David and Solomon Ingatkan PSM: Nikmat Harus Disyukuri Sebagai Amanah karena Kekalahan Adalah Cobaan
AS Kambie February 15, 2026 01:03 PM

TRIBUN-TIMUR.COM - Fakta pertandingan PSM Makassar pada pekan ke-21 laik membuka kembali nurani kita. Bukan sekadar memantik emosi. Kekalahan dari Dewa United di Stadion Gelora BJ Habibie memang sudah dibayangkan seketika sejak menit awal.

Namun kalah 0–2 pada Sabtu petang, 14 Februari 2026, adalah kekalahan yang tidak boleh berlalu tanpa perenungan. Bukan karena skor semata. Tapi karena kekalahan datang di tengah harapan yang baru saja disuntikkan. Apalagi PSM kembali ke Parepare dengan kepala tegak setelah menang tandang di pekan ke-20.

Cara mensyukuri kemenangan juga sudah perlu dievaluasi total. Sebagai umat beragama, wajib memercayai rumus Tuhan, “Jika kalian mensyukuri nikmatku, niscaya Kutambahkan nikmat itu”. Jika kemenangan dianggap menyenangkan. Tentu ia adalah nikmat. Maka, jika kita mengaku telah mensyukuri nikmat itu, maka tentu Tuhan akan menambahkannya. Setidaknya dengan nikmat serupa: kemenangan,

Tapi kok, PSM kalah lagi. Di kandang lagi! Padahal segenap tim ke Parepare melakoni laga versus Dewa United dengan mengantongi syukur membuncah.

Tidak mungkin Tuhan yang salah rumus. Asumsi minimalis kita sebagai kaum beragama, koreksi total cara bersyukur. Barangkali di sana ada keliru mengendap. F

Bisa jadi sudah banyak yang duduk di Stadion BJ Habibie Parepare yang tidak menikmati PSM dalam pertandingan. BIsa jadi banyak diantara kita mengaku pecinta PSM tapi hadir rasa jengkel dalam hati melihat lakon Juku Eka. Bisa jadi diantara kita masih banyak mengumpat mereka yang terlibat dalam Laskar Pinisi.

Jika seperti itu, rasa syukur hanya dalam angan. Yang begitu menjauhkan hidayah. Melemparkan taufiq. Mengusir barakah.

Kualleangngi tallanga natoalia mesti dibarengi hidayah. Siri na Pacce tak cukup tanpa taufiq. Ewakoo tak mumpuni tanpa berkah. 

Dalam lanskap sepakbola modern yang kian industrial, PSM kerap berdiri sebagai anomali. Klub tua dengan romantisme kuat, tetapi dituntut rasional. Klub rakyat yang harus bernegosiasi dengan bisnis.

Di titik inilah, kisah Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman semakin relevan terus diendapkan. Bukan sebagai cerita kitab yang jauh nan tinggi menjulang. Tapi David dan Solomon sebagai cermin sosial klub sepakbola dari Timur Indonesia menjadi Pride of Sulsel.

Batu Kecil Pemicu Keberanian Besar

Dalam narasi besar dunia, Dawud selalu diingat sebagai simbol underdog. Dalam Alkitab disebut David. Ia kecil tapi muda. Dia tidak bersenjata lengkap. Lawan David besar dan kuat. Disebut Jalut dalam Al-Quran. Dikenal Goliath dalam narasi sepakbola. Ia simbol persenjataan dan reputasi. David and Goliath.

David mengalahkan Goliath lewat serangan ketapel. Batu kecil dilontarkan ke kepala Goliath. Sang Raksasa terkapar.  

Nabi Dawud menang bukan karena mukjizat semata. David menang karena ia tahu apa yang ia kuasai. Ini sangat Makassar. Sangat Sulawesi. Amat PSM.

Orang Bugis-Makassar tidak digembleng untuk tampil paling besar. Mereka ditempa menjadi tepat membaca keadaan. Ditempa sebagai pelaut. Yang selamat bukan yang paling berani. Yang sukses menaklukkan lautan hingga Madagaskar, Australia, dan Tanjung harapan Afrika yang paling paham arah angin.

PSM berkali-kali datang ke pertandingan besar dengan status Dawud.

Anggaran lebih kecil. Nama pemain kalah tenar. Tekanan lebih besar. Namun PSM sering menang justru karena itu. Menang karena bermain dengan kesadaran penuh atas keterbatasan.

