TRIBUNMATARAMAN.COM | TULUNGAGUNG - Pengurus Klenteng Tjoe Tik Kiong Tulungagung melaksanakan upacara tradisi ganti baju untuk Makco, dewa utama di klenteng tersebut, Minggu (15/2/2026).
Ritual ini menjadi bagian dari persiapan menyambut perayaan Tahun Baru Imlek yang jatuh pada Selasa (17/2/2026).
Dalam tradisi tersebut, Makco dan sejumlah dewa lainnya yang sehari-hari mengenakan pakaian kuning diganti dengan busana merah. Warna merah dipilih karena identik dengan simbol kebahagiaan dan keberuntungan dalam perayaan Imlek.
Prosesi penggantian baju dilakukan secara tertutup dan hanya diikuti bioma atau pelayan klenteng serta umat perempuan. Hal ini karena Makco diyakini sebagai sosok perempuan, sehingga ritual pembersihan dan pergantian pakaian hanya dilakukan oleh sesama perempuan.
Baca juga: Jadwal Race Baru MotoGP Minggu Malam Rumor Transfer Hot, Jorge Martin Gantikan Marc Marquez 2027
“Total ada sembilan dewa yang diganti bajunya. Semua memakai warna merah sebagai lambang kebahagiaan,” ujar Bioma Klenteng Tjoe Tik Kiong Tulungagung, Tjio Jingjing.
Menjelang Imlek, persembahyangan akan digelar pada Senin (16/2/2026) sekitar pukul 16.00 WIB, dilanjutkan pertunjukan barongsai setelah ibadah. Umat kemudian kembali melaksanakan persembahyangan tengah malam tepat pukul 00.00 WIB untuk menyambut pergantian tahun.
“Biasanya pukul empat pagi sudah ada umat yang mulai berdoa lagi,” tambahnya.
Sepanjang hari pada perayaan Imlek, klenteng akan terbuka bagi umat yang ingin bersembahyang. Diperkirakan sekitar 200 umat hadir, tidak hanya dari Tulungagung tetapi juga dari luar kota, datang secara bergantian bersama keluarga.
Tahun ini perayaan Imlek 2577 memasuki Tahun Kuda Api. Dalam kepercayaan setempat, tahun tersebut diprediksi membawa emosi yang lebih kuat sehingga masyarakat diharapkan bersikap sabar, tenang, dan tidak gegabah.
Beberapa shio diperkirakan mengalami ciong atau nasib kurang baik, yakni shio tikus dengan ciong besar, serta shio ayam, kuda, dan kelinci dengan ciong kecil.
“Harapannya sepanjang tahun kita senantiasa sukses, rezeki lancar, panjang umur, dan sehat,” ujarnya.
Sebelumnya, umat Tri Dharma Tulungagung telah melaksanakan rangkaian ritual lain, yakni upacara sang sin untuk mengantar para dewa menghadap Tuhan Yang Maha Esa. Setelah itu dilakukan pembersihan altar melalui ritual ayak abu, yakni menyaring abu hio dari tempat pembakaran dupa.
Abu hio yang tersimpan di altar dipercaya memiliki khasiat penyembuhan. Tak jarang umat datang untuk meminta abu tersebut sebagai bagian dari ikhtiar pengobatan.
(tribunmataraman.com)