Kronologi Ketua BEM UGM Diteror Usai Ngadu ke UNICEF Soal Kasus Kematian Anak SD di NTT, DPR RI Buka Suara
Nindya Galuh Aprillia February 15, 2026 12:34 PM

Grid.ID - Ketua BEM UGM mendapat serangan teror usai mengirim surat ke UNICEF terkait kasus kematian anak SD di NTT yang tak mampu beli alat tulis. Kasus teror ini pun viral hingga DPR RI ikut buka suara.

Belakangan publik dibuat pilu dengan kabar seorang bocah SD di NTT mengakhiri hidupnya lantaran tak mampu membeli alat tulis. Kasus ini pun mengetuk hati Tiyo Ardianto, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM).

Tiyo pun berinisiatif menyuarakan kasus ini di media sosial. Tak hanya bersuara lantang di media, Tyo juga mengirimkan surat resmi kepada UNICEF.

Namun, tak lama setelah dirinya bersuara soal kasus ini, Tiyo justru mendapat pesan ancaman dan teror dari nomor asing. Apa isi pesannya? Dan bagaimana awal mula ini semua terjadi?

Kronologi Ketua BEM UGM Diteror

Teror yang diterima oleh ketua BEM UGM Tiyo Ardianto ini bermula dari aksinya yang lantang bersuara soal kasus anak SD di NTT yang meninggal dunia akibat tak mampu membeli alat tulis yang harganya hanya Rp 10 ribu. Kepada UNICEF, Tiyo menulis surat yang berisi keresahannya terhadap masa depan anak bangsa.

Tiyo menulis, “What kind of world do we live in when a child loses his life because he cannot afford a pen and a book?”.

"Dunia macam apa yang kita tinggali ketika seorang anak kehilangan nyawanya karena dia tidak mampu membeli pena dan buku?" tulisnya dikutip Grid.ID dari Surya Malang, Minggu (15/2/2026).

Ia menekankan bahwa tragedi ini bukanlah nasib atau kejadian terisolasi, melainkan akibat 'systemic failure' (kegagalan sistemik) dan kegagalan negara melindungi warga paling rentan. Tiyo meminta UNICEF meningkatkan perannya di Indonesia, terutama dalam memperkuat perlindungan anak, menjamin anggaran pendidikan, dan mencegah kematian yang seharusnya bisa dihindari akibat kegagalan kebijakan.

Namun, hanya berselang empat hari setelah BEM melayangkan kritik tajamtersebut, Tiyo melaporkan adanya pesan WhatsApp bernada ancaman penculikan yang dikirim dari nomor misterius dengan kode negara Inggris.

Pesan itu berisi kata-kata mengancam seperti: “Agen asing”, “Culik mau?”, “Jangan cari panggung jadi tongkosong”, “Cari dosamu entr” “Banci” “Jangan cari panggung loe ya jual narasi sampah”.

Serangan digital sistematis berupa pesan ancaman berulang mulai menghujani ponsel Tiyo Ardianto sejak Senin (9/2/2026). Setidaknya enam nomor asing terpantau terus-menerus mencoba menghubungi Ketua BEM UGM tersebut, namun ia memilih untuk tidak merespons demi menjaga keamanan dirinya.

Tak berhenti di ranah digital, mahasiswa Fakultas Filsafat UGM ini juga mengalami intimidasi fisik berupa penguntitan langsung oleh dua pria misterius bertubuh tegap. Kedua sosok tersebut dilaporkan sengaja membuntuti dan mengambil foto Tiyo dari kejauhan secara sembunyi-sembunyi.

Saat berusaha dikejar untuk diidentifikasi, para penguntit tersebut langsung menghilang dengan cepat. Tiyo meyakini bahwa seluruh rangkaian teror ini merupakan reaksi atas surat resmi terkait isu kemanusiaan yang dikirimkan BEM UGM ke UNICEF pada Jumat (6/2/2026).

DPR RI Ikut Buka Suara

Melihat ketua BEM UGM diteror usai mengirim surat aduan kepada UNICEF, DPR RI ikut buka suara. Hilman Mufidi, anggota Komisi X DPR RI mengecaman keras intimidasi yang menimpa aktivis mahasiswa tersebut.

Bagi Hilman, intimidasi ini bukan sekadar ancaman personal, melainkan sebuah ancaman serius bagi kebebasan berpendapat.

"Tindakan teror kepada adinda Tiyo, Ketua BEM UGM tentu sangat tidak sepatutnya dilakukan. Saya sangat menyayangkan aksi itu, itu sama saja dengan praktik pembungkaman," kata Hilman dikutip dari Tribun Style.

Hilman menegaskan bahwa keberanian Tiyo dalam bersuara bukanlah sebuah pelanggaran, melainkan manifestasi nyata dari kebebasan berpendapat yang secara konstitusional sah dan dilindungi sepenuhnya oleh hukum di Indonesia.

"Saya minta aparat mengusut tuntas siapa dalam aksi teror ke adinda Tiyo. Bagaimanapun suara Tiyo itu adalah wujud keterbukaan, wujud kebebasan berpendapat yang sangat perlu dihormati," tegas Politisi Fraksi PKB ini.

Hilman juga memberikan imbauan kepada seluruh elemen masyarakat agar menahan diri dalam menyikapi setiap dinamika yang berkembang.

"Semua pasti berduka, saya juga sangat prihatin dengan apa yang dialami anak kita di NTT, tapi menyikapi hal itu juga perlu keterbukaan hati, kekuatan pikir, dan setiap kritik terhadap penanganan kasusnya harus disikapi dengan bijak, bukan malah dengan teror," tandas Hilman.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.