Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberi sinyal kesediaan.
Untuk bertemu langsung dengan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Sinyal itu muncul ketika Washington juga mengerahkan tambahan kekuatan militer ke kawasan Timur Tengah.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyatakan Trump terbuka untuk pembicaraan tingkat tinggi apabila Teheran menunjukkan minat pada dialog langsung.
Ia menjelaskan bahwa Trump lebih memilih penyelesaian melalui kesepakatan.
Meskipun belum ada kepastian bahwa negosiasi akan membuahkan hasil konkret.
Trump turut mengingatkan bahwa kegagalan mencapai kesepakatan dapat berujung pada konsekuensi serius.
Ia merujuk pada serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran dalam konfrontasi Juni 2025 sebagai contoh eskalasi yang mungkin terulang.
Di saat yang sama, delegasi AS dan Iran dijadwalkan bertemu pada Selasa (17/2/2026) di Jenewa untuk putaran kedua negosiasi nuklir.
Pertemuan tersebut dimediasi oleh Oman setelah sebelumnya berlangsung pembicaraan tidak langsung di Muscat pada awal Februari 2026.
Delegasi AS disebut akan melibatkan utusan Steve Witkoff dan penasihat Jared Kushner.
Sedangkan pihak Iran dipimpin Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.
Di tengah proses diplomasi, Washington memutuskan memindahkan kapal induk USS Gerald Ford ke Timur Tengah.
Untuk bergabung dengan USS Abraham Lincoln beserta kapal perusak dan pesawat tempur yang telah lebih dulu ditempatkan.
Trump menyatakan pengerahan itu diperlukan apabila negosiasi tidak menghasilkan kesepakatan.
Sementara itu, Iran menegaskan tidak akan tunduk pada tekanan politik terkait program nuklirnya.