TRIBUNJAMBI.COM, BANGKO – Puluhan kerbau dikumpulkan di tanah lapang menjelang tradisi Mantai Kerbau yang berlangsung di Desa Bukit Perentak, Kecamatan Pangkalan Jambi, Merangin, pada Ahad (15/2/2026).
Mantai Kerbau merupakan tradisi adat yang berlangsung di sejumlah komunitas masyarakat di Kabupaten Merangin, khususnya di wilayah adat seperti Kecamatan Sungai Manau dan Pangkalan Jambu.
Nama lengkap tradisi ini sering disebut “Mantai Kerbau Basamo Datuk Ba Empek Menti Nan Batigo”, yang mencerminkan nilai budaya, sejarah, dan tata hubungan sosial komunitas setempat.
Secara sederhana, tradisi ini berbentuk ritual penyembelihan kerbau dalam skala besar yang dilakukan bersama dan dimanfaatkan secara komunal.
Tradisi Mantai Kerbau lebih dari sekadar acara pemotongan hewan.
Ini merupakan warisan leluhur yang berlangsung turun-temurun.
Tradisi Mantai Kerbau tumbuh di tengah masyarakat Melayu Merangin sebagai bagian dari sistem nilai kehidupan bersama, cara masyarakat menyambut waktu penting secara adat, upaya memperkokoh hubungan keluarga dan solidaritas sosial, serta penyampaian pesan moral dalam konteks adat dan agama.
Istilah “Mantai” sendiri dalam konteks lokal dapat diartikan sebagai kegiatan penyembelihan dalam skala besar yang dilakukan secara bersama-sama dengan partisipasi masyarakat setempat.
Tahun ini, ada 75 kerbau yang disembelih dalam acara Mantai Kerbau di Pangkalan Jambi.
Tradisi Mantai Kerbau biasanya dilaksanakan pada momen tertentu menurut kalender adat setempat.
Satu di antara momennya adalah menjelang bulan suci Ramadan.
Selain itu, Mantai Kerbau juga bisa dilakukan dalam rangka syukur bersama serta menandai awal musim tertentu.
Hari ini, Ahad (15/2), Mantai Kerbau Basamo merupakan bagian dari penyambutan Ramadan 1447 H.
Pelaksanaan ritual ini biasanya melibatkan beberapa tahapan utama dimulai dari penunjukan hari dan lokasi, pengumpulan hewan ternak, hingga pembagian daging.
Pada penunjukan hari dan lokasi adat, misalnya, tokoh adat (umumnya Niniak Mamak) menetapkan tanggal dan tempat yang disepakati bersama sebagai lokasi pelaksanaan tradisi.
Selanjutnya, masyarakat secara sukarela menyumbangkan hewan ternak, khususnya kerbau, untuk dipotong bersama.
Jumlahnya bisa puluhan hingga ratusan, tergantung kesiapan warga.
Selanjutnya, masuk pada prosesi tradisi adat. Pemotongan kerbau dilakukan secara bersama-sama dalam suasana sakral dan penuh makna, bukan sebagai sekadar pesta.
Terakhir, satu di antara yang paling ditunggu masyarakat adalah pembagian daging secara menyeluruh.
Daging kerbau dibagikan kepada seluruh warga berdasarkan ketentuan adat yang berlaku.
Umumnya dibagi kepada Niniak Mamak (tokoh adat), pemilik ternak, masyarakat umum, hingga termasuk bagian untuk sahur bersama pada awal Ramadan.
Proses pembagian biasanya diikuti dengan makan bersama, doa, dan sambutan tokoh adat atau pemerintah setempat.
Tradisi Mantai Kerbau ini sarat makna simbolis yang mencakup, solidaritas sosial, persatuan, hingga kesetaraan.
Kegiatan kolektif ini menegaskan nilai gotong-royong, kerja sama, dan kepedulian sosial di antara warga.
Bak kata pepatah: “Bulat Air Di Pembuluh, Bulat Kata Di Mufakat” — artinya kekompakan dan kesepakatan bersama adalah kunci keberhasilan hidup bermasyarakat.
