Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 12 SMA Halaman 231-232 Kurikulum Merdeka
Rizka Pratiwi Utami February 16, 2026 04:27 PM

SRIPOKU.COM - Berikut ini kunci jawaban Bahasa Indonesia Kelas 12 Halaman 231-232 Kurikulum Merdeka.

1. Jurnal Membaca

Menggali inspirasi tentang fenomena sosial-kemasyarakatan melalui buku.

Cerpen Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis digolongkan sebagai sastra kanon atau sastra adiluhung yang patut dibaca sebagai bahan pembelajaran sastra.

Di dalam cerpen ini terdapat dialog imajiner antara Tuhan dengan Haji Saleh, seorang tokoh agama yang seumur hidupnya hanya beribadah dan beribadah.

"..kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua.

Sedang harta bendamukaubiarkan orang lain yang mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras.

Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas.

Kau lebih suka beribadah saja, karena beribadah tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang.

Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal di samping beribadah.

Bagaimana engkau bisa beramal kalau engkau miskin.

Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan menyembahku saja. Tidak..."

Baca juga: Soal PTS/STS Bahasa Indonesia Kelas 3 SD Semester 2 Kurikulum Merdeka Tahun 2026 Lengkap Pembahasan

Jawaban Apresiasi Cerpen dalam bentuk esai:

Cerpen Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis merupakan salah satu karya sastra penting dalam khazanah sastra Indonesia yang mengangkat kritik tajam terhadap cara beragama masyarakat.

Cerpen ini mengisahkan kehidupan seorang penjaga surau tua di Minangkabau yang dikenal sebagai Kakek, yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri pada ibadah tanpa diimbangi kepedulian terhadap kehidupan sosial.

Melalui cerita ini, A.A. Navis mengajak pembaca merenungkan makna keimanan yang tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga harus diwujudkan dalam tindakan sosial.

Konflik cerita muncul ketika Ajo Sidi menyampaikan kisah tentang Haji Saleh kepada Kakek, yang menggambarkan seseorang rajin beribadah tetapi justru dimurkai Tuhan karena mengabaikan tanggung jawab sosial dan kerja keras.

Kisah ini mengguncang batin Kakek hingga menyadarkannya bahwa selama ini ia telah memahami agama secara sempit.

Akhir cerita yang tragis, ditandai dengan bunuh diri Kakek dan robohnya surau, menjadi simbol kehancuran nilai religius yang tidak diimbangi dengan amal sosial.

Melalui cerpen ini, A.A. Navis menyampaikan kritik sosial yang masih relevan, bahwa ibadah sejati harus berjalan seiring dengan kepedulian, kerja, dan tanggung jawab terhadap sesama.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.