Kisah Pilu Bocah 4,5 Tahun di OKU Timur Melawan Pengapuran Tulang, Terganjal Biaya dan Jarak Rumah
Sinta Darmastri February 16, 2026 12:51 PM

 

TRIBUNTRENDS.COM - Keceriaan masa kecil Muhammad Restu (4,5) mendadak sirna. 

Bocah asal Desa Kotabaru, Kecamatan Martapura, Kabupaten OKU Timur ini kini harus menghabiskan hari-harinya dengan terbaring lemah. 

Di usianya yang masih sangat belia, Restu didiagnosis menderita pengapuran tulang kaki yang membuatnya kehilangan kemampuan untuk melangkah.

Penderitaan Restu bukan sekadar rasa sakit fisik, namun juga beban berat bagi keluarganya yang hidup dalam keterbatasan ekonomi. 

Harapan untuk melihat sang putra kembali berlari kini terbentur pada dinding biaya operasional pengobatan yang tidak sedikit.

Baca juga: Profil Adi Nugraha Purna Yudha Wakil Bupati Terpilih OKU Timur 2024, Eks Ketua KONI, Ikut Jejak Ayah

Berawal dari Kecelakaan Kecil di Rumah

Tragedi ini bermula dari kejadian yang tampak sepele pada akhir September 2025. 

Saat itu, Restu sedang asyik berlari mengejar ayahnya di dalam rumah, namun ia terjatuh. 

Sang ibu, Wayan Rindi, mengenang bagaimana kondisi anaknya perlahan memburuk setelah insiden tersebut.

“Awalnya jatuh saat lari. Sudah kami obati ke medis dan alternatif dengan dana seadanya. Sempat bisa jalan normal lagi. Tapi pada November, tiba-tiba anak saya tidak bisa jalan sama sekali,” ujar Wayan saat ditemui awak media, Senin (16/2/2026).

Kondisi Restu kian memprihatinkan. Selain kaki yang tak lagi bisa menumpu beban, ia juga mengalami pembengkakan pada gusi. 

Hal ini membuatnya sulit untuk makan, hingga kondisi fisiknya terus merosot dan melemah.

Baca juga: Profil Lanosin Bupati Terpilih OKU Timur 2024, Adik Herman Deru, Jabat 2 Periode, Prestasi Banyak

Terganjal Biaya Operasional ke Palembang

Upaya medis telah dilakukan dengan membawa Restu ke RSUD Martapura pada 12 Februari 2026. 

Hasil diagnosis awal dokter menunjukkan adanya pengapuran tulang kaki yang cukup serius. 

Restu pun harus segera dirujuk ke RSUD Mohammad Hoesin di Palembang untuk mendapatkan penanganan dari dokter spesialis.

Meski biaya pengobatan medis telah dijamin oleh BPJS Kesehatan, keluarga Restu tetap dirundung kegelisahan. 

Jarak yang jauh dan masa perawatan yang lama menuntut biaya hidup serta operasional yang tak sanggup mereka penuhi.

“Ayahnya buruh harian lepas, penghasilannya tidak menentu. Kami bingung biaya makan dan tempat tinggal selama di Palembang,” tutur Wayan dengan nada getir.

Beruntung, solidaritas kemanusiaan mulai berdatangan. 

Komunitas motor PUARE NMAX dan sejumlah dermawan telah menyalurkan bantuan awal untuk biaya perjalanan. 

“InsyaAllah besok kami berangkat,” tambahnya.

Baca juga: Real Count Pilkada OKU Timur 2024, Enos-Yudha Unggul Raih 243.590 Suara, Kalahkan Fery Antoni-Herly

Upaya Pendataan dan Harapan Sembuh

Mendengar kabar ini, Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) Kecamatan Martapura langsung terjun ke lokasi untuk memverifikasi data. 

Berdasarkan pengecekan, keluarga ini berada pada kategori desil 4. 

Namun, status kepesertaan BPJS Mandiri membuat mereka secara sistem belum terdata sebagai keluarga prasejahtera yang berhak menerima bansos penuh.

Pihak pendamping PKH berkomitmen untuk memperbarui data melalui aplikasi SIKS-NG agar Restu dan keluarga bisa mengakses bantuan sosial seperti PKH dan BPNT dari Kementerian Sosial. 

Laporan resmi juga tengah diteruskan ke Dinas Sosial dan BAZNAS OKU Timur guna mencari jalan keluar bagi bantuan lanjutan.

Bagi Wayan Rindi dan suaminya, tidak ada keinginan muluk selain melihat senyum Restu kembali merekah di antara teman-teman sebayanya.

“Kami hanya ingin anak kami sembuh dan bisa bermain lagi,” ucap Wayan lirih, menutup pembicaraan dengan penuh harap.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.