TRIBUNJOGJA.COM - Panggung kesenian Yogyakarta kehilangan salah satu srikandinya. Yu Beruk, seniman ketoprak legendaris yang wajah dan celotehnya lekat dalam ingatan pemirsa layar kaca lewat Obrolan Angkringan dan Mbangun Deso, telah berpulang, Sabtu (14/2/2026).
Di balik sosoknya yang jenaka dan ceplas-ceplos, tersimpan keteguhan hati seorang seniman sejati. Hal ini diungkapkan oleh rekan panggung sekaligus sahabatnya, Susilo Nugroho. Pria yang akrab disapa Den Baguse Ngarso ini menuturkan sisi lain Yu Beruk yang tak banyak diketahui publik yakni sebuah profesionalisme.
Bagi Susilo, mengenang Yu Beruk bukan sekadar mengenang kelucuan, melainkan menyelami kedalaman batin seorang perempuan yang menutupi keadaan sebenarnya demi kebaikan orang lain.
Ia mengenang satu momen di masa lalu—jauh sebelum pandemi—ketika ia merasa kecewa, bahkan kecele (tertipu oleh ekspektasi), saat berbagi panggung dengan Yu Beruk.
Kala itu, Susilo diajak Yu Beruk mengisi sebuah acara. Namun, penampilan sang legenda jauh dari standar biasanya. Lawakannya terasa hambar, timing komedinya meleset, dan tawa penonton tak kunjung pecah.
Susilo, dengan beban tanggung jawab artistik di pundaknya, sempat meluapkan kekecewaannya.
Namun, kekecewaan itu kelak bermetamorfosis menjadi penyesalan mendalam.
"Saya pernah mengalami kecele. Salah tafsir. Ternyata dia (Yu Beruk) itu (saat tampil) nggak lucu. Di kemudian hari, mendapat kesempatan untuk tampil bersama lagi. Saya kan pesimis, 'Waduh, kemarin itu sama sekali nggak lucu, kok malah diajak lagi?'" tutur Susilo.
Kebenaran baru terungkap belakangan. Saat tampil dengan performa yang dianggap mengecewakan itu, Yu Beruk sejatinya baru tiga hari menjalani sesi pengobatan untuk penyakit yang dideritanya.
"Ternyata, beliau waktu mengajak saya yang pertama itu habis menjalani pengobatan. Lha dia itu baru ngomong belakangan, 'Iya, saya yang kemarin itu habis pengobatan. Itu katanya makan apa pun nggak ada rasanya. Termasuk kondisi fisiknya saat itu,'" lanjut Susilo menirukan ucapan mendiang.
Bagi Susilo, peristiwa tersebut menyingkap karakter asli Yu Beruk. Ia memilih menyembunyikan rapuhnya raga demi menuntaskan kewajiban. Ia tidak ingin membebani panitia maupun rekan sejawat dengan kondisi kesehatannya.
"Sehingga saya itu merasa, 'Wah, keliru gede. Aku salah besar.' Kenapa kalau mempunyai kondisi seperti itu, dia tanggung sendiri. Jangan sampai saya tahu," ujar Susilo.
Pembuktian kualitas Yu Beruk terjadi pada penampilan kedua. Ketika efek pengobatan mulai mereda, ia kembali tampil prima, membuktikan bahwa bakat alaminya tak pernah pudar, hanya sempat terhalang oleh keterbatasan fisik yang ia lawan dalam diam.
Meski bersahabat erat, Susilo menegaskan bahwa hubungan profesional mereka tidak lantas menjadi lunak. Susilo, yang dikenal keras dalam proses latihan, pernah menempatkan Yu Beruk dalam situasi sulit namun mendewasakan.
Saat Yu Beruk berada di puncak popularitas dan banjir tawaran pekerjaan, ia kerap absen dalam sesi latihan.
"Saya dengan tegas bilang, 'Tidak peduli kok. Sebagus apa pun, kalau tidak pakai latihan, saya tidak mau," tegas Susilo.
Alih-alih tersinggung, Yu Beruk menerima keputusan tersebut dengan lapang dada. Sikap ini, menurut Susilo, menunjukkan kelasnya sebagai seniman besar yang tidak terbuai oleh nama besar semata. Ia memahami bahwa chemistry di panggung adalah buah dari disiplin, bukan sekadar spontanitas tanpa dasar.
Susilo menyebut Yu Beruk sebagai maestro komedi spontan yang mengandalkan kekuatan bahasa ibu. Ia bukan tipe pelawak yang bergantung pada naskah terstruktur (kerangka-an), melainkan pembaca situasi yang ulung. Kekuatannya terletak pada kedalaman emosional saat menggunakan Bahasa Jawa.
"Mungkin karena basic beliau itu melawak kalau berbahasa Jawa. Itu jauh lebih lucu dibanding kalau beliau pakai bahasa Indonesia. Dia bisa berbahasa Indonesia, tapi mungkin secara emosional lebih familiar menggunakan bahasa Jawa," kenang Susilo.