Bongkar Daftar Kejanggalan Ijazah Rismon Sianipar, Inilah Rekam Jejak Rony Teguh dan Josua Sinambela
Putra Dewangga Candra Seta February 15, 2026 07:32 PM

 

SURYA.co.id – Polemik seputar dugaan keaslian ijazah Rismon Sianipar kian memanas di tengah riuh isu ijazah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi).

Kali ini, Rismon dilaporkan ke Polda Metro Jaya pada Jumat (13/2/2026) atas dugaan penggunaan ijazah magister (S2) dan doktoral (S3) yang disebut-sebut diterbitkan oleh Universitas Yamaguchi.

Laporan tersebut teregistrasi dengan nomor LP/B/1210//2026/SPKT/POLDA METRO JAYA tertanggal 13 Februari 2026.

Rismon dilaporkan dengan Pasal 391, 392 juncto 272 KUHP Baru terkait penggunaan ijazah dan gelar akademik palsu, serta Pasal 69 ayat (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Laporan Resmi atas Dugaan Ijazah Palsu

DILAPORKAN PALSU - Sejumlah elemen pendukung Jokowi melaporkan Rismon Sianipar dengan tudingan pemalsuan ijazah S2 dan S3 dari Yamaguchi University.
DILAPORKAN PALSU - Sejumlah elemen pendukung Jokowi melaporkan Rismon Sianipar dengan tudingan pemalsuan ijazah S2 dan S3 dari Yamaguchi University. (kolase Tribunnews dan Kompas TV)

Pelaporan dilakukan sejumlah elemen pendukung Jokowi.

Ketua Jokowi Mania, Andi Azwan, menyampaikan laporan tersebut telah beberapa kali diajukan sebelumnya, namun baru kali ini diterima secara resmi.

“Kami melaporkan saudara Rismon Hasiholan Sianipar mengenai ijazah yang diduga palsu, ijazah S2 dan S3 Yamaguchi,” kata Andi Azwan kepada wartawan, Jumat, dikutip dari Kompas.com.

Menurut Andi, laporan kali ini diperkuat dengan dokumen konfirmasi langsung ke pihak universitas di Jepang.

Baca juga: Siapa Andi Azwan? Tokoh Relawan Jokowi yang Laporkan Ijazah Rismon Sianipar Palsu ke Polisi

Berikut rangkuman fakta dan kejanggalan yang menjadi sorotan publik.

1. Penelusuran Tesis Tak Ditemukan di Sistem Universitas

Kejanggalan awal diungkap Rony Teguh, peneliti sistem informasi yang berdomisili di Jepang.

Ia mengaku melakukan pengecekan langsung terhadap data akademik yang berkaitan dengan Rismon.

"Saya juga melihat ini ada kecurigaan, bukan hanya curiga tapi sudah dipastikan 100 persen. Saya cek ke Yamadai, Yamaguchi Daigaku universitas di Yamaguchi."

"Saya tulis dalam bahasa Jepang bahwa yang bersangkutan tesis dengan master yang tertulis di CV itu tidak ada," katanya.

Ia menjelaskan bahwa sistem administrasi akademik di Jepang bekerja secara berjenjang dan terintegrasi.

"Di Jepang itu sewaktu dia menerima informasi dia mengevaluasinya bertingkat. Dia cek ke fakultas bahkan departemen jurusannya, dan itu tidak ditemukan sama sekali," kata Rony Teguh.

2. Hanya Ditemukan Satu Prosiding Tahun 2006

OGAH AJUKAN RJ - Rismon Sianipar saat ditemui setelah diperiksa di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Kamis (13/11/2025). Rismon baru-baru ini mengungkap alasannya tak mau mengajukan Restorative Justice seperti Eggi Sudjana dan Damai Hari.
OGAH AJUKAN RJ - Rismon Sianipar saat ditemui setelah diperiksa di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Kamis (13/11/2025). Rismon baru-baru ini mengungkap alasannya tak mau mengajukan Restorative Justice seperti Eggi Sudjana dan Damai Hari. (Tribunnews.com)

Rony menyebut, dari penelusurannya ia hanya menemukan satu prosiding atas nama Rismon yang terbit pada 2006.

