Tribunlampung.co.id, Lampung Tengah - Wulan berangkat sejak pagi buta menuju Pasar Bandar Jaya, Kecamatan Terbanggi Besar, Kabupaten Lampung Tengah.
Udara masih sejuk ketika ia melangkah menyusuri lorong-lorong pasar yang mulai dipadati pembeli.
Ibu rumah tangga itu pun larut dalam keramaian, berburu berbagai kebutuhan dapur, mulai dari bumbu masak, ayam segar, hingga aneka sayur mayur.
Sesekali ia berhenti untuk menawar, memastikan setiap bahan yang dibeli dalam kondisi terbaik.
Hari ini, Wulan memang sengaja berbelanja lebih banyak dari biasanya.
Baca juga: Jelang Ramadan, Pasar Bandar Jaya Lampung Tengah Dipadati Pemburu Bahan Pokok
Ia ingin menyiapkan persediaan makanan untuk sahur dan berbuka puasa Ramadan tahun ini, agar kebutuhan keluarga tetap tercukupi di tengah meningkatnya aktivitas menjelang bulan suci.
"Sekalian cari stok untuk puasa. Kalau mau puasa kan biasanya masak hidangan yang enak, sekalian untuk sahur," ujarnya sambil tersenyum, Senin (16/2/2026).
Bagi Wulan, Ramadan bukan sekadar ibadah menahan lapar dan dahaga, melainkan juga momen menghadirkan hidangan terbaik bagi keluarga.
Ia juga menyebut tradisi di kampungnya, memasak dalam jumlah besar untuk dibagikan ke musala pada awal puasa, yang akrab disebut nasi berkat.
Fenomena belanja dalam jumlah besar ini terlihat hampir di setiap sudut pasar.
Beberapa pembeli bahkan tampak menenteng beras kemasan 10 kilogram, minyak goreng satu dus, hingga telur dalam jumlah banyak. Kebutuhan pokok seperti beras, minyak, telur, ayam, dan daging menjadi komoditas yang paling diburu.
Di tengah pasar, lapak Neli, pedagang daging sapi, tak pernah sepi. Puluhan potongan daging sapi berjejer rapi, menggantung di sepanjang gang sempit tempat ia berjualan. Pembeli silih berganti datang, sebagian sudah menjadi langganan tahunan menjelang Ramadan.
"Alhamdulillah, dari tahun ke tahun menjelang puasa banyak masyarakat yang belanja daging. Sangat wajar ketika menyambut puasa dengan menyajikan hidangan terbaik, terutama daging," kata Neli.
Saat ini, harga daging sapi berada di kisaran Rp 130 ribu per kilogram dan relatif stabil sejak awal Februari 2026.
Neli memperkirakan harga masih bertahan hingga awal puasa, meski berpotensi naik mendekati Idul Fitri. Meski permintaan meningkat, ia mengaku tidak kesulitan memperoleh stok.
Beberapa meter dari lapaknya, Yuli, pedagang bumbu dapur, sibuk melayani pembeli yang mengantre cabai dan bawang.
Satu nampan cabai caplak bahkan habis diborong satu pelanggan. Menurut Yuli, lonjakan pembelian sudah terasa sejak sepekan terakhir. Harga cabai merah kini menyentuh Rp60 ribu per kilogram, naik dari Rp55 ribu.
Cabai rawit berada di angka Rp65 ribu per kilogram, juga mengalami kenaikan.
Bawang merah naik cukup signifikan menjadi Rp40 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp30 ribu, sementara bawang putih justru turun menjadi Rp32 ribu per kilogram.
Kenaikan juga terjadi pada telur yang kini Rp30 ribu per kilogram, serta ayam potong yang hampir menyentuh Rp40 ribu per kilogram.
Ayam kampung bahkan berada di kisaran Rp85-90 ribu per kilogram. Minyak goreng kemasan satu liter dijual Rp19 ribu per liter, naik dari Rp17 ribu.
Untuk kebutuhan pokok lainnya, beras medium dijual Rp147 ribu per 10 kilogram, sedangkan beras premium Rp155 ribu per 10 kilogram.
Keduanya mengalami kenaikan dibanding harga sebelumnya. Meski sejumlah harga merangkak naik, semangat belanja masyarakat tak surut.
Ramadan selalu menghadirkan dinamika tersendiri dalam perputaran ekonomi pasar tradisional.
Permintaan meningkat, stok harus terjaga, dan pedagang berharap harga tetap stabil agar daya beli masyarakat tidak menurun.
"Kalau soal harga kan bukan kita yang menentukan, kita ngikut dari agen atau pemasok. Kalau harganya naik kadang konsumen banyak yang tidak jadi beli,"
"Jadi kalau harganya stabil, justru lebih baik karena konsumen tidak mengeluh, dan kami masih tetap bisa mendapat keuntungan," ujarnya.
Di Pasar Bandar Jaya, Ramadan bukan hanya tentang ibadah spiritual, tetapi juga tentang denyut ekonomi rakyat.
Dari tangan ke tangan, dari timbangan ke kantong belanja, dari tawar-menawar hingga senyum puas pembeli, semuanya menjadi bagian dari tradisi tahunan menyambut bulan penuh berkah.
Keramaian ini kemungkinan masih akan terus meningkat dalam beberapa hari ke depan. Lorong pasar akan semakin sesak, antrean semakin panjang, dan aroma bumbu dapur semakin tajam menggoda.
"Semoga rezeki lancar, harga tetap bersahabat, dan Ramadan dapat dijalani dengan tenang, penuh rasa syukur, serta hidangan terbaik di setiap meja sahur dan berbuka," tutup Yuli.
(Tribunlampung.co.id/Fajar Ihwani Sidiq)