Nama Taqy Malik kembali menjadi sorotan setelah terseret dalam dugaan kasus mark up harga pada program wakaf Al-Qur’an yang ia jalankan.
Program wakaf Al-Qur’an yang sebelumnya dipandang sebagai kegiatan mulia kini justru berada di bawah bayang-bayang.
Ini bukan kali pertama Taqy Malik menjadi pusat perhatian karena persoalan hukum.
Sebelumnya, ia sempat disorot dalam polemik sengketa tanah kecurigaan.
Kasus tersebut semakin memanas setelah pengacara kondang Sunan Kalijaga angkat bicara.
Sebagai mantan mertua, Sunan Kalijaga menyoroti pentingnya transparansi dalam pengelolaan dana wakaf.
Ia menegaskan bahwa program berbasis keagamaan harus dikelola secara profesional dan akuntabel agar tidak menimbulkan polemik di kemudian hari.
Mushaf merupakan naskah Al-Qur’an yang digunakan umat Islam sebagai pedoman membaca kitab suci, sementara wakaf adalah bentuk pemberian sukarela untuk kepentingan ibadah atau kemaslahatan umum.
Karena itu, praktik wakaf identik dengan nilai keikhlasan dan amanah.
Dugaan adanya mark up dalam program wakaf pun menjadi perhatian serius, terlebih karena menyangkut kepercayaan publik dan nilai religius.
Menanggapi hal tersebut, Sunan Kalijaga mengaku prihatin dengan kabar yang beredar.
Ia menekankan pentingnya penyelesaian yang jelas dan transparan agar persoalan ini tidak menimbulkan polemik berkepanjangan.
"Ya, yang pasti saya prihatin, ya. Saya prihatin dan semoga bisa segera diselesaikan, dituntaskan. Yang benar itu benar, yang salah itu salah. Begitu," ujar Sunan Kalijaga, dikutip Tribunnews dalam YouTube Reyben Entertainment, Sabtu (14/2/2026).
Ia juga menyinggung pemahamannya tentang praktik wakaf Al-Qur’an yang lazim dilakukan oleh umat Islam, khususnya di Tanah Suci.
Menurutnya, wakaf merupakan bentuk donasi untuk kepentingan ibadah, bukan aktivitas yang berorientasi pada keuntungan.
"Dan seharusnya, saya bukan ustaz, ya, saya bukan ustaz, tapi saya berusaha untuk taat. Setahu saya, orang banyak di sana, termasuk kami kemarin baru pulang umrah di Madinah, itu yang kami tahu bukan jual beli kitab suci Al-Qur'an."
"Tapi bahasa yang atau yang kami lakukan di sana setahu saya adalah wakaf, di mana orang membeli Al-Qur'an untuk disumbangkan ke masjid-masjid, ke Masjid Nabawi, lalu ke masjid-masjid lainnya," terang Sunan Kalijaga.
Sunan juga menyoroti informasi yang ia terima terkait sosok anak muda yang dikenal religius, namun justru dikaitkan dengan dugaan praktik mark up tersebut.
Ayah dari selebgram Salmafina Sunan ini menyayangkan jika dugaan tersebut benar terjadi, karena dinilai bertentangan dengan nilai yang selama ini melekat pada sosok tersebut.
"Namun, saya mendapatkan info dari teman-teman bahwa ada seorang anak muda, ya, yang bukan mengaku, tapi dikenal adalah seorang anak yang katanya saleh, atau mungkin ada yang menyebut dia dengan panggilan ustaz, kok malah saya mendapatkan info anak ini diduga melakukan mark up kitab suci."
"Nah, ini saya dengan tegas mengatakan saya sangat menyayangkan. Saya sangat menyayangkan," tandasnya.
Lebih lanjut, Sunan Kalijaga berharap pihak berwenang dapat turun tangan untuk memastikan kebenaran informasi tersebut, sehingga persoalan ini dapat diselesaikan secara objektif dan adil.
"Saya minta khususnya Kementerian agama ya segera menurunkan atau membentuk tim mengusut masalah ini," pungkasnya.
Dugaan ini mencuat setelah selebgram yang tinggal di Arab Saudi, Randy Permana, yang juga dikenal sebagai sahabat Taqy Malik, mengungkap kronologi dan pengalamannya secara langsung.
Randy mengaku mengetahui sejak awal bagaimana program wakaf itu berjalan, termasuk dinamika di lapangan yang melibatkan pembelian mushaf hingga perhatian otoritas setempat.
"Jadi saya kenal Taqy Malik memang sudah lama, dan saya sendiri memang pekerjaan saya di Saudi, ya di Mekah dan Madinah, karena saya sehari-hari memang melayani tamu-tamu jemaah umrah seperti itu," ujar Randy, dikutip Tribunnews dalam YouTube Reyben Entertainment, Sabtu (14/2/2026).
Ia menjelaskan, program wakaf tersebut mulai berjalan pada 2023, ketika Taqy mulai membuka donasi wakaf Al-Qur’an yang dibeli langsung dari percetakan resmi di Madinah.
"Nah, singkat cerita, di tahun pertama kalau enggak salah, waktu itu 2023, A Taqy mulai membuka wakaf Quran, yang di mana saat itu ketika kita berwakaf Quran, kita itu masih bisa satu orang membeli dua tiga karton di pabrik percetakannya di Madinah, yang harga memang harga pabrik itu sekitar 25 riyal di sana," terangnya.
