Tangan Kosong di Rahim Ciliwung: Kisah Arief Kamarudin Buru 'Monster' Invasif demi Nafas Ikan Lokal
Budi Sam Law Malau February 15, 2026 01:35 AM

WARTAKOTALIVE.COM – Matahari baru saja mengintip di ufuk timur Jagakarsa ketika Arief Kamarudin (34) mulai menyatu dengan keruhnya air Kali Ciliwung.

Di tepi sungai yang selalu berbisik, suara air yang mengalir memeluk hangat tubuh Arief.

Tanpa baju zirah, tanpa peralatan canggih.

Hanya tangan telanjang yang merogoh dinding-dinding tanah sungai, Arief sigap mencari sela di mana "sang penjajah" bersembunyi.

Baca juga: Pengerukan Kali Ciliwung di Rawajati Pancoran Jakarta Selatan Ditargetkan Selesai 2 Bulan

Bagi warga Lenteng Agung ini, Kali Ciliwung bukan sekadar aliran air yang membelah Jakarta.

Kali Ciliwung adalah rahim yang membesarkannya.

Namun kini, rahim itu sedang sakit, tercekik oleh dominasi predator tanpa lawan: Ikan Sapu-Sapu.

Ariweg ikan asP
KERESAHAN EKOLOGIS ARIEF - Arief Kamarudin (34), konten kreator yang berburu ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung, Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan, tempat di mana ia dibesarkan dan membuatnya resah ekologis saat ini. Arief hampir setiap hari menangkap ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung untuk dimusnahkan karena memahami ikan sapu-sapu merupakan speses invasif yang bukan asli Indonesia dan dapat merusak keseimbangan ekosistem sungai.

Nostalgia Masa Kecil yang Tergerus Sisik Keras, Ubah Jadi Keresahan Ekologis

Dua puluh tahun lalu, suara gemercik Ciliwung adalah simfoni kegembiraan bagi Arief kecil.

Ia masih ingat betul aroma air yang lebih segar, tempat ia melepas seragam sekolah dan langsung menceburkan diri hingga magrib menjemput.

Kala itu, jala ayahnya selalu pulang dengan membawa "harta karun" lokal. Yakni ikan baung yang gemuk atau tawes yang berkilau perak.

"Ikan asli hampir jarang banget kita temuin sekarang. Isinya sapu-sapu semua," tutur Arief dengan nada getir saat ditemui Warta Kota di sebuah posko bantaran sungai, Kamis (12/2/2026).

“Seingat saya, sebelum TK saya sudah ikut bapak ngejala,” ujar Arief lugas.

Potret Ciliwung hari ini, kata Arief telah berubah menjadi medan perang ekosistem.

Ikan sapu-sapu (Loricariidae), spesies invasif asal Amerika Selatan, telah melakukan "kudeta" di bawah permukaan air.

Mereka berkembang biak secara eksponensial, merampas ruang hidup, dan perlahan menghapus eksistensi ikan-ikan asli nusantara.

Semua itu mengusik nostalgia masa kecil Arief dan mengubahnya jadi keresahan ekologis.

Bertarung di Kedalaman, Bersuara di Layar Kaca Digital

Arief bukan sekadar orang lapangan yang pasrah pada keadaan.

Lulusan Pendidikan Bahasa Inggris dari Universitas Indraprasta (Unindra) ini memilih jalan unik.

Ia mengawinkan keberanian fisik dengan kekuatan narasi digital.

Setiap hari, ia menyelam, merogoh lubang-lubang di tebing sungai, dan menangkap ikan sapu-sapu satu per satu.

Dengan gerakan yang terlihat personal namun penuh kepedihan, ia melumpuhkan ikan-ikan tersebut demi memutus rantai invasi.

Aksi heroik ini ia abadikan melalui lensa kamera.

Secara otodidak, ia mempelajari seni videografi untuk mengisi akun Instagram-nya, @ariefkamarudin.

Melalui layar ponsel, ia ingin dunia tahu bahwa Ciliwung punya masalah yang lebih gelap daripada sekadar tumpukan sampah plastik.

"Semua orang tahu sampah itu buruk. Tapi sapu-sapu? Belum banyak yang bahas. Dia invasif, tidak ada yang mengontrol, dan merusak keseimbangan dari dalam," tegas Arief.

Matanya nanar, berharap Ciliwung kembali ke ingatannya di masa kecil.

Baca juga: Warga Terima Kompensasi, Bangunan Bantaran Kali Ciliwung Dibongkar

Harapan di Balik Gatal di Sekujur Tubuh

Tak jarang, air sungai yang tercemar membuat kulit pria berambut panjang ini meradang hebat.

