KSAY Gelar Lomba Angklung, Perebutkan Piala Gubernur DIY
Yoseph Hary W February 14, 2026 11:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM - Di tengah derasnya pilihan kegiatan ekstrakurikuler bagi anak anak, angklung justru menemukan momentumnya sendiri di Yogyakarta. Dari ruang kelas taman kanak-kanak hingga sekolah dasar, alat musik bambu ini pelan-pelan membangun ekosistemnya, tidak hanya sebagai sarana belajar musik, tetapi juga ruang kompetisi yang kian serius.

Kerasi Seni Anak Yogyakarta atau KSAY kembali menggelar lomba angklung selama empat hari, pada 7 sampai 8 Februari dan 13 sampai 14 Februari di GOR Pangukan. Ajang ini memperebutkan Piala Gubernur DIY sebagai piala juara umum bergilir. Selain itu, tersedia pula Piala Bupati Sleman untuk juara pertama, Piala KSAY untuk juara kedua, serta Piala EO Epic Production untuk juara ketiga.

160 sekolah TK dan SD

Ketua Umum KSAY, Ardian Syahrir Kandung yang akrab disapa A’an, menyebut jumlah peserta tahun ini mencapai sekitar 160 sekolah. Mayoritas berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta, namun ada pula peserta dari Klaten dan Magelang. Seluruh peserta berasal dari jenjang TK dan SD.

Menurut A’an, pilihan menjadikan angklung sebagai fokus lomba bukan tanpa alasan. Ia melihat ruang yang masih terbuka di luar kegiatan ekstrakurikuler yang selama ini lebih identik dengan tari, drumband, atau melukis.

“Saya melihat ekstra kurikuler di Jogja itu cuma sekitar tari, angklung, sama drumband. Akhirnya saya mencoba peruntungan di angklung,” ujarnya.

Ia mulai menggeluti angklung sejak 2009, berangkat dari pengalaman di drumband dan melukis. Awalnya hanya satu dua sekolah yang berminat. Namun seiring waktu, minat terhadap angklung meningkat signifikan hingga menjangkau ratusan bahkan ribuan sekolah.

KSAY sendiri merupakan komunitas yang mewadahi ekstrakurikuler angklung dan paduan suara untuk tingkat TK dan SD. Meski mencakup dua bidang, A’an mengakui angklung menjadi fokus utama karena peminatnya lebih banyak. Ia ingin menghadirkan pembeda di tengah pilihan ekstrakurikuler yang cenderung itu-itu saja.

Tema Senandung Anak Negeri 

Kompetisi angklung yang kini mengusung tema Senandung Anak Negeri sudah memasuki edisi keenam. Edisi pertama dengan tema tersebut digelar pada 2016, meski KSAY sebenarnya sudah mengadakan lomba sejak 2011. Setiap tahun, mereka bahkan rutin menggelar tiga kali kompetisi yang memperebutkan piala Bupati Bantul, Bupati Sleman, dan Wali Kota Yogyakarta, dengan juara umum tetap membawa pulang Piala Gubernur.

Fenomena angklung di Yogyakarta, kata A’an, kini meluas. Antusiasme anak anak menjadi pendorong utama, terlebih angklung dinilai sebagai alat musik yang relatif mudah dibawa dan dimainkan. Dampaknya tidak hanya terasa di sekolah.

“Anak-anak sangat antusias. Apalagi angklung merupakan alat musik yang mudah dibawa dan dimainkan anak-anak,” katanya.

Ia menambahkan, geliat angklung juga merambah ke kalangan ibu ibu PKK hingga instansi pemerintahan. Pada 2023, A’an bahkan mendapat undangan ke Istana Negara untuk terlibat dalam penyelenggaraan festival angklung yang melibatkan 15.000 orang. Bagi KSAY, itu menjadi penanda bahwa angklung tidak lagi dipandang sebagai kegiatan pinggiran.

Ke depan, KSAY menargetkan cakupan yang lebih luas. Jika selama ini kompetisi masih berada di level piala gubernur, A’an berharap ajang tersebut bisa berkembang menjadi skala nasional, bahkan suatu hari nanti memperebutkan piala presiden. Bagi mereka, langkah itu bukan sekadar ambisi, melainkan bagian dari upaya menempatkan angklung sebagai kebanggaan bersama yang lahir dari ruang ruang kecil sekolah dasar di Yogyakarta.(nto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.