3 Alasan Said Didu Sebut Prabowo Tak 'Happy' dengan Gibran: Jarang Diajak hingga Faktor Jokowi
Sarah Elnyora Rumaropen February 15, 2026 11:35 AM

SURYAMALANG.COM, - Analisis tajam dilontarkan Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu, mengenai dinamika hubungan Presiden Prabowo Subianto dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. 

Dalam sebuah bincang-bincang politik terbaru, Said Didu mengungkapkan adanya sinyal ketidakpuasan atau rasa tidak "happy" dari Prabowo terhadap pendampingnya tersebut.

Ketidakharmonisan ini ditengarai muncul di tengah kencangnya manuver partai politik seperti PAN, PKB, dan Golkar untuk mendorong Prabowo kembali maju pada Pilpres 2029.

Namun, posisi calon wakil presiden yang akan mendampinginya masih menjadi teka-teki.

Baca juga: Sosok 4 Jenderal Purn TNI-Polri Desak Adili Jokowi dan Makzulkan Gibran: Ada Eks Danjen Kopassus

Said Didu, membeberkan analisisnya mengenai hubungan Prabowo Subianto dengan Gibran Rakabuming Raka, dalam podcast yang diunggah di YouTube Akbar Faizal Uncensored, Sabtu (14/2/2026),

Pria kelahiran Pinrang, 2 Mei 1962 itu menilai ada ketidakpuasan dari pihak Prabowo.

Berikut adalah tiga alasan utama yang mendasari penilaian tersebut:

1. Gibran Jarang Dilibatkan dan Sering Berada di Belakang

Said Didu menilai Gibran, putra sulung mantan Presiden Jokowi, tidak terlalu dilibatkan oleh Prabowo.

Ia mencontohkan momen saat peringatan Hari Lahir Pancasila, 2 Juni 2025, ketika Gibran tampak berjalan mengekor di belakang Prabowo dan Megawati Soekarnoputri.

"Tapi begini terkait dengan saya melihat, saya melihat ininya bahwa memang kelihatannya Pak Prabowo tidak terlalu happy dengan pasangan sekarang ini, gitu kan? dari fakta politik kan enggak pernah diajak, kalau ada acara di belakang," kata Said.

2. Dianggap Tidak Terbantu Secara Kinerja

Said Didu menyimpulkan, Prabowo merasa tidak mendapatkan dukungan kinerja yang signifikan dari pendampingnya saat ini.

Hal ini terlihat dari keengganan Prabowo membahas masa depan politiknya di 2029 dan lebih memilih fokus pada tugas saat ini.

Baca juga: 4 Respon Parpol Soal Wacana Jokowi Prabowo-Gibran 2 Periode, Pengamat Sebut Peluang Wapres Kecil

"Jadi maksud saya begini, sekarang ini ada dua kubu politik, dan sepertinya Pak Prabowo, kalau saya membaca, dia tidak happy dengan pasangan sekarang gitu karena dia tidak terbantu sama sekali," jelasnya.

3. Tekanan Faktor Jokowi dan Dinasti Politik

Alasan ketiga adalah posisi Prabowo yang terjepit di antara dua kubu politik.

Satu kubu mendukungnya tanpa nama Gibran, sementara kubu lain terutama melalui PSI desakan agar duet tersebut berlanjut sangat kuat. 

Said menyoroti bagaimana Prabowo tidak merespons instruksi Jokowi kepada PSI.

"Tapi harus kita lihat. Awalnya Ketua Harian PSI Ahmad Ali kan menyatakan kan saingan yang akan maju presiden adalah Gibran, tetapi sehari kemudian kan langsung dikoreksi, bahwa tidak demikian" ucapnya. 

Baca juga: Gibran Tak Masalah Di-roasting Pandji Ngantuk, Reaksinya Ditanya Lucuan Mana dengan Roy Suryo

"Nah, keluar [pernyataan] Joko Widodo bahwa memerintahkan PSI mencalonkan Prabowo dan Gibran dua periode" imbuh Said.

"Nah, artinya ini ada keinginan bahwa Prabowo harus [menggandeng Gibran], dan Prabowo tidak pernah merespon itu," jelasnya. 

Said menambahkan, Jokowi, melalui partai dan kekuatan dinastinya, memiliki kepentingan besar agar Prabowo tetap menggandeng anaknya pada masa mendatang.

"Pak Jokowi, dengan partai dengan dinastinya, sangat berkepentingan agar Prabowo masih mengajak anaknya," tegasnya.

