Oleh: Aldo el-Haz Kaffa
CEO Kaffa Business Coach: The Business School for Mindset, Leadership & Entrepreneurial Excellence
Setiap kepemimpinan publik selalu dimulai dengan harapan. Harapan bukan sekadar slogan, bukan pula sekadar estetika komunikasi politik, tetapi kontrak moral antara mandat rakyat dan amanah kekuasaan.
Ketika pasangan Iqbal-Dinda memulai kepemimpinan dengan semboyan NTB Makmur Mendunia, yang lahir bukan hanya ekspektasi administratif, melainkan ekspektasi peradaban: bahwa daerah ini tidak sekadar berjalan, tetapi melompat; tidak sekadar tumbuh, tetapi bertransformasi.
Setahun adalah waktu yang cukup untuk membaca arah, meski belum cukup untuk menilai akhir. Dalam horizon kebijakan publik, satu tahun pertama adalah fase fondasi: membentuk arsitektur, menyusun mesin, dan menentukan irama kerja. Di titik inilah evaluasi bukan dimaksudkan sebagai vonis, melainkan sebagai cermin korektif agar energi tidak terbuang ke arah yang salah.
Tulisan ini berangkat dari satu niat: menghadirkan telaah yang utuh, berimbang, kritis, namun konstruktif agar pembaca bukan hanya memahami situasi, tetapi ikut merasakan urgensi perbaikan dan kemungkinan lompatan.
Setiap pemimpin menerima dua paket sekaligus: warisan masalah dan warisan peluang. Tidak ada ruang kepemimpinan yang steril dari beban masa lalu. Yang membedakan hanyalah bagaimana beban itu dikelola menjadi bahan bakar perubahan. Ketika kepemimpinan dimulai, beberapa realitas objektif sudah berada di meja:
Semboyan “Makmur Mendunia” memiliki bobot konseptual yang berat. Jika diterjemahkan secara serius, ia menuntut setidaknya dua indikator utama:
Bahaya terbesar dari semboyan besar adalah reduksi makna menjadi ornamen retorika. Ketika slogan hidup di baliho tetapi tidak hidup di dashboard kinerja, di situlah jarak antara janji dan realitas mulai melebar. Karena itu, slogan harus diturunkan menjadi indikator, target, peta jalan (roadmap), dan kontrak kinerja terbuka.
Baca juga: Deteriorasi Bahasa Sasak sebagai Bahasa Ibu
Capaian Awal yang Patut Diapresiasi
Keadilan analisis menuntut pengakuan terhadap hal-hal yang bergerak maju. Dalam tahun pertama, beberapa hal patut dicatat sebagai modal:
1. Konsolidasi Arah dan Branding Wilayah: Upaya memperkuat identitas daerah di tingkat nasional dan global adalah langkah penting. Branding wilayah bukan sekadar promosi—ia adalah pintu masuk investasi, pariwisata, dan jejaring kolaborasi.
2. Pembukaan Ruang Kolaborasi: Kemitraan dengan pelaku usaha, komunitas, dan jejaring diaspora mulai diperluas. Ini krusial, karena pembangunan modern tidak bisa berbasis pemerintah semata.
3. Dorongan Digitalisasi Layanan: Langkah menuju tata kelola digital memberi sinyal pergeseran dari birokrasi prosedural ke birokrasi berbasis sistem meski masih perlu pendalaman kualitas integrasi. Apresiasi penting bukan untuk memuji, tetapi untuk menegaskan: fondasi ada sekarang perlu percepatan dan pendalaman.
Kritik Konstruktif: Koreksi Mendesak Diperlukan
Kritik yang jujur adalah bentuk dukungan paling serius. Tanpa kritik, kekuasaan mudah terjebak pada ilusi keberhasilan.
1. Risiko Seremonialisme Pembangunan: Masih tampak kecenderungan program yang kuat di sisi peresmian, lemah di sisi keberlanjutan. Banyak kegiatan terlihat, tetapi dampak jangka panjang belum selalu terukur.
