TRIBUNNEWS.COM - Four Point by Sheraton Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (15/2/2026) dipenuhi gemuruh tepuk tangan dari ribuan peserta Sidang Dewan Pleno (SDP) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) 2026 di Makassar.
Sekitar 3.000 pengurus HIPMI dari seluruh Indonesia memadati forum nasional bertema "HIPMI Penggerak Ekonomi untuk Indonesia Berdaulat".
Turut hadir juga, Bahlil Lahadalia Ketua Umum DPP Partai Golkar.
Tak hanya berbicara sebagai Ketua Umum atau Ketua Dewan Penghormatan HIPMI, saat naik ke mimbar, ia membuka kembali cerita lama tentang persaingan dan momentum yang mengubah jalan hidupnya di organisasi pengusaha muda ini.
Bahlil menceritakan, ada dua sosok yang punya peran penting dalam perjalanan hidupnya di HIPMI.
Keduanya yakni Erwin Aksa dan Andi Rukman Nurdin Karumpa.
Erwin Aksa merupakan anggota DPR RI kelahiran Makassar yang juga mantan Ketua Umum HIPMI.
Sementara Andi Rukman adalah Ketua Umum Gapensi (Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia).
Di hadapan ribuan anggota, Bahlil mengawali kisahnya tentang pencalonannya sebagai Ketum HIPMI periode 2015-2018 lalu.
Ia menyebut, dorongan mencalonkan dirinya tak lepas dari percakapannya dengan Andi Rukman dan sebuah komentar yang membakar semangatnya.
"Saya waktu maju Ketua Umum HIPMI, tanya Bang Andi Rukman,"
Baca juga: HIPMI Minta Penguatan Prinsip Check and Balance KPPU dalam Revisi UU Persaingan Usaha
"Ada satu mantan Ketum HIPMI yang bilang calon Ketua Umum harus industrialis dan ganteng, sementara saya jelek,"
"Dari situ saya termotivasi, saya bilang tunggu, saya akan hadapi kau," ujar Bahlil.
Ejekan tersebut tak membuatnya mundur, Bahlil justru menjadikannya sebagai pelecut.
"(Waktu itu) saya bilang, biar kau bilang saya hitam, kecil, tidak ganteng. Tetapi nyali belum tentu kau hebat dari pada saya," kenang Bahlil.
Saat Musyawarah Nasional HIPMI di Bandung, persaingan makin memuncak.
Forum tersebut berjalan sengit dan sempat deadlock ketika ia bersaing dengan dua kandidat lainnya, Bayu Priawan Djokosoetono dan Bagus Hermanto.
Deadlock adalah sebutan lain dari kebuntuan, saat kondisi dalam sebuah rapat atau diskusi tidak mencapai kesepakatan, keputusan, atau kemajuan karena adanya perbedaan pendapat yang kuat, konflik kepentingan, dan kurangnya kompromi antar peserta.
Kondisi ini biasanya ditandai dengan adanya perdebatan yang berputar tanpa adanya solusi yang keluar.
Saat kondisi tersebut terjadi, Erwin Aksa disebut bahlil memiliki peranan penting.
"Waktu itu, (Erwin) menguasai jaringan kepolisian, sehingga suara sempat berpindah ke pihak lain,"
"Saya pun berkata, 'bagaimana Kanda Erwin? Saya kan mendukung kakak saat itu'," jelas Bahlil.
Sempat menegang, suasana kembali melunak saat Bahlil menyinggung kehadiran anggota DPR RI, Kamrussamad.
Ia menyebut Samad saat itu memilih mendukung kandidat lain, yakni Bayu Priawan.
"Bang Samad pilih Bayu. Bang Samad, lo jujur bang, jujur bang. Sementara Bang Samad dan Bang Erwin ini tidak bisa dipisahkan," ujar Bahlil di hadapan Kamrussamad.
Situasi Munas di Bandung kala itu sempat memanas dan membuatnya turun langsung untuk melobi dan menenangkan keadaan.
Baca juga: Presiden Prabowo Umumkan Indonesia Swasembada Pangan, Begini Kata HIPMI
Ia menyebut sempat bertemu Erwin Aksa di sebuah restoran.
"Saya bilang, sudahlah Kanda, daripada hotel terbakar, nanti nama HIPMI jelek," ungkap Bahlil.
Munas pun berlanjut ke putaran kedua setelah sempat deadlock.
Pada putaran kedua tersebut, Bahlil akhirnya terpilih sebagai Ketum BPP HIPMI periode 2015-2018.
Cerita Bahlil tersebut bukan sekadar nostalgia, tapi juga pengingat bahwa di dalam situasi yang memanas di dalam organisasi pun ada solusi yang bisa diambil.
Di dalam kesempatan yang sama, Ketum BPP HIPMI, Akbar Himawan Buchari mengusulkan skema kredit khusus bagi pelaku usaha kelas menengah.
Hal tersebut diusulkan untuk menahan laju penurunan kelas menengah di Indonesia.
Kelas menengah di Indonesia menurutnya saat ini tengah mengalami penurunan.
Sehingga, perlu adanya kebijakan dari pemerintah agar tidak terus mengalami penurunan.
“Kita tahu bersama bahwa realitanya kelas menengah kita mengalami penurunan atau degradasi. Perlu insentif ataupun bentuk afirmasi dari pemerintah agar kelas menengah kita ini bisa bertahan dan kembali tumbuh,” ujar Akbar di mimbar sambutan, Minggu (15/2/2026).
Mengutip Tribun-Timur.com, di negara-negara maju, porsi kelas menengah bisa mencapai 55-60 persen dari total populasi.
Sementara di Indonesia saat ini turun sekitar 21 persen menjadi 17 persen.
“Kondisi ini menjadi perhatian kita bersama. Seharusnya ada bentuk kehadiran pemerintah agar kelas menengah kita minimal bisa bertahan dan tidak terus mengalami degradasi,” katanya.
Ia pun mengusulkan ke pemerintah supaya menyediakan skema pembiayaan bagi usaha kelas menengah dengan nilai yang besar, bukan ratusan juta, melainkan Rp20 hingga Rp50 miliar.
"Kami mengusulkan agar ada kredit untuk usaha kelas menengah yang kapasitasnya jangan hanya 100-500 juta, tapi 20-50 miliar," ucapnya.
(Tribunnews.com, Muhammad Renald Shiftanto)(Tribun-Timur.com, Erlan Saputra/Makmur)