Menurut Randy, saat itu jumlah mushaf yang dibeli mencapai ribuan eksemplar.
Namun, pembelian dalam jumlah besar itu kemudian memicu perhatian pihak otoritas.
"Nah, ketika Taqy membuka itu, masuklah kurang lebih ada yang menitipkan amanah wakaf itu hampir sekitar 3.000 mushaf saat itu, 3.000 Quran. Belilah dia di sana."
"Dan singkat cerita, ketika dia beli banyak sekali di sana, selang beberapa minggu, kita sudah tidak bisa lagi membeli banyak di pabrik percetakan itu. Karena dari pihak otoritas keamanan masjid atau apa melihat atau menilai bahwa mushaf ini diperjualbelikan oleh jemaah secara online, dan itu secara aturan dilarang," paparnya.
Randy menjelaskan bahwa mushaf wakaf di Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi umumnya berasal dari percetakan resmi pemerintah Arab Saudi.
"Saudi memperbolehkan. Memang banyak toko-toko di area masjid, terus di sekitar Makkah atau Madinah itu menjual mushaf yang memang diperuntukkan untuk wakaf. Karena di dalam masjid itu mushaf yang diperuntukkan untuk wakaf itu hanya diperbolehkan keluaran dari pabrik tersebut yang ada di Madinah, namanya percetakan Malik Fahad," jelas Randy.
Setelah adanya pembatasan, pembelian mushaf dalam jumlah besar menjadi sulit dilakukan, terutama bagi jemaah yang datang menggunakan visa umrah.
"Nah, kemudian akhirnya dari situ kita sudah tidak bisa membeli ketika saya mendapat titipan dari jemaah. Misal saya membawa jemaah satu bis, biasanya titip untuk wakaf. Saya membeli itu untuk 200–300 itu enggak bisa, sudah dibatasi. Karena ada indikasi bahwa banyak jemaah, khususnya yang mereka datang untuk umrah, dalam arti mereka datang menggunakan visa umrah, bukan visa kerja, menjual Quran ini sebagai bisnis. Akhirnya itu yang dibatasi, yang pertama," tuturnya.
Meski demikian, Randy mengaku telah mengingatkan Taqy agar lebih berhati-hati dalam menjalankan program tersebut.
"Nah, singkat cerita, tahun kedua dia melakukan itu lagi. Saya sudah bilangin, 'Bro, hati-hati ya. Jangan terang-terangan. Jangan. Saya sendiri juga melakukan untuk menyalurkan wakaf, tapi saya memang dari jemaah yang saya bawa, dan itu jemaah kadang saya ajak belanja juga di tempatnya.'"," katanya.
Ia bahkan menyarankan agar distribusi mushaf dilakukan secara bertahap untuk menghindari kecurigaan otoritas.
"Nah, karena tahun kedua saya sudah bilangin, 'Bro, kalau kamu mewakafkan mushaf, menyalurkan mushaf, dicicil saja 50, 100 antar ke masjid. Jangan langsung ribuan seperti itu. Polisi melihat itu yang kena teman-teman yang ada di Makkah Madinah yang stay."
"Mereka yang kerja di sini, mereka yang kerjanya benar menyalurkan dari jemaah dipikir mereka jualan.' Dan sudah beberapa kali kasus teman-teman saya itu ketangkap sama polisi, dipenjara 3 hari, 4 hari, perkara niatnya hanya mewakafkan mushaf," ujarnya.
Tak hanya program wakaf mushaf, Randy juga menyinggung program sedekah makanan yang disebut-sebut memiliki selisih harga cukup signifikan.
"Sampai di tahun lalu itu di Madinah itu Taqy memang lagi sama saya. Saya sudah bilangin lagi. Dia buka sedekah makanan juga, yang di mana rata-rata harga sedekah makanan di sana itu kurang lebih sekitar 10 riyal, mungkin ada dari 8 riyal, 10 riyal, sampai 15 riyal. Itu kurang lebih kalau dikurs ke rupiah mungkin dalam Rp50.000-an, tapi dia membuka itu dengan harga Rp100.000 per boks. Akhirnya itu ramai lagi," bebernya.
Situasi tersebut bahkan sempat menarik perhatian aparat setempat.
"Dicarilah dia oleh polisi di sekitar. Sampai yang awalnya dia stay di hotel, dia kabur. Dia cari apartemen yang jauh dari masjid saat itu. Tahun itu dia tahu sendiri, dan itu posisi memang lagi sama saya," ucapnya.
Menurut Randy, program serupa kembali dibuka menjelang Ramadan tahun ini.
Namun, upaya komunikasinya kepada Taqy tidak mendapat respons.
"Nah, tahun ini dia membuka lagi. Ramadan masih 2–3 minggu lagi, tapi dia sudah membuka peluang itu lagi. Saya bilangin baik-baik, saya DM, 'Afan, bro, begini, bla bla bla bla bla.'"
"Singkat cerita, saya enggak digubris, dan saya lihat dia menyindir saya di story, dan saya di-unfollow. "
"Nah, itulah yang membuat, ah ini memang enggak bisa. Saya di Tanah Suci menjaga teman-teman agar kerja semua nyaman. Dia yang enggak tinggal di sini, tapi memanfaatkan peluang yang akhirnya merugikan saya dan teman-teman. Itulah alasannya kenapa saya mengangkat isu ini," pungkasnya.