Magang Luar Negeri Jadi Bekal, Lulusan Unisba Disiapkan Siap Kerja hingga Berwirausaha
Muhamad Syarif Abdussalam February 14, 2026 11:11 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Tingginya angka lulusan perguruan tinggi yang belum sepenuhnya terserap dunia kerja menjadi tantangan serius bagi kampus. 

Menangapi hal tersebut, Universitas Islam Bandung mendorong program magang luar negeri sebagai salah satu strategi menyiapkan lulusan agar lebih siap bersaing, bahkan sejak masih berstatus mahasiswa.

Hal tersebut disampaikan Rektor Unisba, Prof. Harits Nu’man pada wisuda gelombang pertama tahun akademik 2025–2026 di Aula Unisba, Sabtu (14/2/2026). 

Prof. Harits menyebut sekitar 1.280 lulusan dilepas dalam tiga sesi. Bahkan sebagian lulusan bahkan telah bekerja sebelum resmi diwisuda.

Magang luar negeri disebut menjadi salah satu pintu masuk. Mahasiswa dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Kedokteran, Fakultas Syariah, Fakultas Tarbiyah, Fakultas Psikologi, hingga Fakultas Ilmu Komunikasi mengikuti program di Malaysia, Thailand, Singapura, bahkan Hungaria. 

Setiap semester, rata-rata lima sampai sepuluh mahasiswa diberangkatkan.

"Skemanya beragam. Ada yang mengikuti program Kemendikti Saintek, ada pula yang berangkat mandiri dengan dukungan kampus berupa bantuan uang saku dan pengurusan izin akademik," katanya.

Dikatakannya, khusus Fakultas Kedokteran, mitra di Singapura memberikan dukungan beasiswa.

Menurut Prof. Harits, pengalaman di luar negeri memberi bekal yang tidak sepenuhnya diperoleh di ruang kuliah, terutama dalam hal kemampuan bahasa Inggris, adaptasi budaya kerja, dan kedisiplinan profesional.

Pihaknya juga menekankan penguatan kewirausahaan. Sejumlah lulusan memilih membangun usaha sendiri setelah menyelesaikan studi.

Model ini, kata dia, menjadi bagian dari upaya agar lulusan tidak hanya berorientasi menjadi pencari kerja, tetapi juga pencipta lapangan kerja.

Selain itu, lanjutnya, Unisba memberikan ruang yang sama bagi seluruh mahasiswa tanpa paksaan dalam hal keyakinan. 

Namun demikian, seluruh mahasiswa tetap mengikuti norma akademik yang berlaku, termasuk kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) selama tujuh semester serta dua program pesantren, yakni pesantren mahasiswa dan pesantren sarjana. (*) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.