Prosiding merupakan kumpulan makalah dari seminar atau konferensi ilmiah, bukan tesis atau disertasi.

"Orang ini atau penuduh ini memiliki hanya satu prosiding. Prodising itu tingkat kasta terendah dalam sebuah penelitian karena dia hanya menampilkan data baru yang belum bisa dijadikan paper utama," jelasnya.

Baca juga: Riwayat Pendidikan Rismon Sianipar, Ijazahnya dari Universitas Yamaguchi Dilaporkan Palsu ke Polisi

Ia juga menyoroti posisi Rismon sebagai penulis keempat dalam makalah tersebut.

"Biasanya penulis ke 4 itu penulis pembantu. Hanya bantu, kadang ngedit, yang menjadi penulis utama The First Outers itu penulis utamanya."

"Dia bekerja dari analisis, menulis, memverifikasi sampai disodorkan ke profesornya," katanya.

3. Perbedaan Fisik Ijazah Jadi Sorotan Ahli Forensik Digital

Pakar digital forensik Josua Sinambela turut mengulas dugaan kejanggalan ijazah tersebut dalam tayangan YouTube Analis Forensik Digital - DFTalk pada Rabu (4/6/2025).

"Anak SD pun bisa membandingkan," ujar Josua.

Ia membandingkan ijazah S2 yang ditampilkan Rismon dengan ijazah asli alumni Universitas Yamaguchi.

"Apakah ini (ijazah Rismon) copyan yang diprint. Silakan saja. Tapi warnanya terlihat berbeda," terang Josua.

Menurutnya, ijazah Rismon menggunakan satu stempel di sisi kanan, sementara ijazah asli memiliki dua stempel.

"IJazah di Yamaguchi yang Bachelor ada 3 stempel, untuk master dan doktor 2 stempel," katanya.

4. Format Penulisan dan Identitas Rektor Dipertanyakan

Josua juga menyoroti perbedaan format huruf, tata letak, hingga ketiadaan bidang ilmu dalam ijazah yang ditunjukkan Rismon.

"Saya pastikan semuanya pakai stamp dan menggunakan kata kanji," katanya.

Ia menambahkan, ijazah resmi dari Universitas Yamaguchi selalu mencantumkan bidang ilmu di bagian atas.

Lebih lanjut, ia menilai kejanggalan paling serius terletak pada nama rektor yang tercantum.

"Dia gak tahu tahun henzi. Dibuat sama, tapi yang diganti tanggalnya. Yang pasti ini tahun 2006 dan ini tahun 2006. Dan tahun 2006 bulan Mei Hiroshikato sudah gak jadi rektor, sudah ganti nama rektornya.

"Ini kesalahakesalahan fatal. KIta gak perlu analisa fisiknya lagi sebenaranya. Ini sesuatu yang ganjil," tegasnya.

"Saya gak bilang palsu, tapi berbeda banget. Setelah kita konfirmasi memang tidak dikeluarkan.

"Jadi anda bisa menilai sendiri ijazah siapa sbeneranya yang palsu, ijazah sang penuduh atau yang dituduh," pungkasnya.

5. Respons Rismon: Siap Hadapi Proses Hukum

Menanggapi laporan tersebut, Rismon menyatakan siap mengikuti seluruh proses hukum.

“Saya menghargai hak hukum mereka. Saya akan ladeni. Tapi ada konsekuensi, akan saya laporkan balik kalau tidak terbukti,” kata Rismon ditemui terpisah.

Proses hukum di Polda Metro Jaya masih berjalan, dan publik menunggu pembuktian lebih lanjut melalui mekanisme yang berlaku.

Sosok Rony Teguh dan Josua Sinambela

Dikutip dari profilnya di linkedin.com, Rony menyebut dirinya sebagai peneliti dan dosen IoT dan AI. 

