TRIBUNMANADO.CO.ID - Upus Ni Mama, renungan Wanita Kaum Ibu (W/KI) GMIM dalam sepekan mulai 22 - 28 Februari 2026.
Pembacaan alkitab terdapat pada Mazmur 130:1-8.
Tema perenungan adalah Pada Tuhan Ada Pengampunan.
Khotbah:
Ibu-ibu yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Salam jumpa untuk kita semua. Shalom.... damai di hati.
Bersyukur kepada Tuhan karena kita boleh memasuki minggu-minggu sengsara, masa dimana kita akan menghayati penderitaan Yesus Kristus yang rela mati disalibkan untuk menaggung dosa umat manusia.
Karena itu diminggu sengsara pertama ini, warga Gereja Masehi Injili di Minahasa dituntun dengan tema, "Pada
Tuhan Ada Pengampunan", berdasarkan bacaan Alkitab Mazmur 130:1-8.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengampunan berarti penebusan dari tindakan karena melakukan kesalahan,
kekeliruan atau tindakan memaafkan, memberi maaf yang bisa berupa pembebasan hukuman, pelepasan dari kesalahan.
Ibu-ibu yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Mazmur 130:1-8 ini termasuk dalam kelompok Mazmur ziarah di mana dalam tradisi Yahudi Mazmur 130 ini sering dibaca
di Bait Suci sebagai Mazmur pertobatan atau penyesalan.
Ada ratapan dan doa pertobatan dari bangsa Israel yang hidup terperosok dalam dosa akibat mengalami penderitaan, seperti berada di jurang terdalam, tetapi percaya dan berharap ada pengampunan untuk membebaskan serta memulihkan, sebab Tuhan Allah adalah Allah sumber pengampunan.
Inilah masa yang dialami oleh bangsa Israel selama dalam pembuangan akibat dosa yang mereka lakukan.
Oleh sebab itu ayat 1-2 bacaan ini pemazmur berseru kepada Tuhan dari jurang yang paling dalam, menunjuk pada kedalaman laut yang melarnbangkan kekacauan, bahaya yang mengakibatkan penderitaan.
Berseru kepada Tuhan untuk menyelamatkan sebab hanya Tuhan yang mampu menyelamatkan dan tempat berharap satu-satunya.
Ada permohonan meminta belas kasihan dari Tuhan dengan mendengar, memperhatikan doa yang mereka sampaikan.
Ayat 3-4, Umat Tuhan menyadari bahwa mereka telah berdosa, sehingga dalam pengakuan ini membuat mereka sulit untuk keluar dari dosa tanpa pertolongan Tuhan.
Dari pengakuan ini tersirat permohonan agar Tuhan berkemurahan untuk tidak mengingat kesalahan dan pelanggaran yang mereka lakukan, sebab hanya kepada-Mu ada pengampunan.
Kemudian ayat 5-6, Aku menanti-nantikan dan berharap pada firman Nya, jiwaku mengharapkan Tuhan lebih dari pengawal.
Penantian ini menunjukkan kerinduan akan pertolongan dan pembebasan dari Tuhan.
Sebab didikan dalam firman-Nya ada kekuatan, kelegaan, pemulihan dan pengampunan. Tidak ada yang dapat menjamin
kehidupan umat selain kasih dan kuasa Tuhan. Sumber perlindungan hanya dari Tuhan. Ayat 7-8, Umat Israel terus diingatkan untuk tetap berharap pada Tuhan, sebab hanya Allah yang sanggup membebaskan
umat dari dosa dan mengalami penyelamatan dan pengampunan.
Sama halnya dalam Perjanjian Baru tentang karya terbesar yang dilakukan oleh Yesus Kristus yang rela mati disalibkan untuk menebus dosa umat manusia, di mana melalui peristiwa kematian dan kebangkitan, ada pengampunan yang dijanjikan Yesus Kristus, Yohanes 3:16 "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggaI, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.
Ibu-ibu yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Berseru kepada Tuhan adalah cara terbaik untuk menyelesaikan persoalan hidup yang kita alami di dunia ini. Tetapi
kadang realita yang kita alami justru "bukang cari Tuhan, tapi cari handphone dan mulai jari-jari kita bereaksi, mengeluh, pikiran galau dan ada yang memberi komentar baik, menguatkan tapi ada yang mengejek.
Firman Tuhan saat ini mengingatkan kita seberat apapun persoalan yang kita alami, mari datang kepada Tuhan, berseru minta tolong, minta ampun apabila telah melakukan kesalahan.
Sehebat dan sekuat apapun kita karena posisi finasial baik atau karena memiliki pekerjaan yang baik sehingga hidup berkelebihan, tidak dapat menjamin ketika kita mengalami pergumulan yang berat.
Hanya Tuhan yang sanggup memulihkan keberadaan kita dan mengampuni kita dari perbuatan dosa yang kita lakukan.
Berseru, berserah, berharap sambil menantikan pertolongan Tuhan itulah yang memberi kekuatan bagi kita saat dalam penderitaan, ketidakberdayaan dan keberdosaan yang kita lakoni.
Memang kadang kita sulit untuk memberi pengampunan bagi mereka yang membuat kita menderita dan melakukan dosa.
Tetapi Tuhan terus mengingatkan kita untuk tidak membalas, tetapi bagaimana mengampuni sebab hanya pada Tuhan ada pengampunan, kelegaan, kekuatan, belas kasihan sebagaimana firman-Nya.
Di minggu sengsara pertama ini mari ibu-ibu kita siapkan diri untuk menghayati penderitaan yang dialami oleh Yesus Kristus, menderita dituduh melakukan hal yang tidak dilakukan, disiksa, ditindas, tetapi la hanya berdoa Tuhan ampuni mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.
Sanggupkah kita pikul salib, sangkal diri untuk ikut Yesus? Suatu proses yang tidak mudah untuk kita lakukan, tetapi
tetaplah berusaha mengiring Yesus dalam keadan susah dan senang, sakit sehat dan dalam keadaan apapun yang kita alami.
Jangan kita takut ketika ikut dan berharap pada Tuhan. Tetap setia dan selalu memberi ruang di hati kita untuk mengampuni orang-orang yang berlaku tidak baik bagi kita. terpujilah nama Tuhan. Amin.
Pertanyaan untuk diskusi:
1. Mengapa pemazmur berseru memohon pengampunan pada Tuhan menurut Mazmur 130:1-8?
2. Bagaimana Ibu-ibu Tuhan menjabarkan pengampunan bagi orang-orang di sekitar kita?
Sumber: Komisi W/KI Sinode GMIM edisi Februari - Maret 2026