Namun, rasa gatal itu kalah oleh rasa cintanya pada sungai yang hanya berjarak 20 meter dari rumahnya.

Arief membayangkan sebuah masa depan di mana pemerintah tidak hanya sekadar memberikan "respons positif" di atas kertas, tetapi aksi konkret di atas air.

Ia memimpikan para peneliti turun tangan untuk mengubah populasi "monster" sapu-sapu ini menjadi sesuatu yang berguna—pupuk organik atau produk bernilai ekonomi lainnya.

"Kalau bisa dimanfaatkan, itu bisa jadi lapangan pekerjaan bagi banyak orang," harap Arief.

Panggilan untuk Ciliwung

Cerita Arief adalah pengingat bahwa pahlawan lingkungan tidak selalu memakai jubah.

Terkadang, mereka adalah pria biasa yang rela kuku-kukunya kotor oleh lumpur sungai demi memastikan generasi mendatang masih bisa melihat ikan asli Indonesia berenang di rumahnya sendiri.

Arief Kamarudin tetap berdiri di sana, di bantaran yang mulai berubah lanskapnya.

Ia terus menyelam, terus merekam, dan terus berharap suaranya tidak sekadar hanyut terbawa arus, melainkan bermuara pada pemulihan Ciliwung yang kian terancam.

Metode yang ia gunakan tampak brutal bagi sebagian orang: menyelam, merogoh celah tanah di dinding sungai, lalu memutus leher ikan untuk memusnahkannya. 

Ia mengakui praktik tersebut tidak nyaman, tetapi menegaskan itu lah yang ia temukan ampuh untuk menekan jumlah sapu-sapu di titik-titik kritis.

Di sisi lain, ia aktif mencari cara alternatif — pemanfaatan ekonomis hasil tangkapan menjadi pupuk, pakan ternak, atau produk olahan — agar pemberantasan dapat terkombinasi dengan nilai ekonomi yang memberi manfaat bagi warga setempat.

Menuryut Arief, caranya bukan sekadar protes terhadap spesies asing, melainkan upaya mempertahankan memori kolektif, cara hidup yang dulu tergantung pada sungai.

“Sungai itu ruang hidup yang membentuk saya,” ujarnya. 

Ia melihat pekerjaannya sebagai warisan untuk generasi berikut: bukan hanya membersihkan, tetapi memulihkan fungsi ekologis agar anak-cucu kelak masih dapat berlari menuju tepi sungai seperti dulu.

Arief mengatakan atas apa yang dilakukannya beberapa pihak berwenang pemerintahan mengaku tertarik ikut serta.

Kontak dengan dinas, audiensi kecil, bahkan permintaan data praktis ke peneliti sudah dilakukan.

Respons positif datang, tetapi ia menegaskan bahwa langkah lebih konkret harus segera dijalankan: studi populasi, uji paternitas sumber introduksi, program pengendalian terukur, serta kampanye edukasi untuk mencegah pelepasan ikan non-lokal ke lingkungan.

Ia tahu jalannya panjang. Mengubah persepsi publik tentang isu yang “tak tampak” seperti ikan invasif lebih sulit dibanding menggalakkan gerakan bersih sampah yang sudah populer.

Baca juga: Malam Ini Katulampa Siaga 3, Bogor–Jakarta Bersiap Hadapi Luapan Ciliwung

Namun perjuangannya menunjukkan satu hal sederhana: perubahan dimulai dari orang yang peduli. Dengan kamera, jala, dan keberanian, ia mencoba menyalakan pemahaman baru tentang arti sungai.

Kisahnya bukan hanya profil individu heroik; ini undangan bagi pembuat kebijakan, peneliti, aktivis, dan warga kota: dengarkan suara dari bantaran, validasi data lapangan, dan bangun strategi terintegrasi.

Ketika pengetahuan ilmiah bertemu pengalaman lapangan dan dukungan sosial-ekonomi, solusi yang berkelanjutan bukanlah angan semata.

Di akhir pertemuan dengan Warta Kota, Arief tersenyum sederhana.

"Saya ini cuma orang biasa, orang lapangan. Tapi saya berharap suara ini menemukan muara — bukan hanya di feed media sosial, tetapi di kebijakan yang memastikan Ciliwung kembali hidup untuk semua," kata Arief seakan berpesan.

Jika kita peduli pada warisan ruang hidup bersama, mungkin saatnya mengikuti jejaknya, dengan cara yang kita bisa. (m31)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.