Prabowo Belum Terpikir Maju 2029 dan Pilih Fokus Kerja

Meski dukungan mulai mengalir, Said Didu menangkap sinyal Prabowo sendiri belum terpikir untuk kembali maju di 2029.

Hal ini didasari pada pernyataan Prabowo yang mengaku hanya ingin fokus bekerja demi rakyat.

"Saya nangkap dari sini, sepertinya dia [Prabowo] tidak suka membahas-bahas tentang 2029 dengan pernyataan, 'Saya tidak, saya akan bekerja penuh untuk rakyat dan saya tidak berpikir untuk selanjutnya, dan kalau saya gagal dan rakyat merasa saya salah, maka saya bersedia mendapat hukuman dari rakyat,'" tutur Said Didu menirukan ucapan Prabowo.

Manuver Partai Politik: Dukungan dari PAN, PKB, hingga Golkar

Di sisi lain, narasi mengenai Pilpres 2029 semakin menguat seiring manuver terbuka dari sejumlah partai besar sejak awal Februari 2026:

PAN: Wakil Ketua Umum PAN Eddy Soeparno dan Ketua Umum Zulkifli Hasan (Zulhas) telah memastikan dukungan untuk Prabowo di 2029. Bahkan, PAN mendorong Zulhas sebagai cawapres pendamping Prabowo.

PKB: Ketua Umum Abdul Muhaimin Iskandar (Cak Imin) bersama jajaran DPP PKB seperti Daniel Johan dan Syaiful Huda menyatakan dukungan langsung di Istana untuk Prabowo dua periode.

Muncul pula wacana untuk mendorong Cak Imin sebagai pendamping Prabowo.

Baca juga: Klaim Baru Dokter Tifa Soal Akun Fufufafa 99,9 Persen Milik Gibran, Menurut Analisis Neurosains

Golkar: Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI, Muhammad Sarmuji, pada Jumat (13/2/2026), mencetuskan gagasan koalisi permanen.

"Seluruh kebijakan Fraksi Partai Golkar harus mendukung astacita Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Kita sudah membangun satu koalisi dan kita mendorong sebenarnya agar terjadi koalisi permanen," kata Sarmuji, dalam acara HUT ke-58 Fraksi Partai Golkar di Senayan, Jakarta.

Gerindra Buka Pintu bagi Semua Tokoh 

Sementara itu, Ketua Dewan Kehormatan Partai Gerindra Ahmad Muzani menegaskan semua tokoh yang memenuhi syarat berpeluang mendampingi Prabowo pada Pilpres 2029, seiring menguatnya wacana Prabowo dua periode.

Pernyataan itu disampaikan Muzani saat ditemui di Bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh, Aceh, Selasa (10/2/2026).

Menurut Muzani, Partai Gerindra bersama partai-partai pengusung membuka ruang bagi siapa pun yang dinilai memenuhi syarat untuk menjadi calon wakil presiden (cawapres) pendamping Prabowo pada Pilpres 2029.

“Ya semua orang, semua tokoh yang memenuhi syarat berpeluang untuk bisa mendampingi Pak Prabowo,” ujar Muzani.

Baca juga: Tujuan Roy Suryo Cs Bawa Buku Gibran End Game ke Kemendikdasmen, Kubu Jokowi: Itu Serangan Balik

Muzani menegaskan, dinamika politik menjelang 2029 masih sangat cair dan akan terus dipantau oleh partai.

“Ya itu sesuatu yang terus kita ikuti. Jadi saya kira kita terus mengikuti perkembangan itu,” tambah Ketua MPR RI tersebut.

Muzani menilai, tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Prabowo menjadi modal penting bagi Gerindra untuk kembali mengusung Prabowo pada periode berikutnya.

Ia menyinggung sejumlah program pemerintah yang dinilai menyentuh langsung masyarakat, salah satunya program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Support terhadap kepercayaan Pak Prabowo disurveikan cukup tinggi. Sekitar 80 persen survei yang terbaru. Jadi itu menjadi modal kami,” ujar Muzani.

Survei Indikator Politik Indonesia yang dirilis Minggu (8/2/2026) mencatat tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto mencapai 79,9 persen.

Di tengah menguatnya wacana Prabowo dua periode, bursa calon pendamping masih terbuka lebar.

Satu hal yang ditegaskan Gerindra: siapa pun bisa berpeluang, selama memenuhi syarat dan dinamika politik mengarah ke sana.

(Tribunnews.com/Tribunnews.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.