PERDOSRI Dorong Rehabilitasi Humanis: Layanan Kesehatan Presisi Demi Pasien Lebih Mandiri Indonesia
Dodi Hasanuddin February 15, 2026 10:35 PM

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Indonesia (PERDOSRI) menegaskan komitmennya mendorong transformasi layanan kesehatan nasional menuju pendekatan berbasis fungsi dan presisi.

Komitmen ini disampaikan Ketua Umum, Dr. dr. Rumaisah Hasan, usai pelantikan pengurus pusat masa bakti 2025–2028 yang dilanjutkan rapat kerja di Jakarta, Sabtu (14/2/2026).

Menurut Dr Rumaisah, layanan kesehatan tidak cukup hanya berfokus pada penyembuhan medis. Rehabilitasi dinilai berhasil jika pasien mampu kembali beraktivitas, produktif secara sosial, serta memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

“Keberhasilan rehabilitasi tidak cukup diukur dari kondisi klinis, tetapi juga dari kemampuan pasien kembali beraktivitas dan berdaya secara ekonomi maupun sosial,” kata Dr Rumaisah.

Baca juga: Perdosri: Hentikan Kekerasan pada Nakes, Lindungi Mereka yang Menjaga Nyawa Bangsa

Ia menekankan pentingnya paradigma precision medicine atau layanan kesehatan presisi, yakni pendekatan kolaboratif lintas disiplin yang menempatkan pasien secara holistik.

Tanpa kerja sama yang solid antarprofesi dan pemangku kepentingan, layanan presisi sulit diwujudkan.

“Kalau kita masih terfragmentasi dan hanya memikirkan perbedaan, maka presisi medicine tidak akan tercapai,” tuturnya.

Selain perubahan pola pikir, lanjutnya, penguatan riset dan data berbasis bukti juga dinilai krusial. Hal ini diperlukan agar pemerintah dapat merumuskan kebijakan kesehatan yang tepat sasaran, efektif, dan berkelanjutan.

Dalam menghadapi tantangan pembiayaan kesehatan global, PERDOSRI menilai penentuan prioritas bersama menjadi kunci. Dana kesehatan yang terbatas dapat dioptimalkan bila fokus pada kebutuhan paling mendesak masyarakat.

Baca juga: Ketika Dokter Turun ke Lumpur: PERDOSRI Galang Donasi untuk Pulihkan Warga Terdampak Bencana

Organisasi ini juga terus meningkatkan kualitas anggotanya melalui pendidikan berkelanjutan, kolaborasi internasional, serta program fellowship di berbagai pusat pendidikan dunia.

Saat ini jumlah anggota sekitar 1.300 dokter spesialis rehabilitasi medis, meski angka tersebut masih belum mencukupi kebutuhan nasional.

Untuk menjawab keterbatasan tenaga, PERDOSRI mengembangkan pelatihan bagi dokter umum serta program rehabilitasi berbasis komunitas.

Mereka juga melatih guru yang menangani anak berkebutuhan khusus agar pendidikan inklusif semakin kuat.

“Kami berharap anggota memiliki standar pengetahuan yang sejajar. Untuk itu, kami siapkan program pendidikan dan kolaborasi internasional agar kualitas layanan terus meningkat,” ujarnya.

Dr Rumaisah menyatakan bahwa dalam menjalankan programnya, PERDOSRI menjalin kemitraan dengan berbagai lembaga pemerintah, seperti Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Kementerian Ketenagakerjaan, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, serta Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. 

Baca juga: 77.000 Peserta BPJS PBI di Bekasi Dinonaktifkan, BPJS Kesehatan Sosialisasi Validasi Data

Kerja sama ini mencakup pemetaan ketenagakerjaan penyandang disabilitas, penguatan medical tourism, hingga dukungan perencanaan pembangunan berbasis kesehatan holistik.

Pendekatan rehabilitasi yang diusung PERDOSRI tidak hanya menyoroti aspek medis, tetapi juga psikologis, sosial, ekonomi, budaya, hingga spiritual.

Filosofinya adalah membantu pasien menjembatani kondisi sehat dan keterbatasan agar tetap mampu hidup bermartabat.

Sebagai kabar menggembirakan, Indonesia juga resmi ditunjuk menjadi tuan rumah kongres internasional rehabilitasi medis pada 2027.

Momentum ini diharapkan memperkuat citra kesehatan Indonesia di dunia sekaligus membuka peluang kolaborasi global yang lebih luas.
 
 
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.