Cerita Rahayu Suriani, Perempuan Asal Bima yang Pelopori Batik Khas Nunukan Sejak Tahun 2017
Junisah February 16, 2026 01:14 PM

TRIBUNKALTARA.COM, NUNUKAN – Di sebuah rumah di Jalan Hasanuddin RT 09, Kelurahan Nunukan Utara, Kecamatan Nunukan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara) tepat di samping Masjid Baitul Taqwa, lembar demi lembar kain batik lahir dari tangan terampil Rahayu Suriani. 

Perempuan asal Kota Bima, Nusa Tenggara Barat ini menjadi perintis batik khas Nunukan dari Kaltara yang kini mulai dikenal hingga luar daerah.

Rahayu Suriani sudah menetap di Kabupaten Nunukan sejak tahun 1979. Namun kiprahnya sebagai pengrajin batik baru dimulai pada tahun 2017. 

Ia belajar secara autodidak, berangkat dari kegelisahannya melihat masyarakat Nunukan yang selalu memesan batik dari Pulau Jawa.

Baca juga: Tahun 2026 Disdik Malinau Pengadaan 18, 9 Ribu Batik Bagi Siswa, Berdayakan Penjahit Lokal  ​

“Karena saya melihat di daerah Kabupaten Nunukan ini kebanyakan orang memesan di luar di Pulau Jawa. Saya berpikir kenapa sih tidak diproduksi sendiri di sini,” ujarnya kepada TribunKaltara.com, Senin (16/2/2026).

Awalnya, Rahayu Suriani membuat batik celup. Ia bereksperimen dengan teknik ikat celup menggunakan benda-benda sederhana seperti batu dan kelereng.

“Misalnya motifnya dari kelereng atau batu, diikat kemudian dicelup, nanti akan membentuk motif bendanya,” jelasnya.

Saat itu, batik khas Nunukan memang belum ada. Tahun 2017 menjadi tonggak awal lahirnya batik lokal di wilayah perbatasan tersebut. Rahayu Suriani ingin Kabupaten  Nunukan memiliki identitas sendiri lewat kain tradisional.

Ia berharap batik Nunukan mampu bersaing dengan batik dari daerah lain, terutama Jawa.

Baca juga: Sesingal, Topi Adat Tidung Dipadukan Motif Batik Lulantatibu, Jadi Ciri Khas Nunukan Kaltara

“Harapan kita batik di Kabupaten Nunukan juga dapat bersaing dengan batik-batik yang ada di luar, seperti Jawa,” katanya.

Perjalanan Rahayu tak lepas dari kiprahnya di dunia pendidikan. Sejak 2004, ia mendirikan sekolah nonformal, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Binar Warga. 

Lembaga ini menyediakan program pendidikan anak usia dini, program kesetaraan bagi anak yang tidak lulus SD, SMP, SMA, hingga keaksaraan fungsional bagi yang belum bisa membaca dan menulis.

Kementerian Pendidikan menganjurkan pengelola PKBM untuk memberikan keterampilan sebagai bekal untuk para lulusan, Rahayu langsung mengusulkan pelatihan membatik.

“Saya ingin di Nunukan ada batik sendiri. Dan alhamdulillah dijabah oleh Allah SWT,” tuturnya.

Ia pun mendatangkan narasumber dari Tarakan untuk mengajarkan teknik batik cap dan batik tulis kepada para peserta didik. Seiring waktu, Rahayu juga kerap mengikuti pelatihan, sosialisasi, dan bimbingan teknis tentang batik di berbagai daerah.

Perjalanannya membawanya hingga ke Solo dan Yogyakarta. Di Solo, ia belajar dengan mengunjungi Pasar Klewer. Di Yogyakarta, ia berburu referensi di Pasar Beringharjo. 

i tangan perempuan perintis ini, batik menjadi simbol kemandirian dan kebanggaan daerah.

(*)

PENGRAJIN BATIK - Rahayu Suriani, perintis batik khas Nunukan, menunjukkan hasil karya batik bermotif perpaduan etnis Dayak, Senin (16/2/2026). Sejak 2017, perempuan asal Bima ini mengembangkan batik lokal sebagai identitas budaya wilayah perbatasan.
i tangan perempuan perintis ini, batik menjadi simbol kemandirian dan kebanggaan daerah. (*) PENGRAJIN BATIK - Rahayu Suriani, perintis batik khas Nunukan, menunjukkan hasil karya batik bermotif perpaduan etnis Dayak, Senin (16/2/2026). Sejak 2017, perempuan asal Bima ini mengembangkan batik lokal sebagai identitas budaya wilayah perbatasan. (TribunKaltara.com/Fatimah Majid)

“Tujuan saya cuma satu, belajar membatik,” katanya.

Kini, usaha batiknya dikerjakan di lantai dua rumahnya. Ia dibantu sekitar delapan orang pengrajin, sebagian merupakan muridnya sendiri. 

Salah satunya telah belajar sejak Paket A di PKBM yang ia dirikan selama sembilan tahun dan kini dipercaya menjaga sekaligus mengerjakan produksi.

Namun keterbatasan modal membuatnya belum bisa mempekerjakan semua pengrajin secara penuh. 

“Biasanya kalau ada pesanan banyak, kami panggil empat orang saja. Karena kami terkendala di pembayaran karyawan,” ujarnya.

Menariknya, batik Nunukan memiliki corak khas yang memadukan motif dari empat etnis Dayak, yakni Dayak Lundayeh, Langalam/Tagalan, Tahol/Taghol, Tidung, dan Bulungan yang disingkat Lulantatibu.

Motif-motif tersebut digabungkan menjadi identitas baru yang disebutnya satu-satunya di Indonesia.

Selain itu, Rahayu juga memanfaatkan pewarna alam dari rebusan daun dan kulit kayu untuk menghasilkan warna-warna alami yang khas.

Harga batik produksinya berkisar Rp400 ribu hingga Rp600 ribu per lembar kain atau baju, tergantung motif dan penggunaan furing. Omsetnya kini mencapai belasan juta rupiah per bulan.

Pelanggan batiknya datang dari berbagai daerah, mulai dari  Kendari, Sulawesi Selatan, hingga Kota Bima, Bandung, dan Yogyakarta.

Tak hanya fokus pada produksi, Rahayu juga menularkan keterampilan membatik kepada guru-guru di tiga PAUD binaannya. 

Semua guru diwajibkan bisa membatik. Ia memberikan kain putih untuk dikerjakan hingga tahap pewarnaan.

Bagi Rahayu Suriani, batik bukan sekadar usaha. Lebih dari itu, batik adalah jalan untuk memberdayakan masyarakat sekaligus membangun identitas budaya di wilayah perbatasan.

Dari Kabupaten Nunukan, Rahayu Suriani membuktikan bahwa batik tak hanya milik Jawa. Di tangan perempuan perintis ini, batik menjadi simbol kemandirian dan kebanggaan daerah.

(*)

Penulis: Fatimah Majid

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.