TRIBUNNEWS.COM – Manchester United kembali menjadi sorotan di bursa transfer. Setelah menghabiskan dana besar dalam beberapa tahun terakhir, klub berjuluk Setan Merah itu kini berada di persimpangan penting: memperkuat skuad tanpa mengorbankan stabilitas finansial.
Kebijakan penjualan pemain pun tak terelakkan. Namun, satu keputusan di bursa transfer musim panas lalu kini terasa seperti bumerang besar bagi klub Old Trafford tersebut.
Nama Scott McTominay menjadi contoh paling nyata. Gelandang asal Skotlandia itu dilepas ke Napoli dengan nilai sekitar £25 juta (sekitar Rp574 miliar), sebagai bagian dari strategi efisiensi finansial INEOS sekalu perusahaan milik Sir Jim Ratcliffe.
Alih-alih meredup, McTominay justru meledak di Italia. Ia mencetak 13 gol di semua kompetisi musim 2024/2025, sebuah kontribusi luar biasa dari lini tengah, yang mengantarkannya meraih gelar Pemain Terbaik Serie A sekaligus membawa Napoli juara.
Performa impresif itu berlanjut pada musim ini. McTominay telah mencatatkan 10 gol dan 4 assist dalam 34 penampilan di semua kompetisi.
Melihat kondisi lini tengah Manchester United yang kerap inkonsisten, keputusan melepas McTominay kini dipandang sebagai kesalahan strategis.
Baca juga: Bruno Fernandes di Ambang Sejarah MU: Tinggal Satu Assist Lampaui Rekor Ryan Giggs
Tak ingin mengulang kesalahan yang sama, Manchester United dikabarkan siap bergerak agresif pada bursa transfer musim panas mendatang. Lini tengah menjadi fokus utama perombakan skuad.
Salah satu nama yang muncul adalah Aleksandar Stankovic dari Club Brugge.
Gelandang berusia 20 tahun itu juga masuk radar Arsenal, Tottenham Hotspur, dan Inter Milan.
Meski demikian, fokus utama United justru mengarah ke Spanyol.
Menurut laporan Thehardtackle, Manchester United siap mengajukan tawaran sebesar £40 juta (sekitar Rp919 miliar) untuk Marcos Llorente dari Atletico Madrid.
Situasi kontrak Llorente dinilai membuka peluang besar.
Pemain berusia 31 tahun itu hanya menyisakan kontrak hingga Juni 2027. Membuat Atletico Madrid disebut berpotensi menjual sang pemain demi menghindari kepergian gratis.
Faktor usia, pengalaman, serta durasi kontrak tersebut membuat Manchester United optimistis bisa mendapatkan pemain berpengalaman dengan harga relatif masuk akal.
Kedatangan Llorente dinilai sangat cocok dengan perkembangan Kobbie Mainoo, terlebih setelah penunjukan Michael Carrick sebagai manajer sementara.
Sejak Carrick mengambil alih, Manchester United tampil impresif dengan catatan tak terkalahkan dalam lima laga beruntun.
Mainoo selalu menjadi starter dan mencatatkan dua assist, sekaligus memainkan peran krusial di sepertiga akhir lapangan.
Saat ini, Mainoo beroperasi sebagai gelandang box-to-box bersama Casemiro. Kehadiran Llorente berpotensi memberikan keseimbangan defensif, membebaskan Mainoo untuk lebih ofensif, serta meningkatkan produktivitas gol dari lini kedua.
Performa Llorente musim ini di La Liga menegaskan kualitasnya. Ia mencatatkan akurasi umpan 89 persen, menciptakan rata-rata 1,2 peluang per 90 menit, dikutip dari footballfancast.
Llorente juga dikenal sebagai pemain yang sangat tahan banting. Ia hanya tujuh kali absen karena cedera hamstring dan hampir tak pernah menjadi cadangan, menjadikannya pilar penting dalam sistem Atletico Madrid.
Pencari bakat ternama Jacek Kulig bahkan menjulukinya sebagai pemain serba bisa karena melihat kontribusinya di kedua sisi lapangan.
Meski tak lagi muda, Marcos Llorente menawarkan pengalaman level elite, fleksibilitas posisi, mentalitas pekerja keras, serta konsistensi yang sangat dibutuhkan Manchester United.
Dengan banderol £40 juta, transfer ini dinilai sebagai langkah pragmatis Setan Merah untuk menutup luka lama akibat kepergian Scott McTominay, sekaligus membangun fondasi baru di lini tengah bersama Kobbie Mainoo.
(Tribunnews.com/Ali)