TRIBUNNEWS.COM, SUMBA BARAT DAYA – Di sebuah sudut dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ramadana, di Kecamatan Loura, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, jemari Frederick Norewa bergerak lincah.
Dengan sebilah pisau, ia memotong ayam, mengiris wortel, hingga merajang buncis dan tempe dengan presisi yang tenang.
Di ruangan yang harum oleh aroma bumbu itu, Frederick tampak seperti pria paruh baya biasa yang sedang menjalankan tugas rutinnya.
Namun, setiap ayunan pisau Frederick hari ini membawa makna yang jauh berbeda dibanding puluhan tahun silam.
Jika dulu senjata tajam membawanya ke balik jeruji besi, kini benda yang sama menjadi alatnya untuk menyambung hidup dan menebus masa lalu.
Lelaki asal Desa Letekonda ini masih ingat betul titik nadir dalam hidupnya.
Tahun 1991, sebuah sengketa batas tanah dengan sepupu jauhnya berubah menjadi tragedi. Bukan karena urusan perut, melainkan soal harga diri atas sejengkal tanah.
"Kami sempat bersilat lidah, baku ancam," kenang Frederick dengan nada datar, seolah sedang membaca lembaran buku lama yang sudah berdebu.
Situasi memanas ketika ia harus berhadapan dengan empat orang sekaligus. Dalam kondisi terdesak dan dilingkupi rasa takut, sebuah ayunan langkah dan satu sabetan tangan membuat lawannya kehilangan anggota tubuh.
Vonis delapan tahun penjara dijatuhkan. Frederick akhirnya menjalani masa hukuman empat tahun enam bulan setelah mendapat remisi.
Meski dendam lama telah dibasuh lewat prosesi adat—dengan penyerahan satu ekor kuda dan satu ekor kerbau sebagai simbol perdamaian—label "mantan narapidana" tidak serta-merta luntur saat ia menghirup udara bebas.
Keluar dari penjara, Frederick kembali ke tanah kelahirannya dengan langkah berat. Hidup menjadi perjuangan melawan ketidakpastian. Ia mengandalkan hasil kebun yang seringkali dikhianati oleh cuaca.
"Setahun paling dapat 7 sampai 8 juta rupiah, itu pun kalau panennya bagus. Alam yang berkuasa," tuturnya.
Jika keberuntungan sedang berpihak, ia akan dipanggil menjadi tukang pasang batu di proyek bangunan dengan upah 60 hingga 80 ribu rupiah sehari. Namun, panggilan itu jarang datang.
Di tengah kesulitan ekonomi dan stigma sosial yang masih membekas, Frederick hanya bisa bertahan. "Secara pribadi memang sulit. Tapi apapun dan bagaimanapun, saya jalani," ucapnya tegar.
Baca juga: Menguji Tiga Konsep dan Strategi Presiden Prabowo untuk Pemberantasan Kemiskinan: SR, KMP, dan MBG
Titik balik itu datang dalam rupa sebuah bangunan baru yang berdiri megah di dekat tempat tinggalnya: dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dengan sisa keberanian yang ada, Frederick melangkah masuk dan menawarkan tenaga.
Siapa sangka, pintu yang biasanya tertutup bagi orang dengan masa lalu seperti dirinya, justru terbuka lebar.
"Sekalipun saya mantan narapidana, saya bersyukur masih diterima bekerja di sini," katanya dengan binar mata yang berbeda.
Di dapur ini, Frederick menemukan sesuatu yang selama ini absen dari hidupnya: kepastian.
Tak ada lagi kekhawatiran soal hujan yang gagal turun atau proyek yang tak kunjung datang.
Ada insentif bulanan yang menanti, sesuatu yang ia syukuri dengan senyum kecil yang tulus.
Kini, tugas Frederick memang "hanya" menyiapkan bahan makanan.
Namun, baginya, setiap porsi makanan yang tersaji untuk anak sekolah, ibu hamil, dan balita adalah bentuk kontribusinya bagi masa depan Sumba yang lebih baik.
Ia tahu betul perihnya melihat anak-anak desa berangkat sekolah dengan perut kosong, bahkan hingga pingsan saat upacara.
Lewat sentuhan program MBG, ia merasa ikut berperan memastikan generasi penerusnya tidak lagi merasakan lemahnya fisik akibat lapar.
"Di sini, saya merasa orang tua juga sangat senang," ujarnya. Di antara uap panas masakan dan denting alat dapur, Frederick seolah sedang memotong-motong masa lalunya yang kelam menjadi serpihan kecil, lalu menggantinya dengan harapan yang lebih bergizi.
Di akhir percakapan, Frederick menitipkan sebuah harapan sederhana kepada Presiden Prabowo Subianto agar program ini terus berlanjut, siapapun pemimpinnya kelak.
Baginya, dapur MBG bukan sekadar tempat mengolah makanan, melainkan panggung kesempatan kedua untuk menata kembali harga diri yang sempat hilang.