TRIBUNTRENDS.COM - Mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama akhirnya memecah kebisuannya setelah video kontroversial yang dibagikan Presiden Donald Trump di platform Truth Social memicu gelombang kemarahan publik.
Video tersebut menampilkan wajah Barack dan mantan ibu negara Michelle Obama yang ditempelkan pada tubuh kera, diiringi lagu The Lion Sleeps Tonight.
Unggahan itu langsung menuai kritik luas dan dianggap sarat muatan rasis sebelum akhirnya dihapus.
Baca juga: Ketua BEM UGM Diteror Usai Gugat Kematian Bocah NTT ke UNICEF, Tak Akan Gentar Meski Nyawa Terancam
Awalnya, Gedung Putih melalui Sekretaris Pers Karoline Leavitt menyebut video tersebut sekadar meme internet dan meminta publik menghentikan apa yang disebut sebagai “kemarahan palsu.”
Namun, tekanan publik terus membesar hingga pejabat Gedung Putih kemudian menyebut unggahan itu dibuat secara keliru oleh seorang staf.
Komentar Obama muncul dalam wawancara berdurasi hampir satu jam bersama komentator politik Brian Tyler Cohen yang dipublikasikan pada Sabtu (14/2/2026).
Dalam percakapan itu, ia diminta menanggapi video tersebut serta berbagai bentuk kekerasan retorika yang dinilai semakin marak di ruang publik.
Obama memilih merespons dengan nada reflektif. Ia menilai mayoritas rakyat Amerika sebenarnya merasa terganggu dengan perilaku semacam itu.
“Pertama-tama, saya pikir penting untuk menyadari bahwa mayoritas rakyat Amerika menganggap perilaku ini sangat meresahkan,” ujar Obama.
Menurutnya, konten seperti itu memang menarik perhatian, tetapi hanya menjadi pengalih fokus dari nilai-nilai yang masih dipegang banyak warga.
“Ia memang menarik perhatian. Ia memang menjadi pengalih perhatian. Tetapi ketika saya berkeliling negeri ini, Anda bertemu orang-orang, mereka masih percaya pada kesopanan, tata krama, kebaikan,” lanjutnya.
Obama juga menyindir keras budaya politik yang dianggap kehilangan rasa malu.
Ia menggambarkan situasi media sosial dan televisi saat ini seperti “pertunjukan badut,” di mana nilai kesopanan dan penghormatan terhadap jabatan publik dinilai kian memudar.
Meski begitu, Obama meyakini jawaban atas situasi tersebut tetap berada di tangan rakyat Amerika.
“Pada akhirnya, jawabannya akan datang dari rakyat Amerika,” tegasnya.
Di sisi lain, Trump menolak meminta maaf saat ditanya wartawan mengenai unggahan itu.
Ia menyatakan tidak merasa melakukan kesalahan, bahkan mengaku belum mendisiplinkan staf yang disebut bertanggung jawab atas unggahan tersebut.
Video itu menuai kecaman luas, termasuk dari sejumlah politisi Partai Republik.
Senator Tim Scott menyebut konten tersebut sebagai hal paling rasis yang pernah dilihatnya dari Gedung Putih dan mendesak agar segera dihapus.
Senator Republik lainnya, Katie Britt, juga mengkritik unggahan itu dan menyatakan bahwa konten tersebut seharusnya tidak pernah dipublikasikan.
Belakangan, Trump dilaporkan marah kepada keduanya karena dianggap ikut memperbesar kontroversi.
Kontroversi ini kembali memperlihatkan bagaimana perang narasi di media sosial mampu mengguncang panggung politik Amerika di mana simbol, gambar, dan unggahan singkat bisa memicu perdebatan nasional yang panjang.
***
(Kompas.com/TribunTrends.com)