TRIBUN-SULBAR.COM - Kasus bocah mengakhiri hidup kembali terjadi.
Usai di Nusa Tenggara Timur, kasus kali ini terjadi di Demak Jawa Tengah.
Kabar menjadi hal yang sangat memprihatinkan.
Menambah rentetan kasus bunuh diri pada anak usia dini di Indonesia.
Kondisi tersebut sangat berkaitan dengan garis kemiskinan yang masih tinggi di Indonesia.
Baca juga: Angka Bunuh Diri di Sulbar Meningkat, 36 Kasus Sepanjang 2024
Diketahui, kasus bocah di NTT akhiri hidup karena orang tuanya tak mampu beli buku dan pulpen.
Terbaru di Demak, korban merupakan anak perempuan berusia 12 tahun.
Korban diduga sakit hati terhadap ibunya.
Dikutip dari Tribun Jateng, korban sempat mengunggah percakapan melalui pesan WhatsApp (WA) yang diduga berisi makian.
Kasat Reskrim Polres Demak, Iptu Anggah Mardwi Pitriyono, membenarkan adanya unggahan tersebut.
Tangkapan layar percakapan itu diunggah korban beberapa hari sebelum peristiwa tragis terjadi.
"Screenshot chat dari ibu ke korban lalu diunggah oleh korban di WhatsApp beberapa hari sebelum peristiwa terjadi," kata Anggah, Jumat (13/2/2026).
Unggahan itu kemudian tersebar luas di media sosial, termasuk dibagikan akun Instagram @infodemakraya.
Pertama Kali Diketahui Ibu Korban
Anggah menjelaskan, insiden tersebut pertama kali diketahui oleh ibu korban.
Berdasarkan rekaman kamera pengawas, ibu korban pulang ke rumah pada pukul 18.01 WIB.
"Berdasarkan rekaman CCTV, ibu korban naik mobil pulang ke rumah. Lalu masuk ke rumah pukul 18.01 WIB," jelas Anggah.
Ia kemudian keluar rumah dan berteriak meminta pertolongan.
"Jam 18.03 WIB, ibu korban keluar dan berteriak. Jadi ibu korban ini yang pertama mengetahui anaknya gantung diri," ujar Anggah.
Warga yang mendengar teriakan tersebut segera berdatangan.
Korban lalu dilarikan ke Rumah Sakit Wongsonegoro Semarang menggunakan mobil milik ibunya yang dikemudikan tetangga, sementara sang ibu menyusul dengan sepeda motor.
Hasil visum dokter forensik menemukan tanda-tanda yang mengarah pada kematian akibat gantung diri.
"Ada luka akibat kekerasan tumpul berupa jejas atau lecet gantung pada leher.
Korban diduga meninggal dunia karena lemas.
Berdasarkan hasil pemeriksaan forensik dan rekaman CCTV, kepolisian membantah dugaan bahwa korban dibunuh oleh ibunya.
"Dari hasil pemeriksaan dokter forensik tadi, kemudian kita lihat rekaman CCTV yang menunjukkan ibu korban masuk ke rumah jam 18.01 WIB dan keluar jam 18.03 WIB sambil histeris untuk meminta tolong ke tetangga sebelah."
"Dengan rentang waktu sekitar 1,5 - 2 menit, tidak memungkinkan indikasi ibu korban melakukan pembunuhan," kata Anggah.
Selain itu, aktivitas terakhir di HP korban yaitu pukul 16.25 WIB. Selama rentang waktu itu hingga ibu korban pulang, tidak terlihat ada orang lain yang masuk ke rumah.
Anggah mengakui bahwa sebelumnya sang ibu beberapa kali mengirim pesan bernada marah dan mengandung kata-kata kasar kepada korban.
Namun, ia menegaskan bahwa penyebab pasti tindakan korban tidak dapat disimpulkan hanya dari percakapan tersebut.
"Memang sebelumnya ibunya itu sempat beberapa kali chat marah-marah dan ada kata-kata kasar.
Tetapi penyebab korban gantung diri tidak bisa kita simpulkan karena hal itu, karena masih banyak faktor-faktor lainnya yang harus dilakukan pendalaman," ujar Anggah.
"Namun dari kejadian ini, kami harap para orang tua bisa lebih bijak dalam berkomunikasi dengan anaknya.
Selain itu, selalu perhatikan dan awasi aktivitas media sosial anak-anaknya sehingga anak merasa bahwa ada orang tua yang selalu hadir dan mendengarkan dirinya," tutupnya.
Sebelumnya, siswa SD berinisial YBR (10 tahun) di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengakhiri hidup dengan gantung diri.
YBR mengakhiri hidup diduga karena tidak mampu memenuhi kebutuhan sekolah, yakni buku dan pulpen yang tersirat dalam secarik kertas tulisan tangan yang ditemukan polisi.
YBR ditemukan meninggal dunia setelah mengakhiri hidupnya di kebun dekat pondok bambu yang menjadi tempat tinggalnya bersama sang nenek di Desa Nenowea, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, NTT, Kamis, 29 Januari 2026.
Polres Ngada mengungkap ada sejumlah faktor yang melatarbelakangi YBR mengakhiri hidup.
Polisi menyebut ada akumulasi berbagai tekanan yang dialami korban.
Kapolres Ngada, AKBP Andrey Valentino, menyampaikan salah satu faktor yang teridentifikasi adalah keterbatasan ekonomi keluarga, termasuk ketidakmampuan korban membeli buku dan alat tulis sekolah.
“Jadi, ada banyak faktor yang menyebabkan anak ini mengakhiri hidupnya,” kata Andrey, Kamis (5/2/2026), dilansir POS-KUPANG.com.
“Banyak faktor penyebabnya. Salah satunya terkait alat tulis,” lanjutnya.
Andrey menuturkan, pada malam sebelum kejadian, orang tua korban sempat menasihati YBR agar tidak bermain hujan-hujanan.
Menurutnya, nasihat tersebut disampaikan agar korban tidak jatuh sakit dan kembali meminta izin tidak masuk sekolah.
“Namun, mungkin cara penerimaan anak berbeda. Bisa saja anak merasa tersinggung atau tertekan."
"Jadi ceritanya bukan semata-mata karena alat tulis, tetapi juga karena sering dinasihati oleh ibunya,” ungkap Andrey.
Sementara itu, berdasarkan hasil penyelidikan, polisi memastikan tidak ditemukan unsur kekerasan dalam kasus siswa SD di NTT yang mengakhiri hidup ini.
Hal itu diperkuat dengan hasil visum yang tidak menunjukkan adanya tanda-tanda kekerasan fisik pada tubuh korban.
Penyelidikan polisi juga tidak menemukan indikasi perundungan di lingkungan sekolah yang dapat memicu kondisi psikologis korban.
“Kesimpulan sementara, tindakan tersebut dilakukan atas kehendak korban sendiri,” tegas Andrey.
Apabila Anda saat ini mengalami depresi atau keinginan bunuh diri, jangan putus asa, jangan ragu bercerita, berkonsultasi atau memeriksakan diri ke psikiater, psikolog atau klinik kesehatan jiwa.
Depresi dan gangguan kejiwaan dapat pulih dengan bantuan profesional kesehatan mental.
Temukan informasi mengenai bagaimana menjaga kesehatan mental dan menghubungi layanan profesional di laman Pencegahan Bunuh Diri Into The Light Indonesia di www.intothelightid.org/tentang-bunuh-diri.