Selain itu, prinsip pembagian daging yang adil menjadi simbol bahwa semua warga merasakan manfaat secara setara, tercermin dalam prinsip adat seperti:
“Daging gajah sama dilapah, daging tunggal sama dicacah.” — Artinya, siapa pun akan memperoleh bagian yang sama, baik secara simbolis maupun praktis.
Dalam tradisi menjelang Ramadan, ritual ini dipandang sebagai bentuk syukur kepada Tuhan dan persiapan batin dalam memasuki bulan suci.
Walaupun merupakan tradisi lama, Mantai Kerbau tetap hidup di era modern.
Tradisi ini merupakan salah satu contoh kaya raya dari warisan budaya Nusantara yang masih dirawat oleh masyarakat setempat.
Dihadiri Bupati dan Wakil Bupati
Bupati Merangin M Syukur secara resmi membuka pelaksanaan tradisi adat Mantai Megang Adat, yakni Mantai Kerbau Basamo Datuk Ba Empek Menti Nan Batigo yang digelar di Desa Bukit Perentak, Kecamatan Pangkalan Jambu, Kabupaten Merangin, Minggu (15/2/2026).
Tradisi Mantai Megang Adat atau Mantai Kerbau Basamo Datuk Ba Empek Menti Nan Batigo berlangsung dalam suasana kental kekeluargaan dan menjadi simbol kesiapan masyarakat dalam menyambut datangnya Bulan Suci Ramadan 1447 Hijriah.
Kegiatan adat tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Merangin Abdul Khafidh, Sekda Merangin Zulhifni, unsur Forkopimda yang meliputi Kapolsek dan Danramil setempat, para kepala OPD Pemkab Merangin, Direktur PDAM, camat dan para kepala desa se-Kecamatan Pangkalan Jambu, tokoh adat, pemuka agama, tokoh masyarakat, serta tamu undangan lainnya.
Sebanyak 75 ekor kerbau yang berasal dari sejumlah desa di Kecamatan Pangkalan Jambu disembelih secara serentak.
Dagingnya kemudian dibagikan untuk dinikmati bersama sekaligus menjadi persediaan lauk pada sahur pertama di bulan Ramadan.
Dalam sambutannya, Bupati Merangin M Syukur menegaskan bahwa tradisi Mantai Kerbau Besamo bukan sekadar pesta rakyat, melainkan peninggalan leluhur yang sarat dengan makna persatuan.
"Adat Mantai ini adalah pusaka leluhur, melalui tradisi adat leluhur inilah kita diajarkan hidup rukun dan sepakat, sebagaimana pepatah 'Bulat Air Di Pembuluh, Bulat Kata Di Mufakat', ini adalah lambang kekompakan dari masyarakat kita di Kabupaten Merangin," ungkap M Syukur.
Ia juga mengingatkan seluruh masyarakat Kabupaten Merangin tentang pentingnya makna filosofi Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah dalam kehidupan bermasyarakat.
Bupati berharap berbagai tradisi yang ada di Kabupaten Merangin terus dijaga agar tidak lapuk oleh hujan dan tidak lekang oleh panas, serta dijadikan sebagai dasar dalam pembangunan daerah demi menjaga marwah Negeri Bumi Tali Undang Tambang Teliti.
Selain memiliki nilai budaya, M Syukur juga memberikan apresiasi kepada pemerintah desa dan para tokoh adat atas terselenggaranya rangkaian kegiatan tradisi tersebut dengan lancar dan sukses.
Pada kesempatan itu, Bupati Merangin turut menyerahkan satu ekor kerbau kepada masyarakat Desa Bukit Perentak.
"Ini adalah bentuk rasa syukur kita kepada Allah atas rejeki yang luar biasa, saya berharap semangat kebersamaan ini tidak hanya saat memotong kerbau saja, tapi terus dijaga selama kita menjalankan ibadah puasa Ramadan 1447 H," tutup M Syukur.
(Tribunjambi.com/Frengky Widarta, Mareza Sutan AJ)
Baca juga: Mengenal Tradisi Bantaian Adat di Merangin dalam Menyambut Bulan Suci Ramadan
Baca juga: Ramai Peziarah Bersihkan Makam hingga Tabur Bunga jelang Ramadan di Jambi
Baca juga: Tabel Angsuran KUR BSI untuk Pinjaman hingga Rp500 Juta dengan Tenor 1-4 Tahun