Dia sudah berpengalaman lebih dari 16 tahun dalam komputer jaringan, termasuk keahlian dalam jaringan sensor nirkabel. 

Rony mengklaim mahir dalam Python, C++, MATLAB, dan Sistem Informasi Geografis (GIS). Keahlian teknis ini mendukung berbagai proyek inovatif.

Pekerjaan terbarunya berfokus pada pemanfaatan teknologi pembelajaran mendalam untuk pemantauan ekologi, menjembatani kecerdasan buatan dengan upaya konservasi lingkungan.

Rony menyebut sudah menghasilkan enam hak cipta dalam inovasi Internet of Things (IoT) dan aplikasi pajak (Aplikasi I-Tax). 

Sementara terkait pendidikan, Rony mendapat gelat Master of Engineering dari UGM pada Februari 2002.

Lalu, gelar Ph.D diraih dari Hokkaido University, Jepang pada September 2014.

Sementara untuk aktivitasnya, sejak November 2024, Rony menjadi peneliti WWF Indonesia di Kalimantan Tengah.

Dalam penelitiannya, dia menggunakan Artificial Intelligent dan UAV untuk mendeteksi objek kecil di sarang orangutan. 

Selain itu, Rony juga masih tercatat sebagai dosen di Universitas Palangka Raya, sejak Januari 2005 hingga saat ini. 

Rony juga pernah menjadi konsultan di WWF Indonesia dari Januari 2000 hingga Desember 2003. 

Dalam linkedin.com, Rony juga menyantumkan 11 keahlian dan berbagai macam publikasi ilmiah.

Sedangkan Josua M. Sinambela merupakan pakar di bidang keamanan siber dan forensik digital 

Ia merupakan pendiri dan CEO dari RootBrain IT Security Training & Consulting serta PT Analis Forensik Digital (ForensikDigital.com).

Dengan pengalaman lebih dari 18 tahun di bidang infrastruktur jaringan dan keamanan sistem informasi, Josua telah memberikan kontribusi signifikan dalam berbagai proyek dan pelatihan di sektor korporat, akademik, dan pemerintahan.

Josua menyelesaikan pendidikan sarjana dan magister di bidang Teknik Elektro – Sistem Komputer dan Informatika dari Universitas Gadjah Mada (UGM).

Ia juga memegang berbagai sertifikasi profesional internasional, termasuk:

  • Certified Ethical Hacker (CEH)
  • Certified Hacking Forensic Investigator (CHFI)
  • EC-Council Certified Security Analyst (ECSA)
  • Licensed Penetration Tester (LPT)
  • AccessData Certified Examiner (ACE)
  • CompTIA Advanced Security Practitioner (CASP+)
  • CompTIA Cybersecurity Analyst (CySA+)
  • CompTIA PenTest+
  • Cisco Certified Network Associate (CCNA)
  • Cisco Certified Network Professional (CCNP)

Sebelum mendirikan perusahaan sendiri, Josua pernah menjabat sebagai Kepala Unit Sistem dan Teknologi Informasi di UGM serta menjadi dosen di Program Magister Teknologi Informasi UGM.

Ia juga aktif sebagai konsultan dan auditor di berbagai perusahaan BUMN dan swasta, termasuk PT PLN, PT Pertamina, dan PT Indonesia Power.

Keahliannya mencakup berbagai aspek teknologi informasi, seperti keamanan jaringan, forensik digital, dan pengembangan kebijakan TI.

Josua dikenal publik setelah terlibat dalam investigasi dugaan ijazah palsu milik Rismon Sianipar, yang mengklaim memiliki gelar S2 dan S3 dari Universitas Yamaguchi, Jepang.

Melalui analisis forensik digital, Josua menemukan bahwa universitas tersebut tidak pernah menerbitkan ijazah atas nama Rismon, yang kemudian menjadi sorotan media nasional.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.