Di lapangan, kesadaran itu menjelma dalam tiga hal mendasar: fisik yang siap bertarung, skill yang terlatih, dan yang paling penting: kerja sama.

Di Makassar, individualisme jarang dirayakan sendirian. Yang dikenang adalah tim yang saling menutup kekurangan. Sebelas orang yang tahu kapan maju, kapan bertahan, dan kapan berkorban. Kapan delay. Kapan menjatuhkan. Dan kapan jatuh.

Ketika Menang Menjadi Ujian

Dawud tidak berhenti sebagai David. Ia menjadi raja. Ia berkuasa. Ia dihormati. Dan putranya, Sulaiman, bahkan mewarisi kekuasaan yang lebih besar. Juga dikenal sebagai King Solomon.

Di titik inilah narasi berubah. Bukan lagi soal bertahan hidup. Solomon lebih pada mengelola keunggulan. Merawat kemenangan. Mensyukuri nikmat.

PSM juga pernah, dan akan terus, mengalami fase ini. Menang. Kalah. Saat fase kemenangan datang. Klub disegani. Lawan mulai berhitung sebelum kickoff.

Di sinilah banyak klub jatuh. Tergelincir bukan saat kalah. Terjerembab saat menang.

Al-Qur’an menarik: ketika berbicara tentang Dawud dan Sulaiman, yang ditekankan bukan kekayaan atau kekuasaan mereka, melainkan ilmu dan syukur. “Dan sungguh, Kami telah memberikan ilmu kepada Daud dan Sulaiman…” 

Ilmu, dalam konteks ini, bukan sekadar pengetahuan teknis. Ia adalah kecerdasan mengelola diri, kemampuan membaca situasi, dan kesadaran bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan hak mutlak.

Peringatan Semut dan Insting Kolektif Suporter

Di tengah pasukan besar Sulaiman, terdengar suara kecil: semut. Ia tidak melawan. Ia tidak memberontak. Ia hanya memperingatkan kaumnya agar tidak terinjak. Dan yang paling penting: Sulaiman mendengar.

Dalam ekosistem PSM, semut itu bernama suporter. Mereka sering dianggap emosional, berisik, bahkan mengganggu.

Namun seperti semut, mereka memiliki insting kolektif. Mereka merasakan perubahan arah sebelum perubahan itu terlihat di tabel klasemen.

Ketika manajemen terlalu percaya diri. Ketika filosofi bermain mulai terasa asing. Ketika identitas PSM seakan digeser pelan-pelan. Suporter biasanya lebih dulu resah. 

Dialektika pun terjadi. Manajemen berbicara soal rencana jangka panjang. Suporter berbicara soal rasa memiliki.

Di sinilah PSM diuji banyak hal. Apakah suara dari tribun hanya dianggap kebisingan atau diperlakukan sebagai peringatan dini?

Makassar adalah kota yang peka pada sikap. Mereka bisa memaafkan kekalahan. Mereka sulit memaafkan kesombongan.

Bahasa Burung dan Kabar Burung

Keberhasilan dan Kebesaran King Solomon tak lengkap tanpa Hud-hud. Burung kecil yang membawa kabar besar dari negeri jauh.

Hud-hud tidak sekadar terbang. Tidak sekadar menonton. Ia mengamati. Ia memahami. Ia membawa informasi yang relevan. Inilah yang bisa kita sebut sebagai bahasa burung.

Dalam sepakbola modern, bahasa burung hadir dalam banyak rupa. Ia analisis pelatih yang jujur membaca kekuatan dan kelemahan lawan. Ia laporan staf tentang kondisi fisik dan mental pemain. Bisa juga menjelma jadi bisik-bisik tribun yang menangkap keganjilan suasana.

Namun ada juga kabar burung. Ada isu. Ada gosip. Hingga tekanan opini publik.

Di sinilah kebijaksanaan diuji. Sulaiman tidak menelan informasi mentah-mentah. Ia menguji. Ia memverifikasi. Ia menimbang. 

PSM pun hidup di antara dua arus ini. Arus data dan naluri. Arus angka dan rasa. Jika salah satunya dimatikan, klub kehilangan keseimbangan.

Diplomasi Ratu Tam Mempan

Ada juga diplomasi dan ratu. Penguasa dari Negeri Yaman ini, Ratu Balqis, tidak datang dengan perang. Ia datang dengan diplomasi, hadiah, dan kecerdasan politik. 

