Bola Kini di Tangan Iran, Suplai Minyak Dunia Bisa Kacau Jika Teheran Balas Senjata Minyak AS-Israel
Hasiolan Eko P Gultom February 15, 2026 10:16 PM

Bola Kini di Tangan Iran, Suplai Minyak Dunia Bisa Kacau Jika Teheran Balas "Senjata Minyak" AS-Israel

 

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam pertemuan mereka di Gedung Putih Rabu lalu, bersepakat untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran, khususnya terkait ekspor minyaknya ke China.

Asumsi dari manuver ini adalah, jika Beijing mengurangi pembelian minyak dari Iran, hal itu dapat menggandakan tekanan ekonomi pada Teheran, memengaruhi perhitungan ekonominya, dan mendorongnya untuk membuat konsesi terkait program nuklirnya.

Baca juga: Kesepakatan Trump-Netanyahu Soal Iran Senggol Jatah Minyak China, Siap-siap Perang Dunia Ketiga

Namun, ada konsekuensi dari manuver itu sendiri, terlepas dari aksi balasan dari Iran, kalau suplai China terganggu, maka negara itu juga akan bereaksi menentang aksi AS-Israel ini dengan berbagai tindakan di lapangan.

Para pejabat AS mengindikasikan kalau "tekanan maksimum" ke Iran akan bertepatan dengan negosiasi nuklir yang sedang berlangsung.

Tekanan ini bersamaan dengan peningkatan kekuatan militer AS di Timur Tengah, sebagai antisipasi kemungkinan serangan jika diplomasi gagal. 

Seorang pejabat senior AS mengatakan kepada situs web tersebut kalau kedua belah pihak , baik Trump maupun Netanyahu, sepakat untuk terus menekan Iran, termasuk menargetkan penjualan minyaknya ke China.

Perintah eksekutif yang ditandatangani oleh Trump 10 hari yang lalu memungkinkan peningkatan tekanan ekonomi, karena memberikan wewenang kepada Menteri Luar Negeri AS dan Menteri Perdagangan AS untuk merekomendasikan pengenaan tarif hingga 25 persen pada negara mana pun yang berbisnis dengan Iran. 

"Pengenaan tarif terhadap China karena membeli minyak Iran dapat semakin memperumit hubungan yang sudah tegang antara Washington dan Beijing, terutama karena Amerika Serikat berupaya mempertahankan aliran mineral langka yang penting dan melindungi pertemuan puncak yang dijadwalkan pada April mendatang di Beijing," tulis ulasan Axios, dikutip dari Khaberni, Minggu (15/2/2026).

Aksi Balasan Iran, Suplai Minyak Dunia Bisa Kacau

Iran adalah produsen minyak utama. Aksi balasan Iran jelas akan mengganggu suplai minyak yang berimbas pada harga minyak dunia itu sendiri.

Saat minyaknya tidak laku karena sanksi, Iran diyakini akan melakukan manuver agar suplai minyak dari negara lain juga tidak sampai ke pasar.

"Pasar khawatir tentang potensi gejolak regional jika Teheran bertindak untuk mengganggu aliran minyak dari negara lain," kata ulasan tersebut.

IRAN SERANG ISRAEL - Kondisi Haifa Israel usai diserang rudal Iran, Minggu (15/6/2025). Perang antara Israel dan Iran terus berlanjut hingga Senin (16/6/2025) Angkatan Bersenjata Iran menggunakan senjata baru untuk membombardir Israel. (Tangkap layar akun X @MayadeenEnglish)
IRAN SERANG ISRAEL - Kondisi Haifa Israel usai diserang rudal Iran, Minggu (15/6/2025). Perang antara Israel dan Iran terus berlanjut hingga Senin (16/6/2025) Angkatan Bersenjata Iran menggunakan senjata baru untuk membombardir Israel. (Tangkap layar akun X @MayadeenEnglish) ((Tangkap layar akun X @MayadeenEnglish))

Iran Tak Boleh Punya Senjata Nuklir

Para pejabat AS, mengindikasikan kalau dalam pertemuan mereka, baik Trump dan Netanyahu sepakat tentang tujuan akhir, yaitu Iran tak boleh berkemampuan untuk memiliki senjata nuklir.

"Namun, mereka tidak sepakat tentang cara untuk mencapainya," kata laporan.

Netanyahu meyakinkan Trump bahwa mencapai kesepakatan yang baik dengan Iran adalah hal yang mustahil.

Netanyhu juga meyakini kalau Teheran tidak akan mematuhinya bahkan jika kesepakatan itu ditandatangani.

Adapun Trump melihat bahwa ada peluang untuk mencapai kesepakatan, dengan mengatakan: "Kita lihat saja apakah itu mungkin, mari kita coba."

Dalam beberapa hari terakhir, Trump telah menanyakan kepada penasihatnya, Steve Wittkopf dan Jared Kushner, tentang kemungkinan tercapainya kesepakatan. 

Seorang pejabat AS mengatakan bahwa mereka telah memberi tahu presiden kalau pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa sulit, jika bukan tidak mungkin, untuk mencapai kesepakatan yang baik dengan Iran.

Namun, mereka juga mencatat kalau pihak Iran sejauh ini menunjukkan tanda-tanda positif dalam negosiasi.

Bola Kini di Tangan Iran

Wittkopf serta Kushner dijadwalkan bertemu dengan delegasi Iran di Jenewa Selasa depan untuk putaran kedua pembicaraan. 

Wittkopf telah menyampaikan pesan kepada Iran melalui menteri luar negeri Oman awal pekan ini, dan Washington sedang menunggu tanggapan Teheran selama pertemuan di Jenewa.

Seorang pejabat AS menegaskan bahwa negaranya berurusan secara realistis dengan Iran, dengan mengatakan: 

"Bola ada di tangan mereka, dan jika kesepakatan itu tidak tulus, kami tidak akan menerimanya."

Sebaliknya, pejabat AS lainnya menyatakan bahwa ia percaya kemungkinan Iran menyetujui proposal AS, atau sebaliknya, adalah "nol."

Sementara itu, jurnalis Iran Ali Gholhaki menyatakan kalau pesan-pesan Amerika tersebut mencakup usulan agar Iran menangguhkan pengayaan uranium selama 3 hingga 5 tahun, dengan pemindahan 450 kilogram uranium yang sangat diperkaya keluar dari negara itu, yang menurutnya ditolak oleh Teheran.

Namun, seorang pejabat Amerika membantah telah mengajukan usulan tersebut.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.