Koreksi: Setiap program wajib punya indikator dampak 3–5 tahun. Publikasi harus diikuti audit hasil, bukan hanya audit kegiatan.
2. Ekonomi Rakyat Belum Menjadi Mesin Utama: Usaha mikro dan wirausaha muda sering disentuh program, tetapi belum dijadikan tulang punggung strategi ekonomi.
Koreksi: Fokus pada ekosistem, bukan bantuan sporadis. Inkubasi usaha berbasis mentor, pasar, dan pembiayaan bukan hanya pelatihan.
3. Reformasi Birokrasi Belum Menyentuh Kultur: Struktur berubah lebih cepat daripada mentalitas. Tanpa perubahan kultur kinerja, sistem baru hanya akan diisi perilaku lama.
Koreksi: Terapkan kontrak kinerja individu berbasis output. Beri insentif nyata untuk inovasi dan efisiensi. Sanksi tegas untuk stagnasi dan manipulasi laporan.
4. Data Belum Menjadi Panglima Kebijakan: Kebijakan masih sering terasa berbasis asumsi, bukan analitik mendalam.
Koreksi: Bangun pusat data terintegrasi lintas dinas. Wajibkan setiap kebijakan utama memiliki dasar data terbuka.
Agar tantangan berubah menjadi pencapaian substantif berkelanjutan, dibutuhkan langkah operasional, bukan sekadar normatif.
A. Bangun Mesin Wirausaha Daerah
Langkah konkret: Program 10.000 wirausaha naik kelas berbasis portofolio, bukan proposal. Inkubator sektor unggulan: pangan olahan, agro-teknologi, pariwisata berbasis pengalaman, ekonomi kreatif digital. Skema pembelian pemerintah untuk produk lokal berkualitas.
B. Revolusi Kompetensi, Bukan Sekadar Sertifikasi
Langkah konkret: Kurikulum keterampilan berbasis proyek nyata. Kompetisi portofolio tahunan tingkat daerah. Kolaborasi industri–kampus–komunitas secara operasional.
C. Dashboard Kinerja Terbuka
Langkah konkret: Portal publik indikator makmur-mendunia: investasi, ekspor, wirausaha baru, produktivitas. Update berkala, dapat diakses publik. Ruang umpan balik warga berbasis data.
D. Zona Akselerasi Investasi dan Inovasi
Langkah konkret: Kawasan prioritas dengan perizinan super ringkas. Insentif bagi investor yang membangun rantai nilai lokal. Syarat transfer pengetahuan dan pelibatan talenta lokal.
Dukungan Nyata: Kritik Harus Disertai Partisipasi
Pembangunan bukan proyek penguasa ia proyek kolektif. Kritik tanpa partisipasi adalah kenyamanan moral tanpa kontribusi. Yang bisa dilakukan masyarakat, akademisi, dan pelaku usaha: Menyumbang model bisnis, bukan hanya opini. Membentuk komunitas mentor wirausaha. Mengawal anggaran berbasis literasi data. Menghidupkan budaya evaluasi, bukan sekadar komentar.
Kepemimpinan adalah Kesediaan untuk Dikoreksi
Setahun pertama adalah cermin arah. Bukan akhir penilaian, tetapi awal pematangan. Semboyan besar menuntut keberanian besar, terutama keberanian untuk menerima koreksi dan memperbaiki desain. Makmur Mendunia hanya akan menjadi nyata bila: slogan turun menjadi sistem, visi turun menjadi metrik, dan janji turun menjadi disiplin eksekusi.
Kepemimpinan yang kuat bukan yang paling banyak dipujitetapi yang paling cepat belajar, paling terbuka dikritik, dan paling konsisten memperbaiki diri. Di situlah harapan berubah menjadi kenyataan. Di situlah tantangan berubah menjadi pencapaian. Di situlah mandat berubah menjadi jejak. Dan sejarah pada akhirnyahanya mencatat mereka yang bekerja melampaui retorika.