TRIBUNPEKANBARU.COM,PEKANBARU- Gelandangan dan pengemis mulai terlihat di jalanan Kota Pekanbaru mendekati momen Ramadan 1447 H dengan beragam modus untuk meminta belas kasihan dari para pengguna jalan.
Penelusuran Tribunpekanbaru.com, sejumlah gelandangan dan pengemis berada di jalanan dengan modus jadi pemulung.
Mereka berjalan di sepanjang ruas jalanan kota sambil mencari botol plastik dan rongsokan.
Pemandangan ini terlihat di Jalan Tuanku Tambusai.
Ada juga yang mengemis dengan modus sebagai penjual tisu di persimpangan lampu lalu lintas kota.
Modus lainnya gelandangan dan pengemis menjadi Pak Ogah dengan mengatur lalu lintas berharap ada uluran tangan dari pengendara yang memberi sekedar recehan.
Seorang pemuda berkaos oranye dengan sigap memandu pengendara sepeda motor yang hendak putar balik. Ada sejumlah pengendara memberi lembaran Rp 2.000 kepada pemuda tersebut.
Baca juga: Bikin Macet Jalanan di Pekanbaru, Warga Minta Aparat Tindak Tegas Pak Ogah
Dirinya terdengar mengucapkan terima kasih kepada pengendara yang melintas. Pria berambut keriting itu terlihat beberapa kali menggaruk kepalanya lantaran gerah.
Deru dan debu kendaraan silih berganti melintas di hadapannya. Kulitnya yang gelap memperlihatkan bahwa setiap hari ia berada di satu U Turn Jalan HR Soebrantas, Kota Pekanbaru itu.
Pemuda bernama Kurnia ini memandu dengan sabar setiap kendaraan yang hendak memutar arah. Ia mengaku terpaksa menjadi Pak Ogah lantaran masih menganggur.
Baca juga: Wako Pekanbaru Agung Nugroho Imbau Warga Tak Beri Sedekah pada Pengemis di Jalanan
Setiap hari ia berharap rupiah dari pengendara yang melintas. Ia melakukannya karena hingga kini belum mendapat pekerjaan yang layak.
"Karena masih belum dapat kerja, ini juga masih cari kerja," ulasnya kepada Tribunpekanbaru.com, Sabtu (14/2/2026).
Pemuda 25 tahun ini bercerita hingga kini belum punya pekerjaan tetap. Ia sehari-hari menjadi Pak Ogah karena sudah tiga bulan tidak kunjung mendapat pekerjaan.
Dirinya mengaku datang dari Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan untuk mencari pekerjaan di Kota Pekanbaru. Namun akhirnya ia memilih jadi Pak Ogah karena belum ada pekerjaan.
Kurnia memilih tinggal di sekitar emperan toko atau halte untuk sekedar istirahat. Ia mengaku tidak punga uang cukup untuk sekedar menyewa kos atau rumah.
"Karena belum dapat kerja ya jadi gini, karena diajak teman juga. Saya ikut saja," paparnya.
Pemuda lulusan SMP ini menyebut bahwa uang dari hasil menjadi Pak Ogah tidak menentu setiap harinya. Ia mengaku pernah mendapat uang hampir Rp 100.000 dalam sehari ketika menjadi Pak Ogah.
"Tapi hasilnya tidak tentu, kadang ada 30 ribu, kadang 50 ribu sehari, palingan untuk makan aja," akunya.
Keberadaan Pak Ogah ternyata mengganggu sejumlah pengguna jalan. Mereka mengaku Pak Ogah bukan mengatur lalu lintas tapi malah membuat macet.
"Kalau kami lihat dia mau atur jalan, tapi kalau kita lihat langsung malah buat macet aja," ujar satu pengendara, Kiki.
Karyawan swasta ini menyebut bahwa setiap pulang ke rumah selalu macet. Ia berharap keberadaan Pak Ogah ini bisa bisa berganti dengan petugas yang mengatur lalu lintas jalan.
"Semoga saja ada petugas lah, supaya jangan bikin macet. Kalau bisa ditertibkan juga Pak Ogah ini," terang warga Kelurahan Tabek Gadang ini.
(Tribunpekanbaru.com/ Fernando Sikumbang)