Netty Budiman Raih Omzet Puluhan Juta dari Deandra Batik, Harga Tergantung Kerumitan
Robertus Didik Budiawan Cahyono February 16, 2026 12:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Di balik lembaran kain batik tulis yang indah, tersimpan proses panjang, ketelitian tinggi, dan sentuhan tangan-tangan terampil. 

Hal inilah yang selalu ditekankan oleh Netty Budiman, owner Deandra Batik, dalam menentukan harga setiap karyanya.

Menurut Netty, harga batik tulis bukan sekadar angka, melainkan bentuk penghargaan terhadap proses dan jerih payah para perajin.

“Batik tulis itu kita hargai karena kita menghargai hasil kerja kita sendiri. Setiap kain punya tingkat kesulitan dan kerapihan yang berbeda,” ujarnya Sabtu (14/2/2026).

Di Deandra Batik, harga dibanderol mulai dari Rp 300.000 hingga mencapai Rp 2 juta sampai Rp.3 jutaan, tergantung tingkat kerumitan motif dan detail pengerjaannya. 

Baca juga: Ada Kebijakan Kamis Beradat, Setiap Hari Kamis ASN Wajib Pakai Batik Lampung

Semakin unik dan sulit proses produksinya, semakin tinggi pula nilai jualnya, sebab untuk motifnya sangat ekslusif.

Untuk harga Rp.300.000, pembeli sudah mendapatkan satu bahan batik tulis berukuran 2,25 meter dengan lebar 1,15 meter. 

Harga tersebut merupakan kategori paling terjangkau untuk batik tulis di Deandra.

Menariknya, satu bahan batik tulis sebenarnya bisa diselesaikan dalam waktu dua hari dan sudah siap jual. 

Namun karena Deandra Batik memiliki 50 orang tim produksi, dalam sehari mereka mampu menghasilkan 10 hingga 20 lembar kain.

Dalam sebulan, Deandra Batik bisa menjual sekitar 200 hingga 400 kain, dengan omzet mencapai Rp 60 juta hingga Rp 75 juta per bulan.

Tak hanya fokus pada bisnis, Netty juga konsisten memberdayakan masyarakat sekitar, mulai dari ibu rumah tangga hingga anak-anak putus sekolah.

Awalnya, tidak mudah mengajak mereka beralih profesi menjadi pembatik. Banyak yang ragu karena sudah terbiasa bekerja sebagai pencuci dan penyetrika dengan penghasilan yang bisa dihitung pasti setiap hari.

“Mereka sempat menghitung-hitung, berapa sih hasilnya kalau membatik? Tapi Alhamdulillah ternyata di sini lebih menjanjikan,” kata Netty.

Semua pekerja diajarkan dari nol hingga mahir. Setelah benar-benar bisa dan rapi dalam membatik, barulah mereka resmi diberdayakan sebagai bagian dari tim produksi.

Untuk pembelian, Deandra Batik hanya memiliki satu gerai yang juga menjadi tempat produksi, berlokasi di Kemiling, Bandar Lampung. 

Konsep ini justru menjadi daya tarik tersendiri karena pelanggan bisa langsung melihat proses pembuatan batik sekaligus berbelanja.

Selain datang langsung ke gerai, pembelian juga bisa dilakukan melalui WhatsApp, Instagram, dan TikTok. 

Namun, mayoritas pelanggan merupakan konsumen lama yang kembali berbelanja dan membawa relasi mereka.

Deandra Batik juga melayani by request. Pelanggan dapat mengajukan motif khusus, selama desain tersebut memungkinkan untuk dibatik.

Namun, tidak semua desain bisa diwujudkan. Tantangan terbesar dalam membatik, menurut Netty, adalah menaklukkan desain yang sangat rumit dan sulit dicanting.

“Kita harus pakai canting yang paling kecil supaya hasilnya tetap halus dan tembus. Di Lampung sendiri cukup sulit mendapatkan canting yang sehalus di Jawa,” jelasnya.

Karakter batik Lampung yang cenderung tegas juga memengaruhi hasil goresan canting.

Jika kebanyakan orang memilih batik berdasarkan motif, pelanggan Deandra Batik justru lebih dulu jatuh hati pada warnanya. 

Netty mengungkapkan, Deandra dikenal berani “mengoplos” warna hingga menghasilkan gradasi yang unik dan sulit ditebak.

“Kadang orang sampai bingung itu warna apa sebenarnya,” katanya sambil tersenyum.

Untuk tren saat ini, warna biru menjadi salah satu yang paling diminati. 

Namun pada dasarnya, hampir semua warna dan motif menjadi best seller karena setiap motif kain hanya diproduksi satu.

(Tribunlampung.co.id/ Bintang Puji Anggraini)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.