Tradisi Ruwah dan Perang Ketupat Ramaikan Bangka Barat Jelang Ramadan
Asmadi Pandapotan Siregar February 16, 2026 05:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Tradisi Ruwah pada bulan Sya’ban 1447 Hijriah kembali digelar masyarakat di berbagai wilayah Kabupaten Bangka Barat ( Babar ), Provinsi Kepulauan Bangka Barat ( Babar ), sebagai rangkaian menyambut Ramadan. Ruwahan merupakan tradisi turun temurun dilakukan pada pertengahan bulan Sya'ban atau 15 hari sebelum bulan Ramadan.

Kegiatan bernuansa keagamaan dan budaya itu diisi khatam Al-Qur’an, khitanan massal, doa bersama, hingga tradisi nganggung.

Salah satu pelaksanaan Sedekah Ruwah berlangsung di Desa Berang, Minggu (16/2/2026).

Kepala Desa Berang, Beni Bastari mengatakan, Tradisi Ruwah, telah ditetapkan sebagai agenda tahunan pemerintah desa dengan sejumlah rangkaian kegiatan.

“Ada dua kegiatan utama dalam Sedekah Ruwah di Desa Berang. Pertama khatam Al-Qur’an. Tahun ini terdapat 23 khataman Al-Qur’an. Selain itu, kami juga melaksanakan khitanan massal, dan Alhamdulillah tahun ini diikuti 16 peserta,”kata Beni Bastari, Senin (16/2/2026).

Beni menjelaskan, rangkaian kegiatan diawali dengan khatam Al-Qur’an, dilanjutkan dengan tradisi nganggung.

“Proses nganggung ini, setiap warga membawa hidangan atau makanan dari rumah masing-masing ke masjid. Kemudian kita berdoa bersama, makan bersama, dan dilanjutkan ramah tamah serta silaturahmi ke rumah-rumah masyarakat," terangnya.

Baca juga: Mantan Direktur RSUD Junjung Besaoh Diduga Dikeroyok, Satu Oknum Brigpol Diamankan

Baca juga: 250 Obor Meriahkan Pawai Sambut Ramadan 1447 Hijriah di Arung Dalam Bateng

Ia menambahkan, pemerintah desa juga memberikan bingkisan kepada peserta khatam Al-Qur’an, peserta khitanan massal, guru ngaji, tokoh masyarakat, serta para donatur.

"Kami memberikan bingkisan kepada seluruh peserta khatam Al-Qur’an berupa kitab suci dan baju muslim. Kemudian pemerintah desa juga menggratiskan biaya khitanan massal. Masing-masing peserta khitanan juga mendapatkan tas dan baju. 

Selain itu, kami juga memberikan bingkisan kepada guru ngaji, tokoh masyarakat, dan para donatur sebagai bentuk penghargaan dan terima kasih,” jelasnya.

Menurut Beni, pelaksanaan sedekah Ruwah tidak hanya bersumber dari dana desa, tetapi juga mendapat dukungan dari para donatur.

“Kami banyak dibantu pihak ketiga dan para donatur, selain dari dana desa,” katanya.

Ia menegaskan, Tradisi Ruwah akan terus dilestarikan karena merupakan bagian dari kearifan lokal yang mengandung nilai keagamaan dan budaya.

“Ini adalah kearifan lokal dan tradisi yang akan terus kami laksanakan, karena Ruwah mengandung nilai-nilai keagamaan, nilai-nilai Islam, dan juga nilai kebudayaan,” harapnya.

Selain di Desa Berang, Tradisi Ruwah juga dilaksanakan di Desa Peradong dan desa lainnya di Kabupaten Bangka Barat, menggelar ruwah menjelang bulan Ramadan.

Perang Ketupat

Festival Perang Ketupat, menjadi agenda wisata di Kecamatan Tempilang, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung. Acara ini rutin dilaksanakan setiap tahunnya di bulan ruwah atau Sya’ban, sebelum Ramadan.

Bupati Kabupaten Bangka Barat, Markus, mengatakan, tradisi Perang Ketupat menjadi ritual adat tahunan yang terus dilestarikan oleh masyarakat Tempilang. 

"Ini mengandung makna mendalam sebagai simbol rasa syukur, tolak bala, serta ajang mempererat tali silaturahmi antarwarga," kata Markus.

Ia menambahkan, Perang Ketupat telah diakui secara nasional sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBI). 

Penetapan itu dilakukan pada tahun 2014 bersama tari kedidi, adat taber kampung di 2015 dan tari serimbang tahun 2019 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

"Adat istiadat sudah turun temurun dilakukan mayarakat Tempilang, memberikan apresiasi telah melestarikan ini. Kita harapkan event ini dapat lebih terkenal lagi di kancah nasional," harapnya.

Secara historis, menurutnya, perang ketupat pertama kali dilaksanakan pada era 1800-an di kawasan Benteng Kota Tempilang. 

Hingga kini, Perang Ketupat tetap menjadi agenda budaya yang dinanti setiap tahun, sekaligus daya tarik wisata yang memperkenalkan kearifan lokal Tempilang kepada masyarakat luas.

"Ini sebagai daya tarik wisata yang datang ke Bangka Barat. Karena banyak istiadat di Bangka Barat ini, kami sangat mensyukuri dan mendukung, karena ini bentuk dukungan kami dalam membangun, Bangka Barat," lanjutnya.(Bangkapos.com/Riki Pratama)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.