Tesero, Italia (ANTARA) - Pertandingan paspor melawan waktu

Namun, perjalanan Olimpiade-nya hampir terhenti oleh rintangan yang tak terduga, yakni paspor Venezuela miliknya ternyata telah kedaluwarsa.

Berdasarkan peraturan Olimpiade, atlet harus membawa paspor yang masih berlaku. Namun, karena kendala diplomatik, layanan konsuler Venezuela di Kanada tidak beroperasi sepenuhnya, sehingga pembaruan paspor di sana mustahil dilakukan.

Kurang dari dua pekan sebelum Olimpiade, Claveau-Laviolette terbang kembali ke Venezuela untuk mengurus dokumen-dokumen baru.

Dalam waktu sepekan, Claveau-Laviolette merampungkan pengurusan dokumen sembari menghadiri acara-acara media dan bertemu dengan para pejabat dari Komite Olimpiade Venezuela.

Presiden komite tersebut, Maria Soto, membantu mempercepat proses pengurusan dokumen.

"Saya diperlakukan seperti raja," kenangnya. "Banyak sekali warga Venezuela yang menulis surat kepada saya, mengatakan mereka bangga dan ingin melihat saya berkompetisi. Itu benar-benar menyentuh hati saya."

Paspornya pun diterbitkan tepat waktu. Ketika akhirnya Claveau-Laviolette berdiri di garis start Olimpiade, dia tidak hanya membawa aspirasinya sendiri, tetapi juga harapan para pendukung yang berada ribuan kilometer jauhnya.

Kehadiran sebagai kemenangan

Sejak Olimpiade Musim Dingin 1998 di Nagano, hanya ada lima atlet Venezuela yang lolos kualifikasi untuk Olimpiade Musim Dingin.

Setelah Olimpiade Sochi pada 2014, negara tersebut absen dalam dua edisi Olimpiade Musim Dingin berikutnya.

Sebagai satu-satunya perwakilan Venezuela di Milan-Cortina, Claveau-Laviolette juga bertugas sebagai pembawa bendera dalam upacara pembukaan, mengibarkan bendera berwarna kuning, biru, dan merah itu tinggi-tinggi pada malam musim dingin di Italia utara.

Setelah pertandingannya pada Kamis (12/2), di bawah sinar matahari Tesero yang cerah, Claveau-Laviolette berbincang dengan Xinhua sambil mengenakan atasan tanpa lengan.

Ketika ditanya apakah dirinya merasa kedinginan, Claveau-Laviolette menepis pertanyaan itu. "Jangan khawatir, saya sama sekali tidak kedinginan. Sinar matahari yang hangat membuat saya merasa seperti kembali ke Venezuela."

Baginya, ukuran kesuksesan sejati bukan hanya peringkat.

"Saya berharap dalam empat tahun ke depan, Venezuela setidaknya bisa memiliki satu, mungkin dua atau tiga atlet di Olimpiade Musim Dingin," tuturnya. "Jika partisipasi saya membuat jalan menuju tujuan tersebut sedikit lebih mudah, itu akan sangat berarti."

Berbeda dengan banyak atlet profesional purnawaktu, Claveau-Laviolette juga masih tercatat sebagai mahasiswa jurusan teknik sipil. Setelah Olimpiade, dia akan kembali ke kampus untuk bersiap menghadapi ujian tengah semester.

Ke depannya, Claveau-Laviolette berharap dapat kembali mewakili Venezuela di Kejuaraan Dunia Ski Nordik tahun depan di Falun, Swedia, dan terus meningkatkan prestasinya.

Bagi sebuah negara tanpa salju, perjalanannya mungkin tampak mustahil. Namun, dengan meninggalkan jejaknya di lintasan Olimpiade, Claveau-Laviolette telah menunjukkan bahwa bagi beberapa negara, bisa ikut bertanding saja sudah merupakan sebuah kemenangan.