Sulaiman menolak hadiah itu. Bukan karena ia anti kekayaan. Sulaiman menolak karena ia tahu banyak hal. Ada nilai yang tidak bisa dibeli. Ada harga diri harus dijaga.

Dalam sepakbola, hadiah menjelma banyak hal. Ia  berupa sponsor besar. Ia berupa pemain mahal. Atau jalan pintas prestasi.

Semua penting. Semua sah. Tetapi tanpa arah nilai, klub mudah kehilangan wajah. PSM membangun kekuatannya bukan semata dari belanja, melainkan dari kohesi, dari sistem, dari rasa memiliki yang ditanamkan perlahan. 

Dan ketika singgasana Balqis “dipindahkan”. Ketika strategi mengalahkan kemewahan, Sulaiman justru bersyukur. 

Itu pelajaran penting bagi PSM. Kemenangan bukan alasan untuk lupa diri. Kemenangan momen untuk berterima kasih dan berbenah.

David and Goliath: Narasi yang Tak Pernah Usang

Media kerap menempatkan PSM sebagai Dawud. Dan itu tidak masalah.

Masalahnya adalah ketika PSM sendiri lupa bagaimana rasanya menjadi Dawud.  Bagaimana indahnya mrnjadi Solomon. Sulaiman tidak melupakan masa kecilnya. Ia tidak mabuk kuasa.

PSM pun harus begitu. Membawa ingatan kolektif ke setiap laga besar. Bahwa PSM dibesarkan oleh keterbatasan. Laskar Pinisi tak dibangun oleh kemewahan.

Pada akhirnya, PSM bukan hanya tentang trofi. Ia adalah tentang relasi sosial. Relasi antara manajemen yang memimpin. Relasi antara pemain yang berjuang. Dan relasi antara suporter yang menjaga nyala merawat asa.

Seperti Sulaiman, PSM boleh besar. Boleh kuat. Boleh disegani. Tetapi selama ia masih mau berhenti sejenak, mendengar suara semut, dan membaca bahasa burung dari Selat Makassar, PSM akan tetap menjadi klub yang bukan hanya menang, tetapi bermakna.

Dan di titik itulah, syukur menemukan bentuknya yang paling senyap namun paling menentukan.

Bukan syukur yang diumumkan, melainkan syukur yang mengubah cara melangkah. Syukur yang membuat kekuasaan tidak liar, kemenangan tidak mabuk, dan keunggulan tidak kehilangan arah.

Sulaiman, ketika singgasana itu telah berada di hadapannya. Setelah singgasana Balqies dipindahkan sekejap oleh ilmu. Sulaimab tidak berdiri untuk bertepuk tangan. Ia justru berhenti sejenak. Seperti menarik napas panjang, lalu mengakui dalam hatinya bahwa semua ini hanyalah ujian: apakah ia masih tahu cara bersyukur, atau justru mulai lupa diri.

Di situlah syukur menjadi jalan yang menambah, bukan sekadar penutup rasa senang.

Makassar mengenal logika itu. Bahwa nikmat yang disambut dengan kesombongan akan cepat surut. 

Tetapi nikmat yang dijaga dengan syukur akan pelan-pelan meluas, menambah ruang, menambah daya, menambah ketahanan. 

Seolah ada janji yang bekerja diam-diam di balik setiap kemenangan yang dirawat dengan kesadaran: jika engkau mampu bersyukur, engkau akan ditambah—bukan hanya dalam jumlah, tetapi dalam kualitas. Dalam ketenangan mengambil keputusan. Dalam kejernihan membaca situasi. Dalam kesanggupan untuk tetap rendah hati ketika berada di puncak.

Dan, di situlah syukur semakin terasa. Syukur kian bermakna. Nikmat yang sejatinya terus menambah. Bukan menghabiskan.Menambah kedewasaan manajemen dalam memikul kuasa.

Menambah kebijaksanaan pelatih dalam meracik strategi. Menambah kejujuran pemain saat menang maupun kalah. 

Dan menambah kesetiaan suporter, bahkan ketika jalan tidak selalu lurus.

Mungkin itulah sebabnya PSM tidak pernah benar-benar hidup dari hasil semata. 

Ia hidup dari cara memperlakukan nikmat, dari kesediaan untuk tetap mendengar suara semut, membaca bahasa burung, dan mengingat dari mana semua ini bermula.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.