Kisah Mantan Migran Asal Kebumen Coba-coba Usaha Kue Kering, Kebanjiran Order Jelang Lebaran
deni setiawan February 15, 2026 05:09 PM

TRIBUNJATENG.COM, KEBUMEN - Berawal dari coba-coba, mantan pekerja migran, Paryatun (27) kini sukses kelola usaha kue kering dan selalu ramai pesanan menjelang Lebaran.

Di tempat produksi yang berada di rumahnya Dusun Putat, Desa Tanggulangin, Kecamatan Klirong, Kabupaten Kebumen, para pekerja sibuk membuat kue kering guna memenuhi permintaan konsumen untuk momentum Lebaran tahun ini.

Ibu satu anak itu memulai usaha kue kering yang diberi nama Arya Cookies sejak 2020 dan bertahan hingga saat ini.

Baca juga: Derby Ngapak di Jatidiri, Laga Tertunda Berujung Final, Persak Kebumen Siap Hadapi Persibangga

Sebelum memulai usaha itu, Paryatun belajar secara otodidak dari media sosial sepulang dari bekerja sebagai migran di Malaysia.

Perempuan itu menceritakan, begitu lulus sekolah langsung bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) pada 2017.

Akan tetapi dia kemudian dipulangkan ke Tanah Air berselang hampir dua tahun karena pabrik tempatnya bekerja tutup.

"Di situlah saya mikir, putar otak bagaimana bisa punya uang."

"Pas itu momentumnya mau Lebaran, jadi coba-coba dulu."

"Alhamdulillah masih berjalan sampai sekarang," katanya, Minggu (15/2/2026).

Setelah belajar secara otodidak, dia memproduksi kue kering kemudian dibagikan kepada tetangga dan mendapatkan respon yang bagus.

Dia lantas memutuskan untuk memproduksi kue kering dan dipasarkan secara online.

Semula Paryatun membidik target pasar para pekerja migran.

Dari awalnya puluhan toples kue kering, terangnya, pemesanan dari konsumen terus meningkat seiring berjalannya waktu.

Menurutnya, pemesanan kue kering biasanya mengalami peningkatan menjelang Lebaran.

Baca juga: Kronologi Longsor di Kebumen, Rumah Nursito Tertimbun Pada Pukul 23.00 WIB

Dia menjual sekira 9.000 toples kue kering saat momentum Lebaran tahun lalu.

"Tahun ini Alhamdulillah sudah masuk 8.000 toples. Untuk pengiriman paling jauh ini ke Jepang," ungkapnya.

Dia melayani pemesanan tiga bulan sebelum Lebaran dan pemesanan kue kering dari konsumen ditutup dua pekan sebelum Lebaran.

Ada 30 lebih varian kue kering yang diproduksinya dibantu 10 pekerja.

"Paling best seller itu nastar, kastengel, putri salju, dan kue kacang," katanya.

Paryatun mengungkapkan, pemesanan kue kering biasanya lebih banyak dalam bentuk parcel atau hampers dibandingkan per toples.

Kue kering yang diproduksi ditempatnya dijual dengan harga berkisar Rp20 ribu hingga Rp45 ribu per toples.

"Hampers Rp95 ribu isi empat toples. Kalau parcel isi lima toples harganya Rp110 ribu," pungkasnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.