TRIBUNTRENDS.COM - Usia senja tak selalu berarti masa beristirahat. Bagi Sukirno, seorang lansia berusia 80 tahun, hari-hari justru dihabiskan untuk bertahan hidup dengan cara sederhana namun penuh ketabahan. Setiap pagi, tepat pukul 06.00 WIB, ia sudah berjalan kaki menuju sudut TPU Semper, tempat ia mencari rezeki hingga sore hari.
Di sebuah gubuk kecil di tepi area pemakaman, Sukirno duduk menunggu. Tangannya terlipat di pangkuan, matanya mengamati peziarah yang datang silih berganti. Ia menanti satu hal: dipanggil untuk membacakan doa di atas pusara.
Sukirno mengaku telah menjalani pekerjaan ini sekitar tiga tahun terakhir. Kondisi fisik yang semakin menua membuatnya tak lagi sanggup melakukan pekerjaan berat. Membacakan doa menjadi satu-satunya kemampuan yang bisa ia andalkan untuk bertahan hidup.
“Setiap hari saya standby dari jam enam pagi sampai jam lima sore. Kalau ada yang manggil, saya bacakan doa. Kalau sepi, ya nunggu saja,” ujarnya.
Baca juga: Ketegaran Ashar Ardianto, Ayah Sheyna Terharu Banyak yang Peduli, Berterima Kasih, Doa untuk Istri
Tak ada kepastian penghasilan. Dalam sehari, ia bisa mendapat empat panggilan, satu panggilan, bahkan tak jarang pulang tanpa membawa uang sama sekali. Beberapa peziarah memberinya imbalan, sebagian lainnya tidak.
“Kadang ada yang kasih, kadang enggak. Saya enggak maksa,” tuturnya pelan.
Untuk satu kali doa, Sukirno menghabiskan waktu sekitar lima menit. Jika diminta lebih panjang, waktunya bisa mencapai sepuluh menit. Uang yang diterimanya berkisar antara Rp 25.000 hingga Rp 50.000, tanpa tarif resmi.
Penghasilan tersebut digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Tak jarang, ia hanya mampu membawa pulang beras satu hingga dua liter dalam sehari. Namun, Sukirno memilih tetap bekerja ketimbang hanya berdiam diri di rumah tanpa penghasilan.
Baca juga: Konten Kuburan Rekayasa Berujung Ricuh, Kreator Horor Komedi Diamankan Polisi Cianjur
“Kalau enggak kerja, ya enggak bisa makan,” katanya sederhana.
Fenomena jasa pembaca doa di kuburan merupakan praktik sosial yang masih jamak dijumpai di Indonesia. Selain bernilai spiritual, praktik ini juga menjadi bagian dari ekonomi informal bagi warga sekitar pemakaman.
Di tengah sunyi pusara dan langkah peziarah yang datang silih berganti, Sukirno menjalani hari-harinya dengan kesabaran. Di usia yang tak lagi muda, ia tetap memanggul beban hidup dengan keteguhan, berharap setiap hari ada rezeki yang cukup untuk sekadar menyambung hidup.
Tribun Jatim | Ignatia | TribunTrends.com | Afif Muhammad