SURYA.CO.ID, KEDIRI - Puluhan mahasiswa dari berbagai wilayah bersama komunitas masyarakat berkumpul di lereng Gunung Wilis untuk menggelar doa dan refleksi kebangsaan.
Kegiatan ini berlangsung khidmat di pusara Ibrahim Datuk Tan Malaka yang terletak di Desa Selopagung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur (Jatim), Sabtu (14/2/2025).
Acara tersebut digelar dalam rangka memperingati haul ke-77 tokoh yang dikenal sebagai 'Bapak Republik'. Peringatan tahun ini juga memiliki makna khusus, karena menandai dua dekade sejak lokasi makam Tan Malaka ditemukan di kawasan tersebut pada tahun 2007 silam melalui penelitian panjang sejarawan Harry A Poeze.
Suasana haru menyelimuti rangkaian acara yang diisi dengan doa bersama, orasi kebangsaan, hingga pembacaan puisi.
Peserta yang hadir tidak hanya berasal dari Kediri, tetapi juga dari berbagai kota di Jawa Timur hingga luar daerah yang sengaja datang sejak pagi hari.
Ketua Tan Malaka Institute Jawa Timur, Imam Mubarok atau yang akrab disapa Gus Barok, menegaskan bahwa peringatan haul ini adalah momentum penting untuk menjaga semangat perjuangan Tan Malaka.
Ia mengingatkan, bahwa pengakuan Tan Malaka sebagai Pahlawan Nasional sudah sah secara hukum.
"Tan Malaka adalah Bapak Bangsa. Ide tentang Republik Indonesia lahir dari pemikiran beliau melalui buku 'Naar de Republiek Indonesia' pada 1925, jauh sebelum proklamasi kemerdekaan. Kita berkumpul di sini agar semangatnya tetap hidup, karena gagasan Tan Malaka tidak pernah mati," tegas Gus Barok dalam orasinya.
Sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 53 Tahun 1963 yang ditandatangani Presiden Soekarno, Tan Malaka resmi menyandang gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional.
Gus Barok berharap, status ini terus diingat oleh generasi muda sebagai fondasi intelektual bangsa.
Dalam refleksi tersebut, peserta diajak menelaah kembali pemikiran Tan Malaka melalui bukunya yang paling fenomenal, Madilog (Materialisme, Dialektika, dan Logika). Karya ini dinilai masih sangat relevan untuk mendorong masyarakat berpikir rasional di tengah gempuran informasi saat ini.
Gus Barok menambahkan, bahwa pemikiran ilmiah yang ditawarkan Tan Malaka dapat menjadi benteng bagi generasi muda dalam menghadapi arus hoaks dan fanatisme sempit.
"Madilog mengajarkan kita untuk berpikir ilmiah, objektif dan berani mempertanyakan sesuatu secara logis. Ini penting agar kita tidak terjebak dalam takhayul atau logika mistika," tambah Gus Barok.
Peringatan ini juga mendapatkan apresiasi mendalam dari tanah kelahiran Tan Malaka di Sumatra Barat.
Ketua Yayasan Ibrahim Tan Malaka, Ferizal Sultan Purnama Agung, menyampaikan terima kasih kepada warga Kediri yang selama ini menjaga makam leluhur mereka.
"Atas nama keluarga dan yayasan, kami menghaturkan penghargaan setinggi-tingginya. Hal ini mempererat silaturahmi antara keluarga di Limapuluh Kota dengan keluarga besar di Kediri," ungkap Ferizal.
Ia juga menyebutkan, bahwa peringatan serupa akan digelar di Sumatra Barat pada 21 Februari mendatang.
Data Tambahan Mengenai Tan Malaka:
Sebagai imbauan bagi generasi muda, penting untuk mulai membaca sejarah dari sumber primer dan literatur asli para pendiri bangsa.
Dengan memahami sejarah secara utuh, kita dapat mengambil sari pati perjuangan mereka untuk diterapkan dalam menjaga kedaulatan NKRI di masa depan.