Cintai Rupiah dan Produk Lokal, Cara Sederhana Jaga Kekuatan Ekonomi Indonesia
Arie Noer Rachmawati February 15, 2026 08:14 PM

 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Sri Handi Lestari

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Makna cinta terhadap mata uang dalam negeri dalam hal ini Indonesia adalah rupiah merupakan bagian dari kedaulatan bagi sebuah negara.

“Eksistensi suatu negara dianggap kuat jika dia punya mata uang sendiri. Kalau ada negara baru tidak punya mata uang yang diakui secara internasional, maka kedaulatannya dipertanyakan,” kata Rifki Ismal, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, saat menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan "Capacity Building 2026" di Bandung, Sabtu (14/2/2026).

Dia kemudian mencontohkan keberadaan Euro di Eropa. 

Menurutnya, tidak semua negara di kawasan tersebut bersedia melepas mata uang nasionalnya demi menggunakan Euro sebagai alat transaksi bersama.

“Kenapa Inggris tidak ikut menggunakan Euro? Karena mereka punya kebanggaan besar terhadap mata uangnya. Ada simbol kepala ratu di mata uang Poundsterling saat Euro terbentuk, yaitu Ratu Elizabeth II. Tapi sejak tahun 2022-2024 mulai berganti gambar Raja Charles III secara bertahap dengan gambar Ratu Elizabeth masih tetap berlaku dan itu soal identitas dan kedaulatan,” jelas Rifki.

Baca juga: Penjelasan Bank Indonesia soal Cacahan Uang Dibuang di TPS, Pemilik Lahan: Diangkut Dump Truck

Faktor Penting Jaga Stabilitas Ekonomi

Dia menyebut kecintaan terhadap mata uang dan produk dalam negeri menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi. 

“Secara makro ekonomi sebenarnya sederhana. Bagaimana ekonomi Indonesia kuat dan mata uang cenderung menguat? Cintailah Indonesia,” tegasnya.

Dia menjelaskan tingginya konsumsi barang impor turut memberi tekanan pada rupiah.

Ketika masyarakat membeli produk luar negeri seperti gawai dan barang elektronik, maka transaksi dilakukan dengan mata uang asing.

“Kita banyak impor. Handphone buatan mana? Banyak yang beli produk luar, nilainya belasan juta rupiah. Ketika impor meningkat, kebutuhan valas juga meningkat. Itu menekan rupiah,” terangnya.

Sebaliknya, ia mencontohkan negara yang masyarakatnya memiliki loyalitas tinggi terhadap produk domestik.

“Ada negara yang masyarakatnya sangat cinta produk dalam negeri. Mereka enggan membeli barang asing kalau ada produk lokal. Dampaknya sederhana, kebutuhan impor rendah dan mata uangnya lebih stabil,” bebernya.

Apabila masyarakat Indonesia memperkuat konsumsi produk lokal, ketergantungan terhadap barang impor dapat ditekan.

Hal ini pada akhirnya akan mengurangi permintaan terhadap valuta asing dan membantu menjaga kestabilan rupiah.

Selain faktor konsumsi, ia juga menyinggung tantangan eksternal seperti kebijakan proteksionisme sejumlah negara besar, termasuk Amerika Serikat di era kepemimpinan Donald Trump.

Kebijakan tarif tinggi terhadap barang impor dinilai dapat menghambat ekspor Indonesia.

“Kalau barang kita dihambat masuk ke Amerika, tentu penerimaan devisa berkurang. Pasokan dolar terbatas, ini juga bisa memberi tekanan tambahan pada rupiah,” paparnya.

Baca juga: Jaga Kedaulatan Ekonomi, Bank Indonesia dan TNI AL Gelar Ekspedisi Rupiah Berdaulat di 5 Pulau Jatim

Tingkatkan Rasa Bangga Produk Dalam Negeri

Karena itu, ia kembali menegaskan bahwa salah satu langkah konkret yang bisa dilakukan masyarakat adalah meningkatkan rasa bangga dan preferensi terhadap produk dalam negeri.

“Kalau masyarakat cinta Indonesia, tidak banyak mengonsumsi barang impor, ekonomi akan semakin solid. Ketergantungan terhadap luar negeri berkurang dan rupiah akan lebih kuat,” tegas Rifki.

Baca juga: Warga Bingung Bayar Pakai Uang Rp 75 Juta Tapi Ditolak Restoran, Bank Indonesia: Dilarang Menolak

Fenomena Nilai Tukar Rupiah 1 Dekade

Paparan ini seperti menjawab fenomena nilai tukar rupiah dalam satu dekade terakhir menunjukkan tren pelemahan yang signifikan terhadap dolar Amerika Serikat. 

Jika pada 2015 kurs rupiah masih berada di kisaran Rp10.000 per dolar Amerika, maka pada 2025 nilainya telah merosot ke kisaran Rp16.000 hingga Rp17.000 per dolar Amerika.

Kondisi ini membuat daya beli masyarakat terhadap barang impor semakin tertekan.

Tak hanya terhadap dolar AS, rupiah juga tercatat melemah terhadap mata uang negara tetangga.

Pada November 2025, nilai tukar rupiah menyentuh level terendah sejak 2007 terhadap ringgit Malaysia.

Satu ringgit Malaysia setara sekitar Rp4.011 hingga Rp4.048, jauh lebih tinggi dibandingkan awal tahun yang berada di kisaran Rp3.400 hingga Rp3.590 per MYR.

Depresiasi ini mencerminkan pelemahan rupiah lebih dari 11 hingga 15 persen terhadap mata uang Negeri Jiran.

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius pelaku ekonomi, mengingat Malaysia merupakan salah satu mitra dagang penting Indonesia di kawasan Asia Tenggara.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.