TRIBUNTRENDS.COM - Duka menyelimuti warga Kabupaten Demak, Indonesia.
Seorang anak laki-laki berusia 12 tahun berinisial SA ditemukan meninggal dunia di kediamannya pada Kamis (12/2/2026).
Korban yang masih duduk di bangku sekolah dasar itu ditemukan dalam kondisi tergantung.
Berdasarkan laporan Kompas.id, Jumat (13/2/2026), tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.
Karena itu, dugaan sementara mengarah pada tindakan bunuh diri.
Peristiwa ini kembali mengguncang kesadaran publik.
Dugaan bunuh diri yang melibatkan anak di bawah umur bukan hanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, tetapi juga memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat tentang kesehatan mental anak.
Baca juga: Siswi SD di Demak Akhiri Hidup, Chat Terakhir dengan Ibu Diduga Pemicu, Buat Status WA: Aku Cape
Psikolog Danti Wulan menilai, kasus bunuh diri pada anak di bawah usia 12 tahun merupakan salah satu persoalan paling tragis sekaligus kompleks dalam ranah psikologi perkembangan.
Pada fase usia tersebut, anak belum memiliki kematangan emosional dan kognitif seperti orang dewasa.
"Pada usia ini, struktur otak, pemahaman tentang konsep kematian, dan mekanisme koping (cara menghadapi masalah) sangat berbeda dengan orang dewasa," jelas Danti saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (14/2/2026).
Pernyataan itu menegaskan bahwa dunia batin anak jauh lebih rapuh dari yang kerap dibayangkan.
Ketika tekanan datang, kemampuan mereka untuk memahami, mengolah, dan mencari jalan keluar dari masalah sangat terbatas.
Karena itulah, setiap peristiwa seperti ini seharusnya menjadi refleksi bersama tentang pentingnya kehadiran, pendampingan, serta ruang aman bagi anak untuk bercerita dan merasa didengar.
Lantas, apa saja aspek-aspek yang mungkin terjadi?
3 faktor psikologis yang mungkin melatarbelakangi
Danti menyebutkan setidaknya ada tiga faktor psikologis yang melatarbelakangi tindakan itu.
Danti menjelaskan, anak usia di bawah 12 tahun sering kali belum memiliki pemahaman yang matang mengenai finalitas (kematian itu akhir) dan irreversibilitas (kematian tidak bisa dibatalkan).
Dalam konteks ini, memungkinkan adanya magical thinking. Di mana, anak mungkin berpikir bahwa kematian adalah kondisi sementara atau "tidur panjang".
"Mereka mungkin merasa bisa kembali lagi setelah masalah selesai atau ingin "memberi pelajaran" kepada orang tua dan melihat reaksi mereka, tanpa menyadari bahwa mereka tidak akan ada di sana untuk menyaksikannya," jelas Danti.
Selain itu, perkembangan otak depan (prefrontal cortex) yang belum sempurna, membuat anak-anak cenderung hidup di "masa kini".
"Rasa sakit atau malu yang dirasakan saat ini terasa seperti akan bertahan selamanya, sehingga mereka memilih solusi permanen untuk masalah yang sebenarnya bersifat sementara," lanjut Danti.
Keputusan untuk mengakhiri hidup pada anak-anak dinilai seringkali bersifat sangat impulsif dibandingkan terencana secara matang dalam waktu lama.
Danti mengaitkannya dengan dominasi amigdala (pusat emosi) ketimbang prefrontal cortex (pusat kendali logika dan konsekuensi) yang belum matang.
"Ketika mengalami tekanan emosional hebat, mereka bertindak berdasarkan dorongan instan," sebutnya.
Tindakan bunuh diri ini juga dihubungkan dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).
"Penelitian menunjukkan kaitan antara ADHD dan risiko bunuh diri pada anak karena tingginya tingkat impulsivitas dan kesulitan meregulasi emosi," papar Danti.
Faktor lain yang mungkin melatarbelakangi tindakan ekstrem ini adalah lingkungan.
Danti memaparkan bahwa anak-anak sangat bergantung pada lingkungan sekitar mereka. Pemicu bunuh diri pada usia ini biasanya berkaitan dengan beberapa hal ini:
Lantas, mengapa anak memilih metode tertentu untuk bunuh diri, seperti gantung diri?
Danti menjelaskan bahwa pemilihan metode bunuh diri bisa dipengaruhi oleh beberapa hal.
1. Aksesibilitas
Menurut Danti, aksesibilitas menjadi salah satu faktor pemilihan metode.
Anak-anak berbeda dengan orang dewasa yang mungkin mencari obat-obatan atau senjata.
"Anak-anak menggunakan apa yang ada di sekitar mereka. Tali, ikat pinggang, atau sprei adalah benda-benda rumah tangga yang mudah ditemukan tanpa menimbulkan kecurigaan," katanya.
2. Paparan media
Seiring perkembangan digital masa kini, konten di sosial media mudah diakses oleh anak-anak.
3. Ketidaktahuan akan rasa sakit
Ketidaktahuan akan rasa sakit ikut memengaruhi pilihan anak-anak untuk mengakhiri hidupnya.
"Anak-anak sering kali tidak memahami proses biologis yang menyakitkan dari metode tersebut; mereka hanya fokus pada hasil akhir yaitu "berhentinya rasa sakit emosional"," ucap Danti.
Tekanan emosional pada anak berbeda dengan orang dewasa yang mungkin menunjukkan depresi klinis seperti menangis atau murung.
Danti menyebutkan, ada beberapa bentuk depresi yang seringkali muncul pada anak, di antaranya:
Untuk itu, menurut Danti, bunuh diri pada anak usia di bawah 12 tahun bukanlah upaya untuk "mati" dalam pengertian eksistensial orang dewasa.
"Melainkan upaya putus asa untuk menghentikan rasa sakit yang tidak tertahankan ketika mereka merasa tidak memiliki cara lain untuk berkomunikasi atau melarikan diri," pungkasnya.
Dalam kasus ini, Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Demak Inspektur Satu Anggah Mardwi Pitriyono mengungkapkan bahwa korban dinyatakan meninggal dunia akibat terputusnya oksigen.
Anggah juga menyebutkan beberapa ciri khas meninggal gantung diri.
"Seperti lidah yang tergigit, terdapat cairan yang keluar dari alat kelamin, dan jaringan di bawah kuku, baik tangan maupun kaki ada kebiruan," ucap Anggah dikutip dari Kompas.ud pada Jumat (13/2/2026).
Anggah mengatakan, belum diketahui pasti apa penyebab SA mengakhiri hidupnya sendiri.
Lebih lanjut, penyelidikan tidak dilakukan lebih lanjut lantaran tidak ditemukan indikasi tindak pidana.
Polisi menyebut tidak ada tanda-tanda bullying, SA dan teman-temannya dinilai berhubungan baik.
Meski sempat beredar pesan berantai yang menyebutkan bahwa SA tidak memiliki hubungan baik dengan ibunya, namun hal itu tidak terbukti.
Anggah mengatakan, SA sebelumnya dimarahi ibunya, namun hal itu terjadi sebelum peristiwa tersebut.
Warga sekitar pun mengaku tidak pernah mendengar keributan, pertengaran, atau tangisan dari rumah itu.
Dari sisi ekonomi, mereka juga tergolong berkecukupan.
(TribunTrends/Kompas)