultanan. Keraton Surosowan yang dahulu megah dihancurkan pada akhir abad ke-17.
Kini, yang tersisa hanyalah struktur bata dan fondasi bangunan, ruang sunyi yang justru mengundang banyak orang untuk merenung.
Masjid Agung Banten sendiri dibangun pada 1566 dan hingga kini tetap menjadi pusat aktivitas ibadah.
Arsitekturnya unik, memadukan gaya Jawa, Tiongkok, dan Eropa. Atap tumpang lima menyerupai pagoda, sementara menaranya yang berbentuk mercusuar menjadi penanda visual kawasan sejak ratusan tahun silam.
Baca juga: 7 Rekomendasi Pantai di Anyer Cinangka Cocok Jadi Tempat Munggahan Berkumpul Jelang Puasa Ramadan
Menjelang Ramadan, denyut Banten Lama terasa berbeda. Pedagang kaki lima memadati sisi jalan, menjajakan makanan ringan, minuman, hingga cendera mata.
Aroma jajanan bercampur dengan semilir angin laut, menghadirkan suasana khas yang hanya muncul setahun sekali menjelang bulan puasa.
Sebagian pengunjung datang dengan niat beribadah, sebagian lainnya memanfaatkan momentum untuk rekreasi keluarga.
Namun keduanya berpadu tanpa sekat. Di satu sudut terdengar lantunan doa, di sudut lain gelak tawa anak-anak mengisi sore.
Bagi banyak orang, Banten Lama bukan sekadar situs sejarah. Ia adalah ruang temu antara masa lalu dan masa kini antara kejayaan para sultan dan harapan umat yang hendak memasuki Ramadan.
Di bawah langit senja yang mulai menggelap, ribuan langkah terus berdatangan, seakan menegaskan bahwa tradisi munggahan tak hanya tentang perayaan, tetapi juga tentang merawat ingatan dan memperkuat iman