TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Olahraga Padel bukan lagi sekadar tren gaya hidup sesaat di Bali.
Dalam setahun terakhir, cabang olahraga tepok bola ini mengalami ledakan pertumbuhan yang luar biasa.
Fenomena ini kini ditangkap serius oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Bali, bukan hanya sebagai sarana rekreasi, melainkan sebagai mesin baru pendorong sport tourism dan ladang prestasi menuju PON 2028.
Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi (Binpres) KONI Bali, Anak Agung Bagus Tri Candra, atau yang akrab disapa Gung Cok, menegaskan bahwa momentum pertumbuhan Padel yang masif ini harus dikonversi menjadi prestasi nyata.
"Tahun 2024 di PON Aceh-Sumut, Padel masih berstatus ekshibisi. Kami berharap besar pada PON 2028 olahraga ini sudah dipertandingkan secara resmi," kata Gung Cok kepada Tribun Bali, pada Minggu 15 Februari 2026.
Baca juga: Jelang Musrov, Klungkung Dukung Giri Prasta Nahkodai KONI Bali 2026-2030
"Ini peluang emas bagi Bali untuk mulai menyiapkan atlet sejak dini," imbuhnya.
Saat ini, Bali telah mengoperasikan lebih dari 10 lapangan Padel yang tersebar di titik-titik strategis seperti Tibubeneng, Kuta Utara, Denpasar, hingga Gianyar.
Dominasi pemain mancanegara di lapangan-lapangan tersebut menjadi indikator kuat bahwa Padel adalah magnet bagi wisatawan dengan daya beli tinggi.
Menurut Gung Cok, yang juga menjabat sebagai Anggota DPRD Provinsi Bali dari Fraksi Golkar, strategi penggabungan antara olahraga, gaya hidup, dan destinasi premium sangat selaras dengan visi pariwisata Bali ke depan.
"Jika mayoritas pemainnya adalah ekspatriat dan turis asing, ini sangat potensial memancing investasi swasta bernilai miliaran rupiah. Olahraga dan pariwisata bisa berjalan beriringan untuk mendongkrak ekonomi lokal," tutur dia.
Kehadiran ekosistem Padel di Bali diproyeksikan mampu menciptakan lapangan kerja baru, mulai dari tenaga pelatih, event organizer, hingga dampak tidak langsung pada okupansi hotel dan vila.
Bali bahkan memiliki ambisi untuk menjadi tuan rumah berbagai kejuaraan Padel tingkat internasional.
Namun, di tengah antusiasme investasi tersebut, Gung Cok memberikan catatan tegas terkait regulasi.
Sebagai wakil rakyat, ia mengingatkan para investor untuk tetap tunduk pada aturan tata ruang.
"Pembangunan fasilitas harus sesuai dengan zonasi, RTRW, maupun RDTR di kabupaten/kota. Jangan sampai menabrak jalur hijau atau lahan produktif. Investasi harus berkelanjutan dan tidak memicu masalah lingkungan di kemudian hari," tegasnya.
Bagi KONI Bali, semakin banyaknya fasilitas Padel yang tersedia merupakan keuntungan strategis.
Persaingan antar atlet diharapkan semakin ketat dengan adanya fasilitas yang mumpuni, sehingga mempermudah proses seleksi dan pembinaan menuju panggung nasional.
Dengan infrastruktur yang terus tumbuh dan minat masyarakat yang tinggi, Bali kini berada di garis terdepan untuk menjadi pusat Padel di Indonesia, sekaligus lumbung atlet yang siap bicara banyak di PON 2028